Puisi-Puisi Seruni Unie, Dendang Perempuan, Re,Mahligai Waktu, Perkenalan, Dehset Bey

DENDANG PEREMPUAN

; putri sarinande

Lalu kita main suit

yang menang harus cari pacar

yang kalah, boleh petualang

tapi waktu memilih seri

hingga diam-diam, kita menemukan cinta tanpa saling cerita

di luar, kabar nikah muda sedang gencar

sementara kita berusaha untuk terus perawan

di hadapan Tuhan

Solo, 2026

‘RE

Akankah tertulis di almanac

Bahwa sebatang yang raib dari rusuk

… itu aku

Seperti doa bapa di baptis semesta

Dimana subuh bertandang, isya melingkar

Adalah kecup dari biduk

Yang disaksikan tahlil merpati dengan ronce melati

: lajang mengakhiri

Solo, 2026

MAHLIGAI WAKTU

Biarkan jarak berbisik, menjibaku inci penantian

Hingga suatu hari, sore merestui

Untuk kusujudkan namamu di sajadah puisi

Saling menggenggam dalam bait

Saling berkidmat di peluk kalimat

Aku menjelma burung enggang, sedang kau naga langit terbang

Lalu kita menari dalam jubah malam

Setubuh – sepeluh

Solo, 2025

PERKENALAN

Aku terjebak di sudut matamu

Dua puisi bungkam, memporandakan dada perlahan

Di rembulan mana, harus kusembunyi kang?

Sedang malam lebih dulu bertestimoni

Menandai warna sepi

Dan mengajariku binasa

Pada keinginan jiwa

Sebab setelah jabat tangan itu

Nadi membeku

Solo, 2026

DEHSET BEY

Aku hampir

Menasbih diri sebagai abdi

Menghafal tarikan nafasmu

Dalam pelatuk senjata juga bukubuku

Barangkali ada eden kutemui

Tempat cinta bersembunyi

Setelah puluhan tahun, aku menafkahi patah hati

Menutup segala tirai, bahkan saat hasrat berdamai

Aku nyaris menyerah diri

Tapi sontak sadar

Kau tak lebih instrumen asing

Yang tak mungkin kupinang

: hanya dengan bahasa kering

Solo, 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top