Oleh :Dody Widianto
Di depan cermin yang sama ia masih saja membayangkan seseorang masih di sampingnya. Cekikikan karena baru tahu, seumur-umur jika preman-preman akan menggambari tubuhnya dengan gambar-gambar garang dan lambang kejantanan semisal tengkorak, belati, celurit, garuda, atau simbol komunitas grup rock, tetapi tidak dengan lelaki di depannya. Sebuah gambar sendok dan garpu menyilang di ujung perut.
“Kau preman, bukan koki.” Ia tertawa sambil terus mencubit perutnya.
Hanya di dalam sebuah bilik dua kali dua meter itu, Ron bisa sejenak melepas kepedihan hatinya. Sama nyamannya saat ia mengeluarkan kotoran ke dalam sebuah lubang tanpa perlu dan susah payah untuk kembali mengingatnya. Namun, ada satu hal yang selalu menggantung dalam kepala. Sebuah wajah yang tak akan pernah dilupakannya.
- Iklan -
Wajah manis yang kadang muncul di sela-sela keramik biru muda tepat di hadapannya. Lalu, senyum itu pindah ke ujung sikat gigi, di mana ia dan sebuah wajah pernah sama-sama menggunakan ujung sikat gigi itu. Dan sebuah kaca di sampingnya. Ah, ia terlalu naif untuk sering-sering melihat wajah pendosa. Seakan tak mampu lagi melihat wajahnya sendiri.
“Pak, nanti pulang bawa martabak ya.”
Tanpa perlu menanyakan martabak telur atau manis, ia sudah paham apa yang diinginkan seorang bocah yang baru saja melepas umur balita. Namun, satu hal, entah kenapa ia merasa selalu berbeda dengannya. Kata orang-orang, anak adalah cerminan dari orang tuanya. Benarkah? Ia tak pernah melihat kesamaan itu. Aneh, lalu siapa dia sebenarnya?
Ia selalu berkaca lagi di depan cermin yang sama. Di luar, di pasar Trimodadi dan terminal Rajabasa biasa ia bekerja, ia begitu ditakuti. Tak ada yang tidak kenal dengannya. Kalau kau hendak ke Lampung dan kau tiba-tiba dibegal atau dicopet di tengah jalan, kau tinggal bilang saja ingin bertemu seseorang bernama Ron Klungsu. Begitu nama lengkapnya. Dengan ringan hati ia akan segera membantu.
Keperkasaannya hanya terlihat di luar. Saat ia kembali dan bertemu dua wajah manis yang begitu dikasihi, tiba-tiba saja urat-uratnya seakan mengendur. Ia bukan laki-laki yang gampang luluh di hadapan wanita, tetapi entah kenapa di depan wanita dan seorang bocah laki-laki di depannya ia tiba-tiba berubah halus perangainya.
“Sebentar lagi lebaran, kau mau dibelikan apa?”
“Tidak Mas, belikan saja untuk Abung. Sebentar lagi dia masuk SD. Banyak kebutuhan yang harus dibeli saat itu. Aku malah mengkhawatirkan Mas.”
Ia tak perlu menjawab. Sejak Ron jadi kepala preman terminal, ia paham bagaimana suaminya bekerja selalu di dalam intaian orang-orang. Petugas ketertiban, atau rusuh dengan sesama preman sebab jatah lahan parkir. Satu hal yang ia kadang begitu merasa sombong, preman dicipta Tuhan dengan tubuh sudah tahan banting. Pernah merasakan pahit getir penolakan dan kekecewaan. Membuatnya berusaha sendiri dengan keras di bawah terik dan hujan. Tubuhnya telah ditempa dengan berbagai ujian kehidupan. Anggapan itulah yang membuat ia kadang seolah merasa dirinya tak perlu ketakutan dan terlalu khawatir dengan dirinya sendiri. Hingga suatu hari ia paham, akan seperti apa benih yang ia tanam itu bertunas dan tumbuh.
Hari itu, ia melihat wanita yang begitu dikasihinya mendadak terbaring demam di ranjang. Mencari-cari Abung tidak ada. Dengan sigap lalu berjalan ke kamar, menanyakan keadaan.
“Tidak apa-apa. Tadi ia hanya mau ke pasar membeli pylox. Katanya ingin menggambari perutnya seperti perutmu. Gambar sendok garpu.” Wanita di depannya masih saja tersenyum di antara bibirnya yang mulai membiru. Melihat pria di depannya telanjang dada.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya. Aku khawatir. Benar-benar khawatir. Ayo!”
“Mas, boleh tanya sesuatu?”
“Iya.”
“Itu perut ‘kan? Bukan restoran?” Perempuan di depannya yang masih terbaring lemah malah mencubit perutnya sambil berusaha tersenyum.
Ron tak menjawab. Bahkan saat sakit pun wanita di depannya masih saja ingin bercanda. Ia hanya ikut tersenyum beku sambil menggenggam jemarinya yang perlahan dingin. Entah kenapa hatinya seakan rapuh. Tubuhnya mendadak layu, membayangkan jika wanita yang dikasihi di depannya mendadak meninggalkannya. Wanita penjual pecel di pasar Trimodadi yang dulu sering digodanya. Awalnya orang tuanya tak setuju. Mana ada yang mau punya mantu preman. Namun, bukankah cinta dan kesabaran saling berkaitan?
Tiga bulan berlalu, setiap sore menjelang magrib, seusai dia melepas semua pakaiannya lalu bercermin di depan kaca yang sama, ia selalu membayangkan wanita itu masih di didepannya. Menyabuni perutnya yang agak maju. Mencubit daging berlemak samping kanan pusar dengan gemas, yang di sana ada gambar sendok garpu. Lalu tertawa bersama.
“Bapak, kenapa sendok garpu, bagaimana kalau gambar capung, laba-laba, atau singa. Itu lebih keren ‘kan Pak? Aku sih pengen gambar robot, susah tidak ya bikinnya?”
Pertanyaan Abung tak pernah dijawabnya. Ia hanya ingin anaknya tak merasakan kepedihan yang sama. Ia ingat dulu saat ia dari kecil hanya diasuh oleh seseorang yang tak tahu ia siapa. Ditemukan pemulung yang tak punya anak di depan toilet POM saat hujan deras. Setiap hari Ron lalu berkutat dengan sampah demi bisa membeli sesuap nasi. Kadang, malam hari, kotak kardus dan gelang karet itu membuatnya keliling sambil bernyanyi demi mendapatkan rupiah. Ia ingat betul saat-saat di mana ia selalu dikejar-kejar petugas keamanan jalan. Namun, pernahkah mereka semua berpikir jika yang ia lakukan hanya untuk sebuah kehidupan. Tentu saja ia tak mau mati kelaparan. Dan sendok garpu itu, seperti doa agar dipertemukan dengan jalan kemuliaan. Tak pernah kelaparan dan bisa saling memberi orang lain kehidupan. Saat pria paruh baya yang hidup sendiri malah meninggalkan Ron untuk selama-lamanya di dalam gubuk terpal biru samping kali. Setelah itu, Ron remaja hidup sebatang kara, tetapi berusaha kuat.
“Abung, tak malu punya orang tua seperti bapak?”
“Kenapa mesti malu? Bapak selalu punya cerita lucu di pasar dan terminal. Abung suka. Justru karena Bapak, aku jarang diganggu teman-teman.”
Hari ini, magrib ini, sebuah suara yang membuatnya meneteskan air mata untuk yang pertama kali setelah puluhan tahun ia tak pernah menangis. Mendengar lantunan ayat suci yang menggetarkan hati. Ia paham suara siapa. Sebuah suara dari kamar yang selalu bertanya tentang tato di perutnya. Selalu bertanya tentang harga-harga mainan di pasar. Selalu bertanya tentang angkot dan bus jurusan ke Jakarta. Tentang kapal-kapal yang besar di Bakauheni, kenapa tak tenggelam ketika truk dan bus masuk ke dalam perut kapal. Dan selalu bertanya, ibu pergi karena sakit apa?
Bahkan sampai sekarang ia masih saja ragu menyampaikan ke Abung jika dialah pembunuh ibunya. Ia terlalu abai dengan kesehatannya sendiri hingga ia menulari penyakit ke tubuh seorang wanita yang begitu dikasihi. Ia benar-benar bingung menyampaikan pesan ini. Ron remaja yang sering meniduri banyak wanita setelah mendapat uang banyak, demi melampiaskan hasratnya. Bagaimana sedih dan hancur hatinya jika ia tahu, ia adalah pembunuhnya. Ketika dokter berkata kanker serviks telah menjalar ke atas perutnya.
“Bapak, kalau aku besar apa bisa ke Jakarta ya? Di sana katanya tempatnya bersih dan bagus. Bisa cari uang banyak.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari peta ini.”
Ron memperhatikan kertas koran bergambar peta yang berminyak. Abung baru saja makan gorengan pisang dari dalam bungkusan itu. Lalu melihat huruf besar dalam judul Peta Jakarta Raya, melihat foto gedung-gedung tinggi dan taman, lalu membaca keterangan di bawahnya. Sebuah kota impian yang dulu pernah dimpikan mendiang ibu Abung untuk pergi ke sana. Mencari kehidupan layak sepert impian orang-orang. Walau kadang, Ron tahu, prasangka kadang tak seindah kenyataan.
Yang ia tak pernah tahu, orang tuanya dulu menamai Ron Klungsu bukan tanpa alasan. Klungsu adalah biji asam Jawa. Ia bisa tumbuh di mana saja saat dilempar. Jika hujan tak kunjung datang, bijinya yang keras akan menunggu dengan setia hingga setetes air datang. Bertunas, lalu tumbuh dalam kondisi apa pun. Kata orang, dia masih ada turunan Jawa-Jogja. Namun, hingga sekarang ia tak pernah tahu sanak saudaranya. Ia tinggal di pulau ini sendiri, lalu mencipta kisahnya sendiri.
Dan bersama seorang bocah di pangkuannya yang asyik membaca peta, tiba-tiba ia kembali ingat pada kenangan-kenangan di depan cermin bersama wanita yang dikasihinya. Perasaan yang ingin ia buang ke dalam toilet bersama kotoran dalam pusaran air yang membawanya lenyap tak bersisa. Merasa tegar dan mampu menerima semuanya.
Tetapi, sampai kapan pun ia tak pernah bisa. Ia baru paham. Tak ada manusia yang bisa menghapus ingatan. Ia harus jadi gila untuk itu. Lalu sebuah suara di depannya membuatnya benar-benar menangis sambil terus menciumi kepalanya. Perasaan bersalah yang berganti raut syukur bahagia. Ketika magrib berkumandang dan Abung tahu akan pamit ke masjid.
“Pulang dari masjid nanti, Bapak mau tidak aku ajari mengaji. Ibu sering bilang begitu padaku. Ibu pernah berkata, entah aku, entah bapak, entah ibu, jika salah satu lebih dulu masuk surga, ajaklah dua yang lain yang masih tertinggal.”
Abung Selatan, 19
Dody Widianto lahir di Surabaya. Ratusan karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.



