Oleh : Latif Nur Janah
Rio mengempaskan tubuhnya ke sofa. Sepintas, ia melihat tayangan talkshow yang didatanginya sehari lalu lewat televisi pintar. Tayangan itu sudah muncul di berbagai platform media sosial dan trending di salah satu kanal. Daun ketenaran ia naiki perlahan dan pasti, tetapi ia justru merasa sendiri akhir-akhir ini.
Rio meraih ponsel di meja. Jarinya mengarah ke dalam fail yang ia simpan. Dengan satu kali sentuhan, sebuah video lama terputar. Video itu berisi ia dan ibunya. Momen yang terekam satu tahun yang lalu itu membuat hati Rio menghangat. Meski senyumnya terpancar, tetapi matanya nanar. Ada yang terasa sesak di dada. Ingatan-ingatan kecil menganga. Ingatan-ingatan yang ia rawat dengan baik dan tidak akan dibiarkan hilang. Video itulah memorabilia fisik yang masih disimpan dan dibawanya ke mana pun. Video itu bisa membawanya ke rumah tanpa harus pulang dan menjadi penawar akan rindu terhadap Ibu dan segala kenangan.
Rio mengusap wajahnya dengan satu tangan. Langit di balik tirai jendela lantai tujuh apartemennya tampak redup oleh mendung gelap yang perlahan-lahan membingkai sinar jingga di ujung barat. Ia menggeser folder di mana video itu berada ke layar beranda. Ada potret dirinya dengan Danila, kekasihnya. Danila pasti sudah menunggu. Mereka berjanji untuk makan malam di sebuah resto baru tak jauh dari rumah Danila. Bayangan wajah Danila membuat bibir Rio tersungging. Danila adalah sebingkai wajah yang menerbitkan getir dan bahagia bersama-sama. Danila adalah janji kepada Ibu yang tak bisa ia penuhi.
- Iklan -
Senyum Danila menyambut Rio di halaman rumah. Senyuman yang meneduhkan, tetapi membuat sebagian perasaan Rio berada di tempat yang jauh: rumahnya sendiri. Andai Ibu masih ada, dua puluh jam dari sekarang, ia dan Danila akan pulang. Dua puluh jam dari sekarang, ia akan mengetuk pintu rumahnya sendiri. Di depan pintu itu, senyum Ibu dan senyum Danila akan bertemu.
“Hai, are you okay?” Danila melambaikan tangannya ke depan wajah Rio.
Rio mengedikkan bahu. Saat Danila memegang tangannya, Rio sadar, ia baru berpindah dari rumahnya sendiri ke rumah Danila. Mata Rio beralih dari Danila ke arah bunga monstera yang tumbuh di sudut halaman. Daun-daunnya yang lebat membuat halaman rumah Danila yang terbatas itu menjadi sangat menawan.
“Monstera ibumu sudah besar,” ucap Rio spontan.
“Hah?”
“Iya, akarnya terlalu banyak yang menjalar,”
“Sejak kapan kamu peduli dengan mons…”
“Nggak lucu, kan, kalau akarnya menjalar ke kamarmu. Aku nggak mau jadi sasaran ulat saat kita enak-enak tidur,” senyum Rio terbit di ujung. Penekanan pada kata “kita” dan “tidur” membuat Danila mendelik curiga.
Rio memaklumi reaksi Danila. Dengan lembut, diraihnya tangan Danila sembari berjalan ke tempat mobilnya terparkir. Tak ada kata-kata keluar, tetapi mereka saling mengerti apa yang sebenarnya menjalar di hati masing-masing.
Sebuah resto baru itu tampak biasa saja bahkan sangat sederhana. Lampu-lampu gantung dengan pendar kekuningan menghias setiap sudut gazebo yang ada di beberapa titik. Sebuah lukisan aquarel menjadi ikon di ruang utama. Dapur terbuka, halaman dengan berbagai bunga, dan aroma masakan lokal menyambut Rio dan Danila. Sejujurnya, suasana itu membuat Rio seperti berada di rumahnya.
“Tumben sekali seleramu?” tanya Rio setelah mereka mendapat tempat duduk.
Mereka memilih meja di luar ruangan. Dari meja itu, lukisan aquarel di ruang utama terlihat lebih transparan karena sorot lampu.
“Aku tahu, seharusnya kita bersama Ibu seka…” kata-kata Danila terhenti.
Tubuh Danila bersandar pada kursi, tetapi matanya tak lepas dari Rio. Sementara itu, pandangan Rio masih tetap pada lampu-lampu di sudut gazebo. Danila tak berani melanjutkan kalimatnya sampai ia benar-benar mendapatkan mata Rio. Namun rupanya, mata Rio tak hanya terpaku pada lampu-lampu itu. Mata Rio tenggelam pada kekosongan yang ada di hadapannya sendiri.
Rio tahu, satu-satunya orang yang bisa menyelami dirinya adalah Danila. Namun, terkadang, ia enggan untuk menerima bahwa ada orang yang teramat peduli pada ruang-ruang paling sepi di hatinya. Rio merutuk dirinya sendiri. Mengapa semenjak Ibu tiada segalanya menjadi sulit dan berbeda?
Rio mengangguk. Dipandanginya wajah Danila yang tenang meski tampak sedikit khawatir. Benar, seharusnya, malam ini ia dan Danila sudah di rumah. Ia, Danila, dan Ibu. Hanya itu. Rio tak ingin ada sesuatu pun yang mengganggu meski sekecil gerak kamera. Ia, senyum Danila, dan senyum Ibu yang beradu dengan sendok dan garpu di meja makan. Derai tawa yang saling bertukar di antara makanan-makanan yang Ibu masakkan.
Seorang pramusaji datang membawa makanan. Ia menurunkan dua piring hidangan di meja berikut dua gelas teh tawar. Rio menarik piring ke hadapannya tanpa memberi reaksi apa pun. Begitu pun Danila. Keduanya tenang dan sama-sama tak tahu bahwa degup jantung mereka berlesakan.
“Sejak kapan kamu suka ini?” Rio mengangkat rendah piringnya. Seporsi garang asem beraroma menggoda, “Dan sejak kapan menu datang sendiri tanpa dipesan?”
Rio memasang wajah jenaka. Melihatnya, senyum Danila mengembang. Ia senang, kekasihnya sudah kembali ke setelan awal.
“Selamat makan, ya,” tangan Danila sejenak berpindah dari sendok ke punggung tangan Rio. Gerakan itu pelan, sebentar, tetapi terasa hangat dan menenteramkan.
Rio segera menyantap garang asemnya. Suapan pertama berlalu begitu saja meski ada sesuatu yang samar-samar dirasakannya. Seperti halnya Rio, Danila mulai menyantap garang asem itu dengan gerakan pelan dan setitik pertanyaan pada dirinya sendiri; seenak inikah garang asem Ibu?
Rio menyuap sendok kedua. Di sana, kombinasi ayam dan kuah santan memunculkan sesuatu yang tadinya samar terasa semakin kentara. Kehangatan mendadak menitik di hati Rio. Kehangatan yang sama ketika ia menonton video sebelum ia pergi ke resto. Kehangatan itu membawanya ke meja makan di rumah dan kepada senyum Ibu.
“Enak?” pendek Danila bertanya. Ingin sekali ia membiarkan Rio menikmati garang asem itu tanpa interupsi apapun, tetapi rupanya, ia pun tak cukup sabar untuk melihat reaksi Rio atas masakan yang ia buat dengan susah payah itu. Meski begitu, Danila berusaha tetap menahan diri.
Rio mengangguk cepat. Ia tak mungkin membiarkan setitik rindu yang ia rasakan karena garang asem itu berderai di meja resto yang bahkan baru dikunjunginya. Ia tak mau menjadi lelaki yang terlampau melankolis di mata Danila.
Tak berapa lama, garang asem di piring Rio tandas tak bersisa. Danila masih khusyuk menikmati. Sampai ia menghabiskannya, ia belum sepenuhnya percaya bahwa ia mampu mengolah resep itu dengan sangat baik. Begitu khusyuknya, ia membiarkan saja Rio beranjak meninggalkannya.
Melihat Rio ke arahnya, seorang lelaki di balik meja resepsionis berdiri dan tersenyum.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sambil bersiap ke mesin kasir. Lelaki itu mengira Rio ingin membayar pesanan.
“Boleh saya tahu siapa koki di sini?”
Alis laki-laki itu mengernyit.
“Anda benar-benar tidak tahu? Jangan bercanda…”
“Apa saya kelihatan bercanda?”
“Yang duduk bersama Anda.”
“Emm… maksudnya…”
“Ya, Danila Lazuardi yang duduk bersama Anda. Dialah pemilik resto ini. Menu ini dibuatnya khusus buat Anda untuk launching besok.”
Rio kembali ke meja dengan banyak pertanyaan di kepala. Mengapa Danila tak pernah bilang apa pun? Mengapa ia sampai berkeinginan mempunyai resto semacam ini? Jelas ini bukan seleranya. Dan bagaimana mungkin ia bisa memasak garang asem dengan rasa sama persis seperti masakan Ibu?
Rio duduk di kursinya dengan perasaan gugup. Namun, pertanyaan itu bahkan tak keluar membentuk sepatah kata pun. Kata-kata seolah hilang dari dunia.
“Terima kasih.” ucap Rio setengah berbisik. Itulah satu-satunya kalimat yang sanggup ia katakan.
Danila mengangguk. Ia lalu menunjukkan sebuah riwayat pesan di ponselnya tertanggal lebih dari satu tahun yang lalu. Pesan itu berisi percakapan tentang resep garang asem Ibu. Membacanya, dada Rio semakin sesak. Rindu yang baru saja dikemasnya, pelan-pelan luruh bersama usapan tangan Danila di punggungnya. Rio pun menunjukkan video miliknya. Danila tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Kali itu, untuk kali pertama, Rio membiarkan rindunya pada Ibu melebur di pelukan kekasihnya. Ia percaya, senyum Danila dan senyum Ibu benar-benar sudah bertemu.
Latif Nur Janah, lahir dan besar di Sragen. Menulis fiksi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Buku pertamanya, Suwung (2022). Menjadi penulis terpilih sayembara cerita anak dwibahasa oleh Balai Bahasa Jawa Tengah (2026). Bisa disapa lewat posel latifnurjanah@gmail.com atau Instagram @latifnurjanah. Saat ini menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.



