
Oleh: Sam Edy Yuswanto
“Ayah lagi ngapain?”
Lelaki berkulit sawo matang dengan wajah kosong itu menoleh kaget. Jantungnya berdetak kencang. Rasanya mau copot. Seraut wajah polos menatap. Kedua tangan bocah itu mengusap-usap kedua matanya yang masih berasa lengket sehabis bangun tidur. Dengan tangan bergetar dan keringat mengucur dingin, lelaki itu tergesa melepas tali yang sudah terlanjur melingkari leher. Lalu ia segera turun dari kursi plastik yang diletakkannya di atas satu-satunya meja kayu yang ada di rumahnya.
“Ayah lagi ngapain, sih?” bocah perempuan berusia 3 tahun itu kembali mencecar dengan pertanyaan dan wajahnya yang polos. Dua bola matanya yang hitam bening tampak berkilat-kilat menyiratkan rasa penasaran.
- Iklan -
“A… anu… A… Ayah habis mbetulin lampu, Nak,” tergagap lelaki itu menjawab pertanyaan Fitri, putri semata wayang, sambil tangan kanannya yang masih dalam kondisi gemetaran menunjuk ke arah lampu bohlam 5 watt di sebelah tali yang diikatkan ke salah satu kayu atap rumah.
“Mbetulin lampu kok pakai tali, Yah?” Fitri kembali melempar tanya, kali ini dengan disertai kening berkerut. Kedua matanya yang hitam dan bening masih sama; berkilat penasaran.
Kedua mata lelaki itu terasa panas seperti diterjang lahar. Sebelum bulir-bulir air matanya luruh, ia tergesa menghampiri dan merengkuh tubuh putrinya. Sambil membopong Fitri, lelaki itu berjalan pelan menuju pintu.
“Kita main di luar, yuk?” ucap lelaki itu dengan bibir gemetar. Air matanya kali ini benar-benar tak kuasa dibendung. Jatuh membasahi kedua pipinya yang berminyak.
Lelaki itu pun lantas berjanji tak akan nekat mengakhiri hidup dengan cara yang konyol. Cara yang pastinya akan membuat ia menyesal selama-lamanya.
***
Sejak istri lelaki itu meninggal sebulan lalu, ia merasa hidup yang dijalani terasa semakin bertambah berat. Bagaimana tidak? Putri semata wayangnya masih kecil dan butuh pendampingan orangtuanya setiap hari. Sementara tak ada siapa-siapa di rumah selain dia dan putrinya. Tentu lelaki itu sangat bingung dan pusing karena di satu sisi harus menjaga putrinya di rumah, sementara di sisi lain harus bekerja sebagaimana hari-hari biasa sebelum istrinya meninggal dunia.
Keseharian lelaki itu bekerja menjadi kuli bangunan dengan lokasi yang berpindah-pindah. Ini artinya, sangat tidak memungkinkan bila ia harus bekerja sambil membawa serta putrinya yang masih kecil. Siapa yang akan mengawasi saat ia sedang sibuk bekerja? Bagaimana kalau ia lengah menjaga dan menyebabkan Fitri mengalami kejadian yang mengerikan? Kecelakaan akibat bermain di jalan raya misalnya. Atau ada penculik yang telah lama mengintainya? Ah, memikirkan itu semua, kepala lelaki itu mendadak terasa pening bukan kepalang.
Sebenarnya lelaki itu masih mempunyai ibu kandung di luar kota. Namun, pikirnya, sangat tidak mungkin ia menitipkan anaknya ke sana. Karena ibunya juga sudah lanjut usia dan sakit-sakitan. Ibu dirawat oleh kakak perempuannya yang kondisi perekonomiannya juga sulit. Intinya ia tak ingin membebani hidup ibu dan kakak perempuannya yang kondisinya juga sangat memprihatinkan.
Akhirnya, lelaki itu untuk sementara waktu menganggur dan memilih momong atau menjaga putrinya di rumah. Ia berusaha menghemat uang yang tersisa. Uang yang tak seberapa itu pun lama-lama habis untuk keperluan hidup dirinya dan putrinya. Belum lagi bila ada kondangan tetangga dan iuran wajib warga, seperti iuran pembangunan masjid atau iuran saat ada pengajian umum. Utang sana-sini pun terpaksa dilakukannya. Sampai ia merasa tak sanggup untuk berutang lagi, mengingat utang-utang sebelumnya yang masih numpuk dan tak kunjung dilunasi. Bagaimana ia bisa melunasi sementara ia tidak bekerja?
Merasa tak kuat dengan beban hidup yang semakin menghimpit, lelaki itu nekat ingin menyudahi hidup. Entahlah, seperti ada suara-suara yang begitu gencar merayu lelaki itu untuk melakukan aksi konyol yang konon sangat dibenci oleh Tuhan. Untung saja aksi konyolnya kepergok oleh Fitri. Waktu itu, lelaki itu mengira putrinya masih tertidur nyenyak tidur di dalam kamar. Pada saat itulah ia ingin melancarkan aksinya dengan cara melilitkan leher di salah satu kayu atap rumahnya. Dan, rencananya sontak hancur berantakan ketika Fitri terbangun dan memergokinya.
***
Kini, lelaki itu sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan melakukan hal konyol itu lagi. Ia akan berupaya menghadapi apa pun yang akan terjadi. Ia akan berusaha mencari pekerjaan baru. Pekerjaan yang membolehkan membawa serta putrinya. Agar ia tetap bisa menjaganya.
Bagaimana nanti putriku hidup bila tanpa aku di sisinya? Siapa yang akan menjaganya hingga dewasa? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padanya? Saat dia sudah besar nanti, tentu dia akan sangat marah, kecewa, dan tentunya sangat malu ketika membaca riwayat ayahnya yang telah mati. Mati setelah nekat mengakhiri hidup dengan cara konyol.
“Ya Allah, ampuni hamba yang terlalu pendek akal ini ya Allah,” bibir lelaki itu bergetar-getar menyesali hal konyol yang nyaris dilakukannya.
***
Kebumen 10 Januari 2026.
Sam Edy Yuswanto; Lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, dan Impian Maya.



