CerpenSastra

Dua Perempuan

Oleh : Niam At-Majha

Embun setia pada mentari pagi. Senja pun setia pada mega merah. Dari waktu ke waktu keduanya tetap jujur dan setia dengan apa yang telah menjadi titahnya. Keduanya akan tetap beriringan saling membantu, bahkan ketika mendung bergelanyut dengan diiringi rinai hujan. Embun dan senja bersama-sama mengilang menyembunyikan perannya. Namun aku tak bisa seperti itu. Aku masih menyimpan rahasia tentang cinta kita.

Kejujuran adalah sebuah hal yang sangat pahit. Pahitnya melebihi pil dokter, luka atas kejujuran akan tetap membekas hingga nyawa pergi dari raga. Perlu perjuangan lebih saat mengatakan kejujuran; saat berbicara sebenarnya dengan segala rahasia tersimpan rapi selama ini.

Kau belum mengetahui cerita asmaraku yang sebenarnya, sejak sebelum kita menikah sampai kita berumah tangga. Hingga saat ini aku masih menyimpannya rapat-rapat, sampai aku mempunyai pemikiran apabila kebenaran ini akan aku bawa hingga nyawa pergi dari raga.

“Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada istriku.”
“Apa istrimu siap dengan kebenaran ini?”sahut Laila.
“Lalu aku harus bagaimana, Lail.. kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing, kau tahu itu, semakin hari batinku tersiksa dengan cinta antara kita”jawabku dengan penuh kepastian.

Saban malam minggu aku selalu bertemu dengan Laila. Aku berkelekar pada istriku masih ada pekerjaan, sehingga pulangnya telat. Vita tak pernah curiga atas pledoi yang aku katakan. Ia adalah perempuan setia pada suaminya. Tak pernah sedikit pun bertanya menyelidik ketika aku pulang larut, bahkan ketika aku tak pulang. Karena sangat setianya membuat batinku tersiksa.

“Tapi, kau cinta terhadapku kan?tanya Laila dengan merajuk manja padaku.
“Iya..Lail aku mencintaimu, akan tetapi apa selama ini kita akan terus begini?”
“Nanti apabila sudah waktunya tiba aku sendiri yang akan berbicara dengan istrimu, perihal hubungan kita selama ini.”
“Kamu jangan mencari gara-gara Lail, kau ingin merusak keluargaku dan kebahagiaan istriku apa?”
“Kau tak usah takut seperti itu, kau tak usah khawatir atau pun takut tentang kebahagianmu dan istrimu, aku janji apa yang kau takutkan tak akan terjadi” jawab Laila dengan penuh keyakinan.
Aku terpaku membisu dan Laila merayuku dengan mesra, dan ketika mendengar rayuan cinta dari Laila, aku tak mampu berkata apa-apa. Setelah takluk dengan rayuan Laila, aku sedikit melupakan istriku. Kepenatan atas cinta terlarang ini hilang sekejap dengan pementasan drama kumbang yang menghirup, mencecap sari-sari bunga sepuasnya, penuh dengan bahagia.

Perbincanganku dengan Laila perihal kejujuran yang akan ku sampaikan pada Vita belum menemukan akhir. Pertemuan dan bercinta dengan Laila selalu menjadi rutinitas wajib di setiap malam minggunya. Dia tak merasa bersalah aku pun sama. Aku buntu solusi atas masalah ini. Aku seakan memakan buah simalakama. Vita tak pernah curiga ketika tanpa sengaja aku menyebut nama Laila. Tak mungkin Vita curiga sebab mereka adalah bersahabat, dan istriku percaya apabila Laila tak mungkin menghianatinya.

“Tadi banyak kerjaan ya, sehingga pulangnya larut Mas ?tanya istriku ketika aku baru saja sampai rumah.
“Iya dik, pekerjaannya bertumpuk-tumpuk.”timpalku.
Dalam hati terasa ngilu sekali karena aku telah membohongi istriku. Pekerjaan tumpuk-tumpuk dalam tanda kutip.
“Ya udah sekarang istirahat dulu biar adik buatin Jehe hangat.”
“Terima kasih dik….”

Aku hanya mampu memandangi istriku yang berlalu dari hadapanku. Sampai kapan aku harus berbohong dan berpura-pura. Apa malam ini adalah waktu yang tepat untuk berkata yang sebenarnya tentang hubunganku pada Laila selama ini. Semenjak sebelum menikah hingga sekarang. Namun, apakah nanti Vita mau menerima kejujuranku dan memberi maaf atas perbuatanku selama ini dan mau memulai dari awal.
“Mas ini Jahenya,”
“Terima kasih dik, hangat sekali Jahenya seperti kehangatan cinta kita.”rayuku.
“Ah.. Mas bisa saja.”sahutnya dengan tersipu-sipu malu.
Aku memang pandai merayu dan meluluhkan hati perempuan. Bagiku sanjungan dan rayuan terhadap perempuan adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Apalagi terhadap perempuan yang aku cintai, aku selalu berusaha memberikan kejutan yang tak terduga dan cumbu rayuan cinta yang tak terhingga. Karena dengan begitu cintaku akan tetap terjaga.
“Mas..tadi Laila telpon katanya kapan-kapan mau main kesini !”
Aku tersendat ketika mendengar apa yang barusan istriku katakan.
“Pelan-pelan minumnya Mas….”
“Kapan itu dik..?”tanyaku sambil menyembunyikan kekagetan yang aku alami barusan.
“Minggu-mingu ini bilangnya, dan dia tadi juga bercerita akan memperkenalkan orang yang dicintainya sebagai kejutan padaku.”jelas istriku dengan wajah yang berbinar-binar karena akan bertemu sahabat lamanya Laila.

Bagaikan tersambar ribuan petir ketika mendengar apa yang di katakan istriku. Sebenarnya apa yang mau dilakukan Laila, mempunyai tujuan apa sampai menelpon istriku. Apa mungkin mau menghancurkan rumah tanggaku? Jangan sampai hal itu terjadi.
“Aku tak ingin ketenangan dan kebahagiaan keluargaku terganggu, aku harus berbuat sesuatui.”ujarku dalam hati.

Malam ini semakin kelam dan buram. Aku gelisah dalam tidurku. Di sampingku istriku tidur dengan pulas, parasnya cantik dan teguh membuat hatiku semakin cinta. Tapi, apakah cintaku sepenuhnya? Munafik aku, cintaku pada Vita telah terbagi dengan Laila. Aku mencintai Vita dan mecintai Laila.
Akan tetapi cintaku pada mereka berbeda. Dengan Vita cinta yang di ridloi sedangkan terhadap Laila cinta yang di murkai. Meskipun begitu, aku menikmatinya keduanya hingga kini. Sehingga aku mendapatkan resiko, tekanan amat berat atas masalah ini. Sampai tak tahu harus bagaimana. Pilih Vita atau Laila untuk di ajak hidup bersama. Pilih satu tentu ada yang tersakiti, jika pilih dua apa keduanya menerima.

Pagi masih setia dengan embunnya, aku duduk santai di teras rumah dengan kebingungan mendalam. Mata terjaga akan tetapi akal pikiran entah terbang kemana. Aku terpuruk atas cinta yang aku bina sendiri. Dibalik bahagianya cinta deritanya pun tak menemu akhir. Aku telah mengalaminya sendiri. Jika waktu itu, aku tahu kejadiannya akan seperti ini, tak mungkin aku membina cinta kasih dengan Laila. Tak mungkin aku membagi cintanya Vita pada Laila.
“Mas..Laila sudah perjalanan kesini, barusan telpon.”panggil istriku dari ruang tamu.
“Iya dik…”jawabku tanpa bersemangat.

Berakhir sudah sandiwara yang aku sutradarai. Tamat sudah cerita cintaku dengan datangnya Laila. Aku pasrah, aku menerima akibat yang aku buat sendiri. Menanam pasti menuai, bertindak bertanggung jawab. Itulah hukum alam yang tak bisa dielakkan. Aku harus kuat dengan semua yang akan dikatakan Laila nanti. Ya mungkin inilah solusi yang aku ingini. Aku beranjak pergi ke ruang kerjaku sebelum Laila datang kerumah, berpura-pura sibuk dan mempersiapkan hati, menabahkan diri untuk pertemuan kedua perempuan yang aku cintai.

Belum lama aku menafakuri segala apa yang aku lalui dengan Laila atau pun Vita. Terdengar suara istriku yang memanggil-manggil dengan penuh bahagia.
“Mas..Laila sudah datang, sini ikut gabung.”ajak istriku.
“Iya dik, bentar lagi masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Lanjut dulu obrolan kalian berdua.”jawabku dari dalam kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.

Di dalam kamar aku hanya mondar-mandir seperti orang kebingungan. Inilah ujian yang paling berat dalam hidupku. Kuatkah aku melalui ini semua. Nanti siapa tersakiti dan terhianati. Bagaimana aku harus menjelaskan nanti, dan bagaimana aku mampu melewati hari ini. Tak mungkin aku mengakhiri hidupku di kamar ini, sebagai ketakuatan atas segala cinta bercinta yang aku lalui dengan Laila.
Lama aku berdiam diri dalam kamar. Malu dan takut untuk keluar. Bertemu dengan dua perempuan yang sama-sama aku cintai, dan setelah ini harus ada yang tersakiti.

“ Mas…Laila sudah cerita semuanya.”ujar istriku yang berdiri di pintu bersama Laila.
Tersentak kaget. Wajahku pusat pasi, jatungku seakan berhenti berdetak. Darah menjadi beku setelah mendengar perkataan istriku tadi. Dengan spontan aku bersujud di kaki istriku dengan berlinang air mata dan mengiba.

“Maafin Mas, dik….!!!”
Segala rayuan cinta aku lontarkan, akan tetapi Vita diam saja. Dan setelah itu, dengan mengangkat bahuku dan memapahku untuk berdiri. Aku memandang kedua perempuan dengan wajah yang amat malu.
“ Mas tidak usah minta maaf, saya sudah tahu sejak dulu apabila Mas dengan Laila saling mencintai, setiap kali Mas bertemu dan memadu kasih dengan Laila di malam minggu. Adik mengetahui hal itu semua. Akan tetapi saya dengan Laila sepakat agar Mas yang mengatakan yang sejujurnya. Sebagai laki-laki harus jantan dan bertanggung jawab.”

Aku tertunduk dan diam seribu bahasa atas apa yang di ucapkan istriku.
“Mas..tadi Laila sudah cerita semuanya pada Mbak Vita, dan Mas perlu tahu setiap kali akan bertemu dengan Mas Laila selalu meminta izin dengan Mbak Vita, kami sepakat apabila Mas menjadikan Laila istri yang sah dan hidup dalam satu atap.”tambah Laila.
Aku kaget dengan apa yang barusan di katakana Laila.
“Adik, setuju dan ridlo apabila Mas mau menikahi Laila, soal di madu atau cemburu adik tak mempersoalkan itu, yang penting Mas adil dengan kami berdua.”
Bumi seakan-akan berputar-putar. Kakiku tak kuat menopang tubuhku, sehingga aku limbung ambruk. Gelap.
“Pak..Bapak bangun sudah siang, kerja apa tidak?”bentak istriku yang selalu ngomel-ngomel ketika pagi hari.

Dengan heran aku memandang wajah istriku dengan lama. Ternyata semuanya adalah mimpi karena aku tidur setelah subuh.

Tentang Penulis
Niam At-Majha, lahir dan tinggal di Bumi Mina Tani Pati. Menulis novel dan puisi. Dan menulis buku puisi bersama Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus 2013) Solo Dalam Puisi (Pawon Sastra Solo 2014)Sang Peneroka(Penerbit Gabang Yogyakarta,2014) Tifa Nusantara 2 (Pustaka Senja 2015), Tifa Nusantara 3 (2016) Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Pati (2015-sekarang) Suluk Santri (Diandra, 2018) buku Puisi Tunggalnya Nostalgi dan Melankoli (Pilar Nusantara 2018). Tahun 2019, ia menjadi nominator nomor 7 pada penganugerahan Piala Prasidatama Kategori Sastra Balai Bahasa Jawa Tengah. Akun FB; Niam At-Majha. IG Niam At-Majha.

Tinggalkan Balasan