Puisi-Puisi Wiwit Atra Putra, Konklusi Lama,Khronos, Janus, Jaffa, Persephone

KONKLUSI LAMA

seperti catatan kaki yang tak dibaca,

aku tinggal di pinggir kalimat

tempat sejarah menaruh perempuan

sebagai tanda yang lain.

sudah lama aku diajari menerima;

laki-laki sebagai pusat,

perempuan sebagai keterangan.

hingga bahasa jadi sami’na wa atho’na,

yang menata dunia lewat meja

yang sudah ditentukan kursinya.

aku pernah percaya

pada keseimbangan,

seperti bumi dan langit,

seperti siang dan malam.

tapi itu toh dongeng belaka,

yang tak pernah menanyakan

siapa yang menulisnya?

dalam rumah,

waktu berjalan satu arah;

nama ayah menjadi garis lurus,

sementara namaku, dan nama ibu

berbelok, hilang, atau barangkali dilupakan?

2026

KHRONOS

pada mulanya adalah desah angin,

mengukir guratan di bukit tandus,

lalu yang tersembunyi

menjelma firasat.

seperti iring-iringan peziarah

meniti padang garam

dalam legenda tanpa batas.

pohon beringin kerap menyimpan

bisikan para pendahulu

dalam akarnya.

lintasan komet kehilangan pijar,

langit dijahit benang hujan.

sehelai daun kusam tersingkap,

wujud termakan zaman.

entah apa yang lebih sunyi

dari kawah ini?

2026

JANUS

gantunglah janji

di tiang listrik usang, dan saksikan,

seekor gagak berdasi

mengutip kebijakan dari tong sampah.

kini algoritma yang berbicara

ke ruang hampa,

menggeser dogma; pengetahuan lama.

kala senyap

membentuk mimpi-mimpi,

tanpa memandang cermin penuh lubang.

mungkin semacam parlemen kosong,

dan tawa beku, di sudut meja bundar itu.

2026

JAFFA

engkau selalu menjadi gerbang

pada setiap rindu yang kuperjuangkan

aku, tentu masih

seorang pembawa panji

yang tak mungkin kau kenali.

aku tak tahu,

apakah langit dan matamu

menyimpan pedih yang sama?

ada hening purba

pada dinding yang runtuh

dan kita seperti panah

pada busur yang memudar.

misalkan suatu hari,

kita tak lagi memaknai

kegelisahan hari-hari,

jangan pernah pergi

dari nyeri luka ini.

2026

PERSEPHONE

setelah panen ini,

kita akan melayang

menjelajahi tanah.

sunyi taman ini,

menyimpan janji

dalam akar batu-batu.

telanlah biji

di bawah lembah

sebelum musim gugur

melukiskan rindu

dengan warna api.

hingga senja jatuh

dan bayang-bayang

menyingkap tirai.

katakanlah, kegelapan.

2026

Wiwit Atra Putra, saat ini menetap di Yogyakarta. Bekerja sebagai buruh desain grafis. Peneliti tradisi Jawa, dan nilai-nilai kearifan lokal. Menulis puisi dan prosa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top