PuisiSastra

PUISI-PUISI NIAM AT-MAJHA

PESAN BOCAH

cerita bahagia ketika di taman kanak-kanak belum tuntas
dengan wajah memelas
dengan kasih sayang dan cinta tak terbalas
orang tuanya telah menjadi devisa pemerintah
dan aku seorang bocah
melalui pesan-pesan
aku mencari kabahagiaan
pundi-pundi rupiah
dari negri mekah
belum mampu memberikan kekayaan melimpah
cinta, kasih sayang di jauhkan dari keluarga
semua adalah demi pundi-pundi rupiah
dan pemerintah
belum mampu mensejahterakan buruh buruh
yang hingga kini masih di anggap perusuh.
Plukaran 5 Maret 2015-19

AKSARA DALAM TISU DAPUR
degup desah belantara dapur
cita-cita dan harapan terkubur
hembuskan perkabaran sendu
senandung pun hadirkan pilu

aksara kulis dalam tisu dapur
disela-sela aku memasak pada Tuan Takur
jauh dari negri sendiri
jauh dari Negara tercinta
Indonesia

dan haruskah ranting-ranting cita-cita keluarga
ditinggalkan
menjadi pembantu rumah tangga
bukan sebuah ejekan dan olokan
melainkan membantu pemerintah
yang semakin bedebah

aksara tisu dapur
merekam bahagia, jerit tangis terkubur
harapan-harapan kesejahteraan tak ubahnya polusi
tak akan kembali
karena tenaga dan cinta cita-cita telah terbeli
bahkan merdeka atas diri pun ikut terbeli
oleh Negara sendiri.
Maret.2015/19

JIKA, KALAU
jika kita semua terus bungkam
hidup pun akan menjadi buram
jika kita semua harus menerima
merdeka pun akan tinggal nama

kalau kita tak suarakan tentang kemelaratan
bukan berarti kita tak berani mengubah keadaan
kalau kita tak terus bungkam atas ketidakadilan
berarti kita membiarkan pemerintahan semakin tak karuan.
rumah buku kita. Maret.2015

TAK MEMUNGKIRI
_muna,laila,novita
imaji memang mampu dibagi
dari bilik sisi kebalik hati
cinta memang satu tapi mampu kubagi
dan terkadang menimbulkan iri
tak jarang sakit nurani
aku tak memungkiri
jika kalian imaji cinta ini
apabila kalian mampu mematik puji puji
meski tak memahami apa maksud dihati
meski tak ingin dicintai
aku pun harus memiliki
mana yang kujadikan istri
menerima dengan lela hati
Pati, 2016

RINDU PADA GERIMIS

Ku telah alpa sejak kapan ini menjadi, ku juga telah sangsai dengan apa semua teryakini
sembunyi sembunyi, adalah ingkar diri, _ta pada gerimis yang melukis di segala pori pori
dengan segala indera cecap aku menikmati,_ta setelah semalam aku ingin bermalam; dalam temparam, lampion lampion,dengan rindurindu, saban waktu,_ta aku terpasung dalam imaji
tercerai dalam mimpi,terlebih dengan rindu ini, dari gerimis; kau menangis.

Tentang Penyair
Niam At-Majha, lahir dan tinggal di Bumi Mina Tani Pati. Menulis novel dan puisi. Dan menulis buku puisi bersama Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus 2013) Solo Dalam Puisi (Pawon Sastra Solo 2014)Sang Peneroka(Penerbit Gabang Yogyakarta,2014) Tifa Nusantara 2 (Pustaka Senja 2015), Tifa Nusantara 3 (2016) Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Pati (2015-sekarang) Suluk Santri (Diandra, 2018) buku Puisi Tunggalnya Nostalgi dan Melankoli (Pilar Nusantara 2018). Akun FB; Niam At-Majha. IG Niam At-Majha

Tinggalkan Balasan