
Oleh :Mochamad Bayu Ari Sasmita
Ada kesimpang-siuran terkait kisah hidup Petra, lelaki tinggi teguh serupa namanya yang berarti batu karang. Ada dugaan bahwa dia adalah pahlawan yang tak pernah tercatat oleh juru tulis, hanya menjadi semacam kisah tuturan orang-orang setempat sampai kemudian kisah itu menghilang tanpa bekas sebagaimana kuburannya di kompleks pemakaman Islam yang sekarang berada dalam ancaman penggusuran. Namun, ada juga sebuah tuduhan, yang sama-sama bersifat oral, bahwa dia tidak lebih dari seorang penjahat, kaki tangan penjajah yang akan mencambuk pembangkang dan melaporkan segala siasat pemberontakan yang disusun di desa itu dan setiap tempat persembunyian para gerilyawan. Dia dibenci sekaligus ditakuti. Suara langkah sepatu kulitnya dapat menciutkan keberanian orang-orang terjajah yang mendengarnya. Segala upaya pernah dikerahkan untuk menumpasnya, tapi dia kebal senjata. Segala senjata tajam tidak dapat menembus kulitnya; orang-orang terjajah itu tidak punya senapan. Pada akhirnya, yang mampu menghabisinya adalah penyakit gula yang menggerogotinya secara perlahan tanpa pernah disadari dan terlambat ditangani. Tubuhnya yang gagah perkasa itu perlahan habis, daging dalam tubuhnya berubah wujud menjadi air kencing yang sering dia keluarkan di malam hari. Ketika terbaring tanpa nyawa, tubuhnya tak lebih seperti sebuah sebatang kayu ringkih yang tampak mudah patah. Tubuhnya ringan. Meski demikian, Kiai Alam tetap menguburkannya sesuai tata cara yang sudah diajarkan kanjeng nabi karena Petra adalah salah satu orang yang bersyahadat dan mengerjakan ritus Islam sepanjang hayatnya meskipun membela penjajah. Dari sinilah kemungkinan hilangnya kuburan Petra dan marwah keturunannya yang kemudian mengalami keterpurukan dalam hal ekonomi dan dicap sebagai pengkhianat, meskipun tidak terlalu lama. “Hidung Petra mungkin sama dengan hidung kita, warna kulitnya sama dengan warna kulit kita, tapi hatinya telah dipenuhi oleh iblis-iblis putih dari Eropa. Dia layak mendapatkan penghinaan ini!” Tanah yang semula ditinggikan itu tiba-tiba segera sejajar lagi dengan tanah-tanah di sampingnya. Tidak ada hujan malam itu, seolah langit pun tidak mau bersedih atas kepergiannya. Nisannya dicabut dan dihancurkan dengan palu godam yang pernah digunakan untuk membangun rel di area persawahan. Pada hari Kamis pasaran Kliwon, istri dan anak-anaknya yang datang berziarah tidak dapat menemukan jejak kuburan Petra lagi. Ketika mereka menanyakan ini kepada Kiai Alam, para santrinya yang kebetulan mendengarnya kemudian berseru bahwa hal itu adalah hukuman langsung dari Allah karena membela penjajah. Sejak saat itu, Belanda diusir oleh Jepang, orang-orang kuning dihajar tentara sekutu di perang pasifik, Belanda masuk kembali ke tanah air, Sukarno digulingkan dengan campur tangan intelijen negara asing, Suharto naik dan berkuasa terlalu lama lalu digulingkan oleh mahasiswa, presiden naik dan turun. Tidak cukup banyak yang mengenal Petra atau bahkan tahu namanya. Hanya segelintir keturunannya saja, yang mengetahuinya, sampai kemudian mereka merasa tidak perlu menceritakan kisah Petra lagi. Di sinilah aku sekarang, manusia yang tidak mengetahui asal-usulnya. Petra adalah buyutku dan aku menulis ini mula-mula untuk sebuah perkenalan diri kepada teman-teman di perkuliahan, dosen kami yang meminta perkenalan diri semacam ini. Sejak awal, dia memang tampak eksentrik. Tapi ini cukup menyenangkan karena aku bisa mulai mengulik asal-usulku, meskipun masih dipenuhi kabut.
“Perjuangan ingatan melawan lupa,” kata temanku ketika kami makan siang berdua di kantin. “Milan Kundera yang menulis itu. Jadi kau keturunan pengkhianat, ya?”
- Iklan -
“Entahlah.” Aku menggeleng.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Tentang apa?”
“Tentang kemungkinan bahwa kau keturunan pengkhianat.”
“Terdengar menarik. Tapi lihat, tidak ada satu pun tanda ke-bule-an yang ada pada tubuhku. Keluargaku seutuhnya pastilah orang Jawa, meskipun jika dilacak lebih jauh lagi mungkin hasilnya berbeda, berbagai ras bercampur di masa lalu dan mewariskan masing-masing satu ciri yang terus bertarung untuk menjadi dominan dalam setiap keturunannya. Tapi, tetap, tidak ada tanda-tanda ke-bule-an padaku. Kulitku bahkan lebih gelap dari anak-anak yang lain. Satu-satunya ke-bule-an padaku mungkin hanya pola pikiranku, itu pun sesuatu yang kucari sendiri melalui sejumlah pembacaanku atas buku-buku di perpustakaan.”
“Apa kau tidak ingin mencari tahu?”
“Tentu aku ingin mencari tahu. Tapi sudah tidak ada bukti apa pun. Orang-orang yang umurnya sudah tua di keluarga besarku tidak ada yang benar-benar melihatnya ketika masih hidup. Sudah tidak ada saksi hidup, hanya tersisa generasi yang mendengar kesimpang-siuran kisah itu.”
“Hei, omong-omong, boleh aku berkunjung ke tempatmu ketika liburan?”
“Tidak ada hal yang menarik di sana. Tempat itu telah kehilangan sejumlah hal yang menjadi ciri khas sebuah desa: warna hijau yang membentang, sungai jernih yang mengalir dan segar, dan udara bersih. Kau akan kecewa.”
Ketika libur semester tiba, temanku itu benar-benar mencegatku di depan pintu kamar indekosku dengan sebuah ransel berisi pakaian dan sejumlah barang penting. Tapi dia tidak sendiri, melainkan dengan seorang lelaki bule dengan tinggi hampir menyentuh bagian atas pintu. Aku perlu mengangkat dagu untuk melihat ke wajahnya. Dia lelaki bermata bitu dan berambut pirang. Dia salah satu mahasiswa asing yang memelajari keindonesiaan di tempat ini. Namanya Giovanni. Nama itu mengingatkanku kepada kapten timnas sepakbola Belanda pada piala dunia tahun 2010. Tapi kurasa dia tidak punya hubungan apa pun dengannya. Giovanni cukup mahir berbahasa Indonesia, dia menyukai Pramoedya sebagaimana umunya orang-orang luar negeri ketika belajar tentang negeri ini.
Di kereta, kami duduk bertiga dan saling memperkenalkan diri. Dia mengaku memiliki buyut yang tinggal di Jawa sampai tentara angkatan laut Jepang berlabuh di negeri ini. Keluarga buyutnya berhasil melarikan diri ke Australia sebelum kelak pulang ke Belanda ketika Nazi sudah ditumpas oleh tentara merah.
“Dia meninggalkan sebuah buku harian. Buku harian itu beruntungnya dirawat kakek dan ayahku dengan baik sehingga sampai kepadaku dalam kondisi utuh. Buku aslinya ada di rumah kami di Eindhoven. Jadi, yang kubawa ke sini hanyalah salinannya. Dia melukiskan sebuah desa kecil yang indah, sungai-sungai mengalirkan air jernih, dan para lelaki mengadu ayam jago di siang hari. Tempat itu ditumbuhi pohon-pohon pisang dan mangga. Hampir tidak ada yang melawan dan menentang bangsa kami, kecuali ketika sejumlah orang-orang dari luar—para pelarian—mulai tinggal di sana. Aku penasaran dengan tempat itu, aku penasaran dengan udara yang dihirup buyutku. Ini akan menjadi semacam ziarah bagiku.”
“Lalu? Mengapa harus mengikutiku?” tanyaku, aku khawatir dia salah alamat.
“Teman kita yang satu ini memberitahuku. Buyutku menulis nama Petra di sini. Dia menghadiri pemakaman lelaki bernama Petra itu dan merasa begitu kehilangan. Dia berkawan baik dengannya. Setidaknya, begitulah catatan yang dia tinggalkan.”
Terlalu mujur jika disebut kebetulan. Barangkali, di catatan itu aku bisa memelajari tentang silsilah keluargaku. Aku tersenyum. Kami mengobrol dengan lancar setelah itu. Kuceritakan bahwa segala detail tentang tempat yang ditulis buyut Giovanni itu sudah berbeda sama sekali. Sudah tidak ada sungai-sungai yang jernih di tempat asalku. Sungai menjadi tempat mengalirkan minyak dari proses perebusan usus ayam. Sawah-sawah juga sudah berganti pemilik dari petani ke pemilik modal. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat perubahan total tempat itu.
Giovanni menerjemahkan catatan buyutnya itu kepada kami berdua.
“Tiba juga aku di tanah ini, tempat orang-orang dibuang dan harus merebut kembali kehormatannya sambil bertarung melawan malaria, bahaya bambu runcing para pemberontak, dan suhu panas yang menyebalkan.
[Lompat ke bagian lain]
“Lelaki ini bernama Petra. Tidak seperti orang-orang di sekitarnya, dia memiliki kulit yang lebih pucat dari mereka, tubuh yang lebih tinggi, dan mata yang lebih terang. Barangkali, ada percampuran di masa lalu dan ciri khas kami menjadi dominan pada tubuh lelaki ini. Dia ramah kepadaku ketika kami pertama kali bertemu di kedai minum. Dia menjadi pemimpin di desa ini. Orang-orang akan sungkem kepadanya ketika dia lewat. Kebiasaan semacam itu membuatku geli. Kalian sama-sama manusianya, mengapa pula yang satu lebih luhur? Tapi, setelah kupelajari, barangkali sosok pemimpin adalah kebutuhan orang-orang kecil. Mereka butuh orang-orang yang diluhurkan, bahkan mungkin disembah, sosok yang akan membimbing mereka menuju kemuliaan. Sosok ratu adil. Tapi jawaban Petra tidak pernah kuduga: ‘Semua hal itu menyebalkan. Mereka sebaiknya merunduk di hadapan Tuhan, bukan kepadaku.’ Kehidupan memang selalu diisi oleh orang-orang yang tidak terduga.
[Lompat ke bagian lain]
“Petra hampir terbunuh. Suatu kali, sekelompok gerilyawan mendengar tentang kepemimpinan Petra yang condong ke pihak kolonial, pihak kami. Sebuah pisau ditusukkan ke perutnya. Tapi seorang pemberontak itu tidak memastikan kematian korbannya. Petra tidak mengalami luka berdarah, hanya sedikit memar pada perutnya. Pisau itu tidak menembus kulitnya. Ini mungkin terdengar seperti omong kosong, melanggar kaidah ilmu alam yang selama ini kupelajari. Tapi Petra benar-benar dalam kondisi baik. Dia sendiri mengakui kekebalannya, sebuah latihan yang dia tempuh di suatu padepokan ketika dia masih muda. Masa mudanya diisi dengan pengembaraan untuk berlatih ilmu beladiri sampai kemudian dia pulang kembali ke tempat kelahirannya sambil memboyong gadis cantik yang sudah resmi menjadi istrinya. Dari pernikahan itu dia punya enam anak. Usia mereka tidak terlalu jauh. Aku cukup dekat dengan mereka. Kadang aku bermain bersama mereka, kuajari anak-anak gadis Petra tentang kerajinan tangan yang pernah kupelajari di kampung halamanku. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan dalam hidupku di tempat pembuangan ini.
[Lompat ke bagian lain]
“Sekarang ini akan menjadi semacam obituarium bagi Petra, sahabat baikku, yang telah tutup usia. Pada bulan-bulan terakhir hidupnya, tubuhnya yang tinggi tegap itu perlahan menjadi kisut, seperti buah jeruk yang terlalu lama dibiarkan di udara terbuka. Dia mengaku menjadi sulit tidur di malam hari dan kakinya terasa sakit, seperti kaku dan sulit untuk digerakkan. Dia sudah mendatangi Kiai Alam untuk minta minuman yang dibacakan doa, tapi tetap tidak berhasil. Selain itu, malam hari dia mulai rajin ke kamar mandi. Kukatakan kepadanya bahwa dia mungkin mengidap penyakit gula, diabetes melitus. Penyakit itu akan menggerogotinya secara perlahan. Jika tidak ditangani dengan tepat, hal yang buruk akan terjadi. Tapi, mendengar penjelasanku itu, dia malah tersenyum. Petra diam dan memejamkan mata, dia seperti sedang merasakan embusan angin, merasakan kekuatan alam. Kami sedang berada di tepi sungai. Dia, setelah mendengar penjelasan itu, mengaku merasa sedikit bebas. ‘Akhirnya tiba juga,’ katanya. Anak-anaknya masih banyak yang masih begitu belia dan dia sudah mengharapkan kematian. Dia berniat meninggalkan kehidupan ini begitu saja. ‘Aku bukan pemimpin yang bagus bagi desa ini. Aku mungkin memang terlalu patuh pada pihak kolonial. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan rakyatku. Kami sedang menunggu Ratu Adil, tapi dia tidak kunjung tiba. Dulu ada Diponegoro, tapi geloranya lekas surut. Sejumlah pelarian masuk ke desa ini dan aku melindungi mereka, memberi mereka sepetak tanah untuk dibangun hunian. Mereka hanya perlu bekerja keras seperti orang-orang lain di sawah dan ladang. Tidak perlu angkat senjata karena kami hanya akan kalah telak. Biar itu menjadi urusan orang-orang yang begitu bergelora pada kemerdekaan. Kuharap, kau masih bisa datang di pemakamanku kelak. Antar aku beristirahat.
“Tidak ada yang percaya bahwa kematian segera merenggut Petra, memisahkannya dari keluarga dan rakyat yang mencintainya. Di hari kematiannya, tubuh Petra menguarkan harum kembang dan wajahnya yang pucat itu terlihat segar dan senyuman kembali ke wajahnya. Dia telah terbebas dari urusan duniawi, sudah selayaknya dia tersenyum. Kehidupan yang berat ini telah berhasil dia lewati dengan sebaik-baiknya. Para pelayat tidak percaya bahwa orang yang mereka tuduh sebagai mata-mata kolonial menguarkan aroma sewangi itu di hari kematiannya. Mereka memercayai bahwa akhir hidup seseorang menggambar seluruh kehidupan yang telah dilaluinya. Aroma kembang menjadi pertanda kemuliaan yang dimiliki si jenazah. Petra adalah orang mulia, para pembencinya menolak percaya dengan hal mistis yang mereka sendiri percayai. Kiai Alam yang luas hatinya memimpin upacara pemakaman bagi Petra. Dia dimandikan, dibalut kain putih dengan tiga ikatan, dan kemudian disembahyangkan. Doa-doa dalam bahasa Arab mereka baca beramai-ramai. Kembang telah disiapkan untuk ditaburkan di atas kuburannya kelak. Ketika akan diberangkatkan, para pemanggul keranda mengaku bahwa betapa ringannya tubuh Petra. Kiai Alam berkata bahwa keringanan itu adalah tanda dari kebaikan-kebaikannya selama ini di dunia. Sampai kematiannya sekali pun, dia tidak memberatkan beban hidup seseorang. Aku menghibur anak-anak Petra yang masih kecil, para gadis itu menangis tanpa henti. Ini adalah kehilangan pertama yang mereka rasakan dan kehilangan-kehilangan di masa depan masih menanti dengan sabar.”
Buku catatan itu sebenarnya tidak berhenti di sana, tapi kisah tentang Petra berakhir di sana. Giovanni menutup bukunya dan memandang kepadaku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu, ia menyerahkan salinan buku itu kepadaku.
“Kau bisa menyimpannya.”
Aku menerimanya meskipun aku tidak yakin bisa membacanya seorang diri tanpa bantuan penerjemah. Kupandangi sampul buku itu lama-lama, ternyata itu adalah sebuah sampul yang dilukis sendiri, sebuah pemandangan dusunku kira-kira seabad yang lalu. Masih begitu hijau, kerbau-kerbau ada di pemantang sawah, semua orang masih menjadi petani. Burung-burung hinggap di dahan pohon, bukan di kabel listrik. Benar-benar seperti sebuah tempat di cerita dongeng.
Mochamad Bayu Ari Sasmita. Lahir di Mojokerto pada HUT RI Ke-53. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku-bukunya yang sudah terbit adalah novela berjudul Seperti Sebuah Ayunan di Taman Bermain (Penerbit Basabasi, 2023) dan Angin/Ayunan (Penerbit Basabasi, 2024). Dapat dihubungi di instagram @sasmita.maruta.



