ArtikelOpiniTokoh

KH. Cholil Asya’ari: Pejuang NU di Kota Tembakau

Oleh Usman Mafruhin

Bulan Syawal tahun ini begitu memberikan duka yang begitu mendalam kepada masyarakat Temanggung umumnya, dan santri-santri pada khususnya. Bagaimana tidak, Simbah KH. Cholil Asy’ari, ulama khos sepuh satu-satunya yang ada di Temanggung berpulang ke rahmatullah pada tanggal 2 Syawal 1440 atau 6 juni 2019 lalu.

Mulanya, semua tidak menyangka bahwa pada malam ke 27 Ramadan beliau masih menjadi imam salat tarawih di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bolong, Selopampang, Temanggung. Dua hari sebelum bulan Ramadan habis, kemudian beliau dirawat di RSUD Temanggung karena gerah yang pada akhirnya kemudian dirujuk ke RS Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akhirnya, ulama sepuh pendiri Pondok Pesantren Darul Muttaqin Bolong, Ngaditirto, Selopampang, Temanggung, KH. Cholil Asy’ari ini tutup usia pada Kamis 6 Juni 2019.

Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin Bolong, Ngaditirto, Selopampang, ini meninggal pukul 03.30 WIB dinihari. Beliau sebelumnya sakit dan dirawat di RS Sardjito Yogyakarta dan disemayamkan di Temanggung hari ini.

Pejuang Nahdlatul Ulama

Selain dikenal sebagai pendiri Ponpes Darul Muttaqien, Kiai Cholil Asy’ari juga merupakan Mustasyar PCNU Temanggung tahun 2009-2014. KH. Cholil Asy’ari mendirikan Ponpes Darul Muttaqien yang merupakan salah satu pesantren salaf tua yang berada di wilayah Kabupaten Temanggung pada tahun 1965. Lokasinya di Dusun Bolong, Desa Ngaditirto, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung.

KH. Cholil Asy’ari Bolong Selopampang semasa hidupnya pernah nyantri di sejumlah pondok. Kiai Cholil merupakan teman mondok Kiai Raoyan Menggoro di Payaman Magelang yang diasuh oleh Simbah Kiai Siradj Payaman dan sekarang almarhum jasanya dikenang masyarakat karena menjadi pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqien.

Syawal kemarin, bagi kalangan santri Temanggung, rasanya kurang sempurna apabila pada hari pertama lebaran tidak sowan ke syaikhina dan juga Abah Yai yang lain, karena masih nenggo (menunggu) beliau yang sedang dalam perawatan medis. Memang betul yang dirasakan beberapa santri ada yang berkata “wah bodo kie jan rasane kok sepi ya mbah yai ra ng ndalem” memang benar sekali adanya. Yang biasanya ramai masyrakat Tembarak dan Selopampang sowan ke ndalem pada lebaran kemarin tidak.

Semua kalangan masyarakat sangat mengharapkan Simbah Yai bisa cepat kundur ke ndalem dengan keadaan sediakala. Akan tetapi pada Syawal tanggal 2 tepatnya 6 Juni 2019, kabar duka menyebar luas bahwa beliau telah dipanggil ke hadirat Allah SWT, khusnul khotimah bah. Begitu terpukulnya masyarakat Temanggung dan sekitarnya khususnya para santri.

Tidak henti ucapan doa dan bela sungkawa yang dikhususkan kepada beliau yang kita sebagai muridnya senantiasa mencari rida guru dan barokah manfaat ilmunya. Sampai detik ini pun, ziarah kubur yang dilakukan dari berbagai kalangan baik santri ataupun masyarakat selalu meramaikan makam beliau. Selang tidak lama kemudian, Indonesia kembali berduka kembali dengan duka dari ulama kharismatik Simbah KH. Maimoen Zubair. Bertepatan pada peringatan 100 hari kebetulan Simbah KH. Maimoen Zubair memperingati 40 hari.

Riyadhoh dan Perjuangannya

Sosok KH. Cholil Asy’ari adalah Ulama yang alim dan selalu ikhlas dalam mengemban dakwah Islam di berbagai penjuru Temanggung. Selain itu pula duriyah dan ahli bait dari beliau juga menjadi anutan masyarakat dan juga mempunyai pesantren di daerahnya masing-masing. Pernah dalam suatu tausiyahnya Abah Muhith ngendiko (berkata) sejarah perjuangan yang dilakukan oleh Syaikhina KH. Cholil Asy’ari begitu banyak sekali baik itu dari segi riyadhohnya ataupun dalam mendalami keilmuan agamanya.

Pernah dulu suatu bulan Ramadan beliau berkata kepada saya, beliau pernah melakukan ziarah dan riyadhoh ke makam Syaikhina Kholil Bangkalan, salah satu ulama khos dan kharismatik di Indonesia, dengan ceritanya berjalan kaki dari Temanggung, suatu ketika beliau di jalan ada orang tidak dikenal yang menghampiri dan mengajak menukar pakaian beliau padahal apa yang dipakai oleh si orang tidak dikenal ini sudah tidak layak.

Beliau ikhlas memberikan rasukan yang di pakainya. Setelah sampai di Bangkalan, beliau melakukan amalan satu hari khatam Alquran dan itu dilakukan selama 40 hari tanpa kendel (berhenti) dalam cerita yang disampaikan Gus Abah Muhith, ketika beliau istirahat dan mencari daharan. Hanya buah pepaya mentah di sekitaran maqom yang dapat beliau dahar, dan itu dilakukan dengan ikhlas. Karena beliau percaya wasilah tirakatan di makam ulama besar dan mashur Syaikhina Kholil Bangkalan akan membawa keberkahan yang besar. Dan terbukti semuanya sekarang. Apa yang dilakukan beliau semata ingin mendirikan pesantren dan mempunyai santri dan sejarah menjawabnya, ratusan santri yang mondok di pesantren Darul Mutaqien Selopampang, Temanggung.

Selain itu betapa gigihnya perjuangan beliau dalam mengaharkan agama Allah SWT di kalangan masyarakat, jemaah yang dibawa beliau dari jemaah tarikat, yasiin fadhillah, pengajian mingguan, pengajian selapanan ribuan jumlahnya. Saat merintis berjihad dahulu kala beliau rela berjalan kaki dari Bolong ke desa ataupun kecamatan yang lain.

Betapa besar pengorbanan yang beliau lakukan. Itu sedikit sepenggal histori atau sejarah dari perjuangan KH. Cholil Asy’ari. Sebagai santrinya kita hanya bisa mengharapakan rida, barokah ilmu yang telah beliau tanamkan kepada kita. Dan kita implikasikan itu dalam kehidupan sehari hari.

Pesan Terkhir Beliau

Suatu pesan yang disampaikan oleh beliau yang begitu terkesan kepada kalangan santri pada umumnya ialah “Sopo wae sek pernah ngaji karo aku pernah dadi santriku.Mbok santri pondok, santri pengajian mingguan, santri tarikat, santri pengajian selapanan, santri jamaah yasiin fadhilah aku dongake pas naliko aku sholat tasbih ngarepe subuh. Kowe kabeh dadi wong mulyo dunyo lan akhirate”.

Dan pesan untuk santri khususnya; “Ikhlasno sok nek aku bali, cah pondok kae kon ojo do ngelanggar peraturan, jamaah sholat fardhu wiridan kae ojo di tinggalke sok ben dadi jariyahku neng kono”.

Pesan yang begitu mendalam disampaikan oleh beliau banyak makna yang dapat kita ambil dari perjuangan dan riyadhohnya. Semoga kita semua tergolong umat yang besok mendapat syafaat Rasulullah bersama dengan wasilah guru-guru kita. Amin.

Tulisan ini untuk mengenang 100 hari almaghfurllah KH. Cholil Asy’ari

-Penulis adalah Ketua Umum PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan