Oleh : Yuditeha
Tidak ada yang benar-benar pulang di Kampung Ngunut Lor malam itu. Jam di menara musala memang menunjuk angka delapan, tapi jarum detik seakan-akan ragu berjalan. Angin lembab dari arah pesawahan menyusup lewat celah papan warung kopi milik Bu Santi, membuat cangkir-cangkir seng di rak atas bergemetar kecil seolah sedang menggosip pelan.
Seorang lelaki muda berdiri di depan warung itu. Gilang. Umurnya dua puluh tujuh, tapi kerutan di dahi membuatnya tampak lebih dewasa. Ia memegang sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan. Sedari tadi ia cuma memutarnya di antara jari telunjuk dan jempol, seperti anak kecil yang suka menggulung-gulung rambut ibunya saat mengantuk.
- Iklan -
Malam itu rupanya lupa bagaimana caranya jadi malam. Tidak terlalu gelap, tidak pula cukup terang. Awan tipis menggantung di langit serupa cucian yang enggan kering, dan suara kodok dari arah kali hanya sesekali muncul. Kampung Ngunut Lor punya cara sendiri memaknai waktu. Di tempat itu, malam bukan soal jam, tapi soal rasa, apakah kau ingin tinggal lebih lama, atau justru ingin segera dilupakan.
Warung Bu Santi satu-satunya tempat yang lampunya tetap menyala setelah adzan Isya. Bukan karena ia membangkang, tapi karena merasa tidak perlu ikut aturan yang dibuat oleh orang-orang yang bahkan tak pernah membeli apa pun darinya. Ia menyeduh kopi dengan tangan kanan, menyebar gosip dengan tangan kiri. Ia tahu siapa yang berutang, siapa yang pura-pura lupa, dan siapa yang baru kembali dari pelarian.
Di seberang jalan, musala kampung baru saja selesai digunakan. Tikar-tikar digulung dan ditaruh di rak bambu, dan sandal-sandal dikembalikan ke tempatnya. Tidak ada ceramah. Tidak ada tahlilan. Hanya beberapa anak muda yang tadi salat Isya, lalu menghilang satu-satu.
“Ndak nyalain rokokmu, Lang?” tanya Bu Santi dari balik tirai plastik yang digantung seadanya.
Gilang tidak menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, lalu duduk di bangku kayu yang kaki-kakinya timpang sebelah. Dari warung kecil itu, ia bisa melihat jalan kampung yang berbelok tajam, lampu-lampunya menggantung samar.
Bu Santi meletakkan gelas kopi di meja. Uapnya naik pelan, wangi, tapi tetap terasa dingin di dada.
“Lama gak ke sini. Kukira kamu pindah ke kota.”
Gilang tersenyum tipis. “Kota gak ada yang bisa dipercaya, Bu.”
“Lah, sini juga?”
“Makanya saya pulang.”
Di pojok warung, ada radio tua yang sesekali berbunyi sendiri. Tidak ada yang tahu stasiun mana yang masih hidup. Kadang suara angin, kadang lagu pop lama yang diputar terlalu cepat, kadang suara orang tertawa. Gilang menduga itu suara para pengangguran yang ketiduran di pos ronda. Tapi malam ini suaranya lain. Mirip orang yang sedang mengigau, pelan dan melantur.
Dari musala, Pak Dukuh keluar sambil membawa tasbih besar. Jalannya lambat, jenggotnya bergoyang pelan. Ia tidak menyapa siapa-siapa, tapi semua orang menunduk ketika ia lewat. Termasuk Bu Santi.
“Masih dingin kampung ini,” ujar Gilang. “Tapi hawanya bukan seperti dulu.”
Dulu, sebelum semuanya jadi sunyi begini, musala itu ramai bukan main. Anak-anak mengaji sampai lupa waktu, orang-orang tua main dam-daman sambil tertawa keras. Tapi semua berubah sejak satu peristiwa yang tak pernah dibicarakan, hanya disinggung lewat bisik-bisik dan tatapan mata. Sejak itu, musala lebih sering kosong, dan kalaupun ada yang datang, mereka hanya numpang ruku dan buru-buru pergi, seolah takut sujud terlalu lama dan mendengar sesuatu dari lantai.
Gilang tahu betul peristiwa itu adalah simpul kusut yang tidak pernah benar-benar dibuka. Setiap kali ia pulang, ia merasa sedang berjalan di atas cerita yang ditutup rapat dengan daun pisang dan janji keluarga. Ayahnya—almarhum Pak Lurah—adalah salah satu yang menekan warga untuk tidak memperpanjang masalah. Gilang tidak pernah merasa bersalah. Tapi ia juga tidak pernah benar-benar tenang.
“Kamu tahu kenapa?” tanya Bu Santi.
Gilang tidak menjawab. Ia tahu, tapi tidak ingin menyebutnya. Nama itu. Peristiwa itu. Yang membuat satu rumah di ujung gang dikosongkan tanpa pernah dijual. Yang membuat pos ronda tak lagi dipakai sejak kejadian itu. Yang membuat para lelaki tak pernah bicara keras-keras kalau sudah pukul delapan malam.
“Gilang.” Suara pelan datang dari samping warung.
Ia menoleh. Sosok itu berdiri tegak, mengenakan kaus oblong dan sarung dililit asal-asalan. Wajahnya tirus, matanya cekung, dan di bawah bibirnya ada bekas luka gores.
“Kamu pulang juga akhirnya.”
Gilang berdiri. Mereka saling menatap. Hening cukup lama hingga suara jangkrik terdengar mendenging.
“Rama,” kata Gilang pelan.
“Masih ingat?”
“Masih. Bekas luka di bibirmu belum hilang.” Rama tertawa pendek.
“Tapi kamu sudah lupa kenapa aku luka?”
Gilang mengangguk pelan. Bukan karena lupa, tapi karena tak ingin mengingat. Malam itu, lima tahun lalu, mereka berdua berada di musala yang sama. Salat, tadarus, dan setelahnya, satu suara anak kecil yang memekik di lorong sandal.
Tidak ada yang bisa dibuktikan malam itu. Tapi semua orang tahu siapa yang terakhir terlihat bersama anak itu. Dan semua tahu siapa yang tidak muncul keesokan harinya. Rama menghilang.
“Orang bilang kamu pindah ke luar negeri,” ujar Gilang. “Ada juga yang bilang kamu ditampung di pondok rehabilitasi.”
Rama duduk di bangku sebelah. “Aku tinggal di loteng musala selama empat tahun. Hanya keluar malam hari.”
Gilang melirik tajam. “Kamu ngaku?”
“Ngaku apa?”
“Kamu tahu maksudku.” Rama mengangkat bahu.
“Kadang orang kampung ini lebih suka mitos ketimbang fakta. Lebih suka membenci bayangan daripada menyentuh cahaya.”
“Kamu masih suka omong kosong.”
“Dan kamu masih pura-pura suci, Gilang.”
Udara terasa lebih pekat. Kopi di gelas sudah dingin. Dari arah rumah Pak Dukuh, ada suara pintu digeser. Seseorang mengintip lewat celah jendela.
“Aku cuma ingin lihat rak tikar itu,” kata Rama. “Yang terakhir aku taruh, lima tahun lalu. Tikar paling jelek, bolong di ujung. Aku ingin tahu, masih ada atau sudah dibakar dalam rapat warga.”
“Buat apa kau mau lihat?”
Rama menoleh. Tatapannya lurus dan anehnya bersih. “Tikar itu tahu siapa yang bohong malam itu.”
Gilang mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Semua sandal bisa dicuci. Semua sajadah bisa dilipat. Tapi tikar, ia menyimpan bau tubuh. Bekas lutut. Bekas air mata. Tikar tidak tahu caranya berdusta.”
Mereka berdua berdiri. Langkah pelan ke arah musala. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang mengikuti. Bahkan angin seperti enggan bergerak.
Lampu musala berkedip sebentar, lalu mati lagi. Gilang mengeluarkan senter dari saku. Mereka masuk dari pintu samping. Rak bambu tempat tikar ditaruh masih di sana. Tiga lapis. Di lapisan paling bawah, ada tikar tua berwarna biru gelap. Sudutnya bolong, dan di bagian tengah ada bercak kuning yang sudah pudar.
Rama jongkok, menyentuh tikar itu. Mengendus pelan.
“Masih bau,” gumamnya. “Bau minyak kayu putih dan sabun cuci murahan.”
Gilang berdiri mematung.
“Gilang,” suara Rama pelan. “Kamu taruh aku di sini malam itu. Kamu lempar aku ke lubang fitnah. Dan kamu pulang dengan wajah bersih. Mungkin itu hasil yang kamu pelajari dari ayahmu.”
“Diam!” Gilang melangkah maju. “Kamu—”
“Ssssst.” Rama menekan jarinya ke bibir. “Kalau kamu marah, warga bisa datang. Dan kali ini, tak ada yang bisa kamu suap.”
Gilang menggertakkan gigi. Tapi tak berani bicara.
Terdengar suara sandal berdecit di luar musala. Seseorang masuk. Bayangannya besar. Langkahnya mantap. Bersamaan itu lampu kembali menyala, dan Gilang melihat wajah itu. Pak Dukuh.
“Kalian sedang apa di sini?” tanyanya datar.
Gilang tertegun. “Saya… saya cuma mau lihat tikar lama.”
Pak Dukuh menatap tajam. Lalu ia menunjuk tikar biru di tangan Rama.
“Itu milik almarhum Sabar. Anak kecil itu. Dia selalu duduk di situ. Malam terakhir, dia bilang dia lihat seseorang sembunyi di rak itu. Tapi dia takut bicara.”
Rama menoleh ke Gilang.
Gilang ingin bicara, tapi lidahnya kaku. Matanya berair.
Pak Dukuh menghela napas. “Kita semua tahu, Gilang. Tapi kita diam. Karena ayahmu donatur utama pembangunan musala ini.”
Gilang mundur. Punggungnya menyentuh dinding.
“Dan sekarang, tikar itu akan dibakar. Bukan karena bau. Tapi karena ia tahu terlalu banyak.”
Gilang berdiri pelan, tangannya gemetar. Rak bambu itu seakan menyimpan sesuatu yang lebih berat dari tikar tua. Ia melangkah mendekat, menatap tikar itu lama sekali. Di sana, bekas lipatan, bau tubuh, dan serpih ingatan menyeruak bagai uap yang keluar dari luka lama. Tapi ia tetap diam. Bahkan ketika air matanya jatuh tanpa alasan yang bisa ia pahami sendiri.
Pak Dukuh masih berdiri di ambang pintu musala, menatap Gilang dengan wajah kosong. Tidak marah. Tidak iba. Hanya wajah seseorang yang tahu, bahwa kebenaran di kampung ini tidak pernah diukur dari bukti, tapi dari siapa yang cukup kuat untuk membuat orang lain diam.
Rama berlalu, samar terdengar suara sandal beradu dengan kerikil. Pak Dukuh mengikutinya pergi. Gilang terduduk. Sendirian. Lampu musala berkedip sekali lagi, sebelum akhirnya mati total. Kali itu untuk selamanya.***
Yuditeha, Penulis yang tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2




