Oleh Risen Dhawuh Abdullah
Penggunaan sudut pandang orang pertama menjadi begitu terbatas mengenai pengetahuan yang dikuasainya. Sebab sudut pandang orang pertama hanya bercerita terhadap apa yang dia lihat. Jika diandaikan sebuah ruang, sudut pandang tersebut hanya tahu apa yang ada di hadapannya, tidak tahu apa yang terjadi di luar ruang dimana ia berada—apalagi dalam waktu yang sama. Kecuali dalam konteks tertentu memang ada sesuatu hal yang menjembatani, sehingga amatlah menjadi logis.
Dalam rangka memperjelas keterangan itu, perlulah sebuah contoh. Misalnya, di dalam sebuah cerita terdapat tokoh “aku” atau sudut pandang orang pertama yang bernama A. Suatu ketika ia mengunjungi rumah temannya yang bernama B, tetapi di rumah tersebut yang ditemuinya adalah bukan B. Sekonyong-konyong, tokoh A menyebut orang lain itu sebagai kakaknya si B. Pertanyaannya, darimana tokoh A bisa tahu kalau orang lain itu merupakan kakak dari tokoh B, tanpa ada narasi yang mengarahkan pada informasi tersebut? Ini tentunya akan berbeda jika cerita tersebut disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga. Meski sudut pandang ini menurut ahli naratologi yang bernama Mieke Bal juga bermasalah. Namun, hal itu tidak akan dibahas dalam tulisan ini.
Apabila kita amati, cukup jarang karya sastra yang menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi jamak. Ada sebuah asumsi—tentu karena hanya asumsi pastinya perlu diteliti kembali—yang mengatakan menulis dengan sudut pandang tersebut amatlah sulit. Maksudnya sulit karena tanpa kehadiran sudut pandang orang pertama tunggal. Muara kesulitan itu sesungguhnya bisa dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, “Bagaimana mungkin menghadirkan dialog tanpa kehadiran sudut pandang orang pertama tunggal?”. Tentu pertanyaan itu semacam menjadi patah di hadapan karya sastra tanpa dialog. Sehingga kemudian sangat memungkinkan penggunaan sudut pandang itu dilakukan—sulit bukan berarti tidak bisa.
- Iklan -
Salah satu contoh cerpen yang menggunakan sudut pandang orang pertama jamak, menyertakan sudut pandang orang pertama tunggal adalah cerpen “Sepasang Merpati dalam Sebuah Cerita” karya Supartika yang dimuat di Harian Kompas, 3 Juli 2016 seperti menggambarkan kesulitan tersebut. Dengan tokoh sepasang merpati, tampak terasa pengarang mencoba menyembunyikan tokoh “aku” di sepanjang narasi yang dibangun—kecuali dialog yang muncul bukan karena sepasang merpati itu. Pada awalnya cukup berhasil—dalam arti tidak banyak tokoh “aku” muncul di dalam narasi. Namun, menjelang akhir cerita, frekuensi kemunculan tokoh “aku” menjadi begitu sering. Andai saja tokoh “aku” tidak muncul dalam cerpen ini, bisa menjadi kelebihan tersendiri, menimbulkan kesan lebih intim dari tokoh sepasang merpati.
Ketika selesai membaca cerpen itu, penulis dengan ngawur berkesimpulan, bahwa tidaklah mungkin menghadirkan sudut pandang orang pertama jamak tanpa kehadiran sudut pandang orang pertama tunggal. Menjadi semakin sulit jika mengharapkan dialog ada, kecuali ia dipandang sebagai hasil dari pengamatan sudut pandang orang pertama yang jamak. Atau bermain pada wilayah tindakan tertentu, misalnya berteriak secara serempak.
Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan dari bacaan, anggapan penulis pada akhirnya patah di hadapan cerpen “Bencana” karya Putu Wijaya. Cerpen yang bertitimangsa 1972 tersebut bisa diakses dalam kumpulan cerpen berjudul Blok karya Putu Wijaya. Cerpen tersebut benar-benar menghadirkan sebuah cerita yang begitu unik. Menggunakan sudut pandang orang pertama jamak, tanpa kehadiran sudut pandang orang pertama tunggal. Terdapat dialog, tetapi bukan tokoh “aku” yang bersuara. Melainkan hasil dari pengamatan dari narator. Dikarenakan terkagum-kagum, dibacalah cerpen itu secara berulangkali. Dari pembacaan yang berulang kali itu, penulis menarik beberapa hal kesimpulan dan mungkin bisa diterapkan ketika hendak menuliskan cerita dengan sudut pandang orang pertama jamak.
Pertama, sudut pandang orang pertama jamak bisa tetap berkembang secara alur cerita tanpa menghadirkan sudut pandang orang pertama tunggal karena Putu Wijaya fokus pada penceritaan “pengetahuan kolektif” subjek yang disebut “kami”, meskipun sejatinya pada titik tertentu juga tidak benar-benar kolektif—mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut di paragraf selanjutnya. Cerpen tersebut menceritakan keadaan sebuah kota yang pada awal cerpen menempelkan kepemilikan “kami”, menjadi “kota kami”.
Kota “kami” diceritakan begitu detil dengan segala keadaannya, permasalahan yang melingkupinya, hingga peristiwa ikonik yang menjadi pengetahuan kolektif di kota tersebut. Seperti segerombolan tentara yang datang ke kota, yang awalnya dapat berteman menjadi berselisih, hingga didirikannya sekolah calon prajurit di kota itu. Kemudian juga orang-orang yang berubah sikap, menjadi lebih berani melontarkan kekerasan terhadap siapa pun karena kehadiran para tentara, perempuan-perempuan yang beralih kerja menjadi pelacur. Kekolektifan tersebut, salah satunya dapat disimak pada kutipan berikut:
Gadis-gadis kami di warung telah dirusaknya. Anak-anak kami telah diberinya bayangan tentang dunia yang lain sama sekali dari apa yang kami ajarkan. Pedagang-pedagang kami telah dibuatnya berambisi dan tidak mengenal belas kasihan. Polisi-polisi kami telah diajarnya memukul orang. Pejabat-pejabat kami diajarnya untuk sombong. Dan Kepala Daerah kami telah dilatihnya untuk tidak bermalu.
Penyertaan pronomina “kami” dalam kalimat-kalimat yang disajikan mempertegas kepemilikan atau hal-hal yang melekat pada segala hal yang disebutkan—segala hal tersebut dalam pada akhirnya sebagai bentuk gambaran mengenai kota yang diceritakan. Apalagi ditambah dengan penggunaan kata ulang “gadis-gadis”, “anak-anak”, “pedagang-pedagang”, “polisi-polisi”, dan “pejabat-pejabat”, memberi kesan banyak peristiwa, tidak hanya berlaku bagi seorang saja. Sehingga kekolektifan tersebut menjadi kian kentara.
Kedua, Putu Wijaya menyiasati sudut pandang orang pertama jamak dengan tidak menghadirkan dialog—yang artinya ada lawan bicara. Yang ia hadirkan adalah kalimat langsung dari yang diucapkan oleh subjek yang jamak. Tentu saja tidak meninggalkan sifat kekolektifan dari yang sedang dibicarakan. Dengan hadirnya kalimat langsung tersebut, memberi ruang bagi pembaca untuk mengetahui suara-suara tokoh langsung dari ucapan meskipun juga terbatas. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara Putu Wijaya menghadirkan kalimat langsung tersebut? Putu Wijaya menyertakan keterangan pada setiap kalimat langsung yang dihadirkannya. Simak kutipan 1-4 di bawah ini:
“Bencana akan datang. Kalau tidak wabah, barangkali gempa seperti gempa sebelum perang dahulu,” kata orang-orangtua kami. (1)
“Inilah bencana itu,” kata orang-orang tua kami. (2)
“Inilah bencana yang pernah kuramalkan dahulu,” kata beberapa orang tua dengan gembira. (3)
“Inilah bencana yang pernah kuramalkan dahulu itu,” komentar para orang tua kami kembali. (4)
Adapun keterangan yang dimaksud adalah penggunaan pronomina “kami”. Pada klausa “kata orang-orang tua kami” misalnya, Putu Wijaya mengakali banyaknya subjek dengan meringkas menjadi perwakilan satu suara. Klausa tersebut menggambarkan ringkasan dari banyaknya suara yang sama, yaitu dari “para orang-orangtua kami” yang jumlahnya jelas jamak. Begitu pun dengan contoh 2-4. Pada kutipan ke-3 memang sedikit berbeda, tapi tetaplah kalimat langsung yang hadir merujuk pada suara banyak, para orang tua kami.
Ketiga, cerpen “Bencana” karya Putu Wijaya tersebut didominasi oleh kehadiran peristiwa-peristiwa yang sifatnya kolektif, tidak tertuju pada subjek-subjek tertentu. Dengan kata lain, Putu Wijaya meminimalisir adegan-adegan yang spesifik. Kita dapat sedikit menganalisa pada kutipan berikut ini:
Seperti daun-daun hijau yang gugur, mereka pun turun ke kota memberi warna kota kami yang selama itu sangat tidak terpengaruh oleh kemajuan-kemajuan moral maupun cara hidup di tempat lain. Mereka ada di setiap bus yang keluar-masuk kota kami. Mereka ada di setiap jalanan dan warung di kota kami. Mereka tak pernah melewatkan satu film pun untuk tidak ditonton. Sedangkan di tanah lapang kami mereka mengadakan latihan dan olah raga sepanjang hari.
“Mereka” yang dimaksudkan dalam cerpen tersebut adalah para tentara yang datang ke kota yang diceritakan dalam cerpen. Peristiwa tersebut tidak dihadirkan dengan tanggapan-tanggapan tokoh atau adegan-adegan tertentu, yang berpotensi mempersempit ruang peristiwa dan juga hadirnya dialog yang memunculkan tokoh dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Jika kita cermati secara lebih teliti, kutipan tersebut (baca: fokus pada “kami”) juga menyiratkan ada subjek tertentu di dalam “kami” yang tidak lain adalah “aku”, yang kemudian menyampaikan peristiwa-peristiwa yang ditangkapnya kepada pembaca, menjadikan peristiwa-peristiwa itu hadir seolah-olah disaksikan secara kolektif—inilah yang saya maksud tidak benar-benar kolektif. Subjek “aku” yang tersirat pada “kami” tersebut melaporkan pengamatannya dengan mengatasnamakan “kami”. Sehingga dalam kasus kutipan di atas, bisa disimpulkan tidak selamanya sudut pandang orang pertama jamak dipandang mengetahui semua informasi atau keadaan yang menceritakan dirinya beserta situasi yang menyertainya—dalam konteks cerpen tersebut situasi yang dimaksud adalah latar peristiwa yaitu kota.
Menjelang akhir cerita, hal tersebut semakin kentara saat narator memperkenalkan tokoh bernama Sin Hwa. Tentu saja, kehadiran sudut pandang orang pertama jamak, menjadi terkesan tidak jamak karena yang bersentuhan adalah tokoh “aku” yang tersirat, yang melihat tokoh Sin Hwa dan menceritakan segala hal tentangnya.
Jejak Imaji, 2024-2025
–Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Pernah menimba ilmu di Magister Sastra UGM, 2023-2025. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta. Dapat dihubungi di instagram @risendhawuhabdullah.



