Oleh Dwi Scativana Isnaeni
Kita menyebut alam murka, tetapi menolak menyebut diri kita durhaka.
Kita menyebutnya murka alam. Banjir, longsor, kekeringan, panas ekstrem—semuanya kita anggap datang tiba-tiba. Namun jarang kita berani berkata jujur: mungkin yang kita hadapi bukan murkanya alam, melainkan murkanya ibu. Ibu yang terlalu lama diabaikan, dilukai, dan hanya kita ingat sekali dalam setahun—itu pun lebih sering sebagai seremoni, bukan sebagai sikap hidup.
Setiap 22 Desember, Hari Ibu diperingati dengan ucapan manis dan simbol kasih sayang. Media sosial penuh kalimat cinta, bunga dibagikan, baliho dipasang. Tetapi keesokan harinya, hidup kembali seperti biasa. Ibu kembali sendiri dalam sunyi, dan kita kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Seolah-olah bakti bisa dijadwalkan, dan rasa terima kasih cukup diwakilkan oleh satu tanggal di kalender.
- Iklan -
Padahal, ibu tidak pernah bekerja setahun sekali. Ia hadir setiap hari—dalam lelah, dalam diam, dalam pengorbanan yang jarang dihitung. Melukai ibu tidak selalu berarti kekerasan fisik. Ia bisa hadir sebagai pengabaian, ketidaksabaran, kata-kata yang merendahkan, atau sekadar tidak hadir ketika ia membutuhkan. Dalam kehidupan modern, luka semacam ini sering dianggap wajar, bahkan tak terlihat.
Relasi yang sama tampak dalam cara kita memperlakukan alam. Kita hidup di tengah ironi: rumah dipenuhi barang, tetapi sungai di belakangnya dipenuhi sampah. Anak sibuk dengan gawai, sementara ibu menua di ruang yang sama tanpa ditemani. Kita merayakan Hari Ibu, tetapi membuang limbah ke tanah yang memberi kita makan. Kita menuntut kenyamanan, tetapi menolak tanggung jawab. Ketika banjir datang, kita menyalahkan hujan; ketika panas ekstrem melanda, kita menyebutnya cuaca. Kita lupa menyebut diri sendiri.
Dalam tradisi pemikiran Islam, etika tidak pernah dilepaskan dari kesadaran asal-usul. Al-Ghazali menempatkan syukur sebagai inti moral manusia. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan mendalam terhadap siapa yang memberi kehidupan. Orang yang kehilangan syukur akan mudah melukai sumber hidupnya—baik ibu biologis maupun alam yang menopangnya. Dalam kerangka ini, durhaka bukan hanya soal perilaku, tetapi soal lupa diri: lupa dari mana kita berasal dan siapa yang selama ini memelihara.
Kesadaran ini menjadi kunci untuk membaca krisis ekologis hari ini. Alam tidak tiba-tiba “marah”. Yang terjadi adalah relasi yang rusak. Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis lingkungan modern sebagai krisis spiritual. Manusia modern telah memutus hubungan sakral dengan alam. Bumi tidak lagi diperlakukan sebagai ibu yang memelihara, melainkan sebagai benda mati yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Ketika alam menunjukkan dampaknya—banjir, longsor, krisis iklim—itu bukan dendam, melainkan tanda bahwa batas telah lama dilanggar.
Dalam kerangka ini, kata “murka” perlu dibaca ulang. Murka bukan emosi alam, melainkan bahasa konsekuensi. Sama seperti ibu yang terluka tidak selalu berteriak, tetapi menunjukkan jarak, kelelahan, dan sakit yang terakumulasi. Alam pun demikian. Ia tidak membalas, ia bereaksi. Ia tidak mengutuk, ia menunjukkan akibat.
Kisah Malin Kundang menjadi alegori yang relevan. Seorang anak yang lupa asal-usulnya, malu mengakui ibunya, dan menolak tanggung jawab atas kasih yang membesarkannya, akhirnya menerima kutukan. Manusia modern bertindak sebagai Malin Kundang kolektif. Kita menikmati hasil bumi, membangun peradaban di atas tanahnya, lalu menyangkal tanggung jawab ketika bumi rusak. Kutukan itu tidak turun dari langit, melainkan tumbuh dari pilihan-pilihan kita sendiri.
Yang membuat situasi ini semakin tragis adalah pola penyesalan yang selalu terlambat. Banyak anak baru menangis ketika ibu telah tiada. Banyak masyarakat baru bicara tentang lingkungan ketika bencana sudah merenggut segalanya. Penyesalan seperti ini tidak menyembuhkan luka; ia hanya menandai keterlambatan. Kesadaran yang lahir setelah hukuman jarang mengubah masa depan.
Di titik inilah Hari Ibu seharusnya dibaca ulang. Ia bukan perayaan, melainkan peringatan. Bukan simbol, melainkan cermin. Pertanyaannya sederhana tetapi menusuk: sudahkah kita benar-benar berbakti kepada ibu tanpa perlu menunggu 22 Desember yang hanya hadir satu hari dalam setahun? Ataukah kita baru ingat ketika kalender—atau bencana—memaksa kita mengingat?
Pertanyaan yang sama harus diarahkan pada relasi kita dengan alam. Perlukah kita menunggu banjir berikutnya, panas ekstrem berikutnya, atau krisis berikutnya untuk kembali sadar? Jika iya, maka kita bukan sedang belajar, melainkan sekadar bereaksi. Dan reaksi selalu datang terlambat.
Mungkin murkanya alam memang bukan murka dalam arti emosional. Tetapi jika kita mau jujur mendengar, ia terdengar seperti suara ibu yang terlalu lama diabaikan. Dan barangkali yang paling menakutkan bukan murka itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kita hanya mengingat ibu—dan bumi—setelah luka menjadi bencana.
Biodata Penulis
Dwi Scativana Isnaeni adalah Ahli Madya Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan dan Sarjana Pendidikan Seni Pertunjukan. Penulis merupakan seorang pendidik dan penulis yang aktif mengangkat tema-tema keislaman, isu-isu pendidikan, seni dan budaya masyarakat serta kajian ilmiah.



