Oleh: Dhonni Dwi Prasetyo
Ketika kita berdiskusi mengenai masa depan sebuah bangsa, maka secara otomatis kita akan terhenti pada satu titik sentral, yakni pendidikan. Dan tentu saja kita semua pasti mengetahui bahwa di dalam jantung pendidikan itu sendiri, bersemayam sosok yang kita sebut sebagai Guru. Secara leksikal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merumuskan guru dengan sangat lugas sebagai orang yang pekerjaan, mata pencaharian, atau profesinya adalah mengajar. Namun, bagi kita yang menyelami dunia literasi dan pendidikan secara emosional, definisi itu terasa terlalu mekanis.
Guru, dalam ruang batin yang lebih luas, adalah seorang ‘arsitek’ jiwa. Ia bukan sekadar pemindah data dari buku teks ke kepala siswa, melainkan pionir yang bertugas menanamkan keteladanan moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Di pundak seorang guru, diletakkan harapan besar untuk membentuk karakter generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga luhur secara budi pekerti. Namun, di era yang serba digital ini, definisi ideal tersebut mulai terkikis dan mendapatkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apalagi ditambah dengan problematika mengenai kesejahteraan guru yang tak kunjung usai itu, semakin rumitlah dinamika pendidikan kita hari ini.
Di Antara Jeritan Kesejahteraan dan Panggilan Integritas
- Iklan -
Sebagai penulis yang juga bergulat di dunia pendidikan, saya sangat menyadari betapa peliknya problematika guru di negeri ini. Kita bisa berdiskusi berhari-hari tentang isu kesejahteraan yang tak kunjung menemui titik terang, tentang gaji guru honorer yang seringkali lebih rendah dari biaya servis kendaraan bulanan, atau tentang kebijakan birokrasi pendidikan yang kerap berubah sebelum sempat dipahami sepenuhnya. Semua itu adalah realitas pahit yang memicu perdebatan publik tanpa henti.
Namun, di tengah hiruk-pikuk tuntutan hak tersebut, ada sebuah keresahan mendalam yang menyayat hati saya. Kegelisahan ini bukan lagi soal nominal angka di slip gaji atau regulasi yang diteken oleh pemerintah di Jakarta. Keresahan ini bersifat internal dan etis; ia tentang perilaku oknum guru yang terjebak dalam arus deras era digital. Ada sebuah pergeseran nilai yang halus namun mematikan, di mana marwah pendidik perlahan tergerus oleh ambisi eksistensi yang dangkal.
Fenomena Guru Kreator: Hak Berekspresi atau Kehilangan Kendali?
Kita harus mengakui bahwa era digital telah mendemokrasikan panggung publik. Siapa saja kini bisa menjadi konten kreator, termasuk para guru. Secara pribadi, saya tidak memiliki keberatan sedikit pun jika seorang guru merangkap peran sebagai kreator konten. Bahkan, dalam batas tertentu, hal ini bisa menjadi nilai tambah jika digunakan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dengan cara yang lebih segar dan relevan bagi generasi Z. Di samping itu, menjadi konten kreator juga dapat menjadi jembatan penyambung hidup bagi seorang guru akibat gaji yang didapatkannya belum membuat kesejahteraan hidupanya terpenuhi.
Sekali lagi, saya tidak memiliki keberatan sedikit pun jika seorang guru merangkap peran sebagai kreator konten. Sah-sah saja dilakukan. Karena hal itu juga bagian dari hak asasi manusia, sebuah kebebasan berekspresi yang dilindungi undang-undang. Akan tetapi, yang jadi masalah adalah ketika kebebasan itu tak disertai dengan tanggung jawab. Masalah besar muncul ketika “gairah untuk menjadi viral” mengalahkan “amanah untuk mendidik.” Ketika sorot lampu kamera dan jumlah likes menjadi lebih menarik daripada binar mata siswa yang baru memahami sebuah rumus, di sanalah letak tragedinya.
Dampak Domino: Ketika Kelas Berubah Menjadi Panggung “Joget”
Jujur saja saya sering tertegun menyaksikan konten-konten yang dibuat oleh oknum guru di media sosial. Demi mengejar algoritma dan tren yang sedang naik daun, tak jarang kita menjumpai oknum guru yang asyik berjoget-joget dengan gerakan yang kurang pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Lebih memprihatinkan lagi ketika anak didik mereka ditarik masuk ke dalam bingkai kamera, diajak melakukan hal yang sama di tengah jam pelajaran, di dalam ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat suci bagi transmisi ilmu pengetahuan.
Mungkin ya bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai cara “akrab” dengan murid. Mungkin hal semacam ini dianggap “biasa wae pancen wes jamane”. Namun, sebagai pengamat sekaligus pendidik di ruang kelas yang mencoba dan terus berusaha peduli pada aspek psikologi pendidikan, saya melihat ini sebagai ancaman serius yang memicu bias kognitif psikologis.
Coba bayangkan efek dominonya. Anak-anak bangsa yang menonton konten tersebut akan menyerap sebuah pesan bawah sadar bahwa perilaku seronok, joget tanpa makna, dan pengejaran popularitas instan adalah hal yang lazim dan sah-sah saja dilakukan di lingkungan akademik. Jika sang guru—sosok yang seharusnya menjadi standar moral tertinggi di sekolah—melakukannya, maka siswa akan menganggap perilaku tersebut sebagai kebenaran. Batas-batas antara otoritas guru dan kedangkalan hiburan menjadi kabur. Inilah yang saya sebut sebagai bias kognitif psikologis yang cepat atau lambat pasti mencederai moral pendidikan nasional.
Sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh, saya merasa perlu memberikan penegasan atau disclaimer yang sangat kuat. Kritik ini lahir bukan dari rasa benci, melainkan dari rasa cinta yang mendalam terhadap profesi guru. Saya tahu persis bahwa guru adalah profesi mulia yang harus dimuliakan oleh siapa pun. Penulis tidak memiliki niat sedikit pun untuk merendahkan marwah guru secara kolektif.
Faktanya, masih banyak—bahkan mayoritas—guru kita yang menjadi sosok-sosok pejuang pendidikan yang lurus dan berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan keteladanan moral. Merekalah “Guru Penggerak” dalam arti yang sesungguhnya, yang memanfaatkan teknologi untuk membuat konten pembelajaran yang inspiratif, video eksperimen sains yang menakjubkan, atau podcast dalam topik tertentu yang menggugah pikiran kita. Mereka inilah yang layak kita beri apresiasi setinggi langit. Namun, keberadaan oknum yang “melenceng” ini tidak boleh kita abaikan. Jika dibiarkan, setitik nila ini benar-benar bisa merusak susu sebelanga.
Selanjutnya, ada satu pertanyaan krusial yang harus kita renungkan: apa jadinya nasib generasi muda kita jika paparan konten semacam ini terus meningkat setiap harinya? Kita sedang berada dalam perlombaan antara pendidikan dan degradasi. Jika setiap hari anak-anak kita melihat contoh bahwa guru mereka lebih sibuk mengatur sudut kamera daripada menyiapkan materi ajar, maka akan lahir generasi yang mendewakan bungkus daripada isi, yang memuja viralitas daripada kualitas.
Guru seharusnya menjadi benteng terakhir yang menjaga moralitas anak-anak kita dari gempuran konten-konten negatif di internet. Namun, apa jadinya jika benteng itu sendiri yang “merobohkan” dirinya dengan ikut-ikutan membuat konten yang tidak bermoral? Guru semestinya menjadi teladan yang memperbaiki moral, bukan diam-diam merusaknya melalui perilaku yang tercermin dalam setiap unggahan “joget” demi pemuasan ego pribadi di media sosial.
Pelajaran dari Kaisar Hirohito: Guru sebagai Juru Selamat Bangsa
Mari kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk media sosial dan menengok lembaran sejarah yang sangat masyhur dari negeri Sakura, Jepang. Sebuah kisah klasik yang selalu relevan untuk kita jadikan cermin. Pada tahun 1945, ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom Amerika, Jepang berada di titik nadir kehancurannya. Secara fisik, negara itu telah mati.
Dalam situasi yang mencekam itu, Kaisar Hirohito melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengumpulkan para jenderal yang masih tersisa dan tidak menanyakan berapa jumlah tentara atau senjata yang masih mereka miliki. Pertanyaan pertamanya justru adalah “berapa jumlah guru yang masih tersisa?”
Sontak para jenderal bingung. Mereka merasa bisa melindungi kaisar dengan kekuatan senjata yang tersisa. Namun, Kaisar Hirohito tak menginginkan hal itu. Dengan bijaksana, ia menyampaikan pesan: “Kita telah jatuh karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang, tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Jika kita tidak belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan guru, karena kepada merekalah bangsa ini akan bertumpu, bukan pada pasukan.”
Pesan kaisar sangat jelas bahwa guru adalah playmaker utama dalam drama kemajuan suatu bangsa. Tanpa guru yang berkualitas dan bermoral, kemajuan ekonomi dan teknologi hanyalah ibarat membangun sesuatu di atas pasir yang tentu saja mudah runtuh.
Kembali ke Khittah: Buku, Pena, dan Keteladanan
Kisah dari Jepang tersebut seharusnya menjadi tamparan keras bagi para oknum guru yang saat ini lebih hobi menghabiskan waktu di depan kamera untuk urusan yang remeh-temeh. Seorang guru sejatinya memegang peranan sentris. Jika guru memberikan pengajaran secara optimal, memperhatikan tumbuh kembang moral anak secara tulus, dan tidak menghabiskan energinya hanya untuk mengejar angka viral, maka insyaallah kebangkitan bangsa Indonesia bukanlah sekadar mimpi belaka.
Sudah saatnya para oknum guru yang hobi “berjoget” ini melakukan perenungan mendalam, atau dalam bahasa yang lebih religius, melakukan “pertaubatan” profesi. Kembalilah kepada jalan yang benar demi masa depan anak-anak kita. Jangan biarkan ego pribadi meruntuhkan bangunan karakter generasi muda yang sedang kita susun dengan susah payah.
Guru, Digugu lan Ditiru
Sebagai guru yang baik dan bijak, kesadaran identitas sebagai guru perlu diingat-ingat kembali. Sudah saatnya para pendidik kembali ke dalam kelas dengan membawa semangat perubahan yang hakiki. Tugas guru adalah bergelut dengan buku dan pena, menyelami pikiran siswa, dan menanamkan benih-benih integritas. Panggung guru yang sesungguhnya adalah di depan kelas dan di dalam hati para siswa, bukan di layar smartphone yang penuh dengan kepalsuan itu.
Untuk mewujudkan hal ini, tak ada salahnya kita berguru kepad masyarakat Jawa yang sejak berabad-abad lalu memiliki sebuah pepatah luhur yang menjadi standar emas bagi profesi ini: “Guru kuwi kudu iso digugu lan ditiru, ora kok wagu tur saru.” Guru itu harus bisa dipercaya (ucapannya) dan ditiru (perilakunya), bukan malah bertingkah aneh (wagu) dan berbuat tidak pantas (saru). Oleh sebab itu, mari kita kembalikan marwah pendidikan kita ke tempat yang seharusnya. Mari kita jadikan era digital ini sebagai alat untuk melipatgandakan kebaikan, bukan untuk memamerkan kedangkalan. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas gurunya. Wallahu a’lam bish-shawab.
____
Referensi:
https://alif.id/bunga-rampai/nasib-guru-honorer (diakses pada tanggal 24 April 2026).
-Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati, Jawa Tengah & Alumnus Universitas Negeri Semarang.



