Puisi-puisi Bagus Dwi Hananto

DIWAN SAJAK Engkaukah tuhan? Murni dalam keseluruhan Akulah penunduk yang jatuh berkali-kali Dosa beribu-ribu salah selalu Jika bintang cahaya menyulam malam Aku ingin berdansa di sebuah lantai surga Yang engkau penuhi cahaya-cahaya Tapi sungguh, hanyalah aku debu tanpa ada Malammu bintang cahahya berumah di galaksi Nama-namamu adalah jagad ini Bersembunyi dalam satu engkau Aku terjungkal […]
Dua Perempuan

Oleh : Niam At-Majha Embun setia pada mentari pagi. Senja pun setia pada mega merah. Dari waktu ke waktu keduanya tetap jujur dan setia dengan apa yang telah menjadi titahnya. Keduanya akan tetap beriringan saling membantu, bahkan ketika mendung bergelanyut dengan diiringi rinai hujan. Embun dan senja bersama-sama mengilang menyembunyikan perannya. Namun aku tak bisa […]
Puisi-Puisi Muhammad Rois Rinaldi

Mei 1988-2012 Kita belum berpisah. Masih ada percakapan. Di sekitar surut langit malam kata belum sampai maut. Segera buka kotak kelereng di pojok gudang belakang! Waktu seperti laut di muka patah bebatuan. Meluap-luap. Kita perlu menghitung beberapa dan meluncurkannya di teraso merah karena hari bergerak badan berpindah, tak kuasa memastikan apa-apa. Dunia barangkali dibangun dari […]
Kakek Malioboro

Oleh: Fery Taufiq Kota Yogyakarta sore ini tak seperti hari biasanya. Sosok mentari yang sebagai penerang dalam setiap sudut keindahan kota budaya tampaknya sedang murung. Ia terlihat enggan untuk muncul metampakkan silau wajahnya yang terang-benderang. Entah mengapa dengan hari ini, sehingga dalam benakku yang ada hanyalah prasangka buruk terhadapnya. Aku memberikan sedikit tatapanku ke langit. […]
PUISI-PUISI NIAM AT-MAJHA

PESAN BOCAH cerita bahagia ketika di taman kanak-kanak belum tuntas dengan wajah memelas dengan kasih sayang dan cinta tak terbalas orang tuanya telah menjadi devisa pemerintah dan aku seorang bocah melalui pesan-pesan aku mencari kabahagiaan pundi-pundi rupiah dari negri mekah belum mampu memberikan kekayaan melimpah cinta, kasih sayang di jauhkan dari keluarga semua adalah demi […]
Dua Kisah

Cerpen Bagus Dwi Hananto Candik Ala Purwoko pulang sembari menangis tersedu-sedu di pangkuan Mbah Nim neneknya yang sangat welas asih pada cucu-cucunya itu. “Kenapa, Nang?” “Kesandung tadi, Mbah!” “Cup, cup, cah ganteng, wis, jangan nangis. Mboten pareng nangis kalau jelang maghrib. Kamu seharian keluyuran baru pulang pada saat candik ala begini; bisa-bisa kamu diculik setan.” […]