CerpenSastra

Dua Kisah

Cerpen Bagus Dwi Hananto

Candik Ala
Purwoko pulang sembari menangis tersedu-sedu di pangkuan Mbah Nim neneknya yang sangat welas asih pada cucu-cucunya itu.
“Kenapa, Nang?”
“Kesandung tadi, Mbah!”
“Cup, cup, cah ganteng, wis, jangan nangis. Mboten pareng nangis kalau jelang maghrib. Kamu seharian keluyuran baru pulang pada saat candik ala begini; bisa-bisa kamu diculik setan.”
Purwoko malah tambah nangis diperingatkan neneknya macam itu. Neneknya tersenyum sembari mengelus rambut lebat Purwoko yang tersungkur di pangkuannya. “Ayo, mandi dulu. Nunggu Ibu dan Bapak pulang dari pabrik.”
Mbah Nim menggandeng tangan kecil Purwoko dan memandikannya di dekat sumur. Petang telah tiba dan kumandang azan terdengar sayup-sayup. Purwoko menggigil dimandikan dengan air yang telah dingin. Dia tak bisa menolak mandi sebab akan dimarahi Ibu bila belum mandi sampai maghrib begini. Untung Ibunya belum pulang dari mbatil seharian di pabrik rokok beberapa kilo dari rumah. Sedang Bapaknya blandhong di hutan dan biasa kembali ke rumah pada petang macam ini lalu mandi dan salat ke masjid.
Purwoko dipelocot bagian belakang kedua kupingnya dan gigirnya yang hitam oleh daki dan keringat disabuni sedemikian rupa oleh Mbah Nim sehingga terasa sakit. Purwoko tak bisa mengelak, tetapi saat badannya telah terbiasa oleh suhu dingin, terasa segar pula kini perasaannya. Dia kembali riang, meski kadang rasa perih di lutut akibat terjatuh saat berlari pulang tadi masih membayang.
Usai mandi dan dibedaki wajahnya oleh Mbah Nim, Purwoko menunggu suara komat dan salat bareng Mbah Nim di masjid. Bapaknya belum pulang begitu juga Ibunya. Purwoko bertemu lagi kawan-kawannya tadi yang selama orang-orang dewasa salat terus cekikikan sampai ditegur Lik Parmin yang terkenal galak. Mereka semua langsung diam.
Purwoko sudah melupakan lukanya saat di rumah sepeda onthel Ibunya tersandar di dinding anyam dekat tiang kayu yang di atasnya ada kandang burung perkutut. Hanya saja Bapaknya belum juga pulang.
“Bapak belum datang, Pur?”
Purwoko melingkarkan tangannya ke pinggang Ibunya lalu mendongak sembari mengisap ingus yang meler akibat tadi mandi saat petang. Dia menggeleng-geleng.
“Kok sampai malam begini. Maghrib telah lewat,” cetus Ibunya.
Sementara mereka menunggu, waktu telah beranjak isya. Dengan rasa cemas, Ibunya Purwoko pergi ke pos ronda dan bertanya pada bapak-bapak yang biasa ke hutan. Ibunya Purwoko tidak mendapat keterangn lebih lanjut terkait Bapaknya Purwoko.
Tak menemukan jawaban, Ibunya meminta bantuan beberapa tetangga.
“Kita cari ke hutan saja. Blandhong sampai malam itu tidak dikerjakan orang-orang sini. Semoga tidak terjadi apa-apa, ujar salah satu tetangga.
Ibunya Purwoko tidak ikut mencari. Enam orang pria memasuki hutan dan kabar tentang Bapaknya Purwoko menyebar begitu cepat. Orang-orang ramai.
“Kesandung oyot mimang, barangkali!”
“Hush, jangan berkata buruk begitu!”
“Ya, kan, barangkali!”
Sampai tengah malam kemudian, Bapaknya Purwoko berhasil ditemukan. Dia berada di bawah jalinan pohon-pohon sengon tua. Saat ditemukan dalam keadaan pingsan. Seseorang menepuk-nepuk pipinya. Bapaknya Purwoko bertanya di mana dirinya sekarang. Seseorang menjawab di hutan.
Dia pulang dengan selamat diantar enam orang itu. Saat ditanya orang-orang, ingatan terakhir yang mampu dia paksa keluar adalah kala mau pulang di saat petang dan entah bagaimana tubuhnya terasa berat dan tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
“Mari kita berdoa dan jadikan ini pelajaran,” ujar seorang tetua. Yang lain mengamini.

***

Siluman Sumarta

Widi berlari ke arah kerumunan anak-anak muda yang tengah bercanda cabul di depan warung kopi Yu Mul saat langkah-langkah lebarnya berhasil mencapai muka mereka.
“Sabeni dipateni! Sabeni dipateni ula siluman!”
Beberapa anak muda yang tadinya mau rehat dari kerja kuli, kasir minimarket, dan dodolan di pasar itu sontak kaget dan satu di antara mereka ada yang terjengkang.
“Ini mesti hanya guyonan, Mas kan?”
“Sumpah, aku nggak ngapusi! Sabeni dipateni! Ular siluman tadi. Masih ada jejaknya kok!”
Widi menggarit tangan salah satu pemuda. Tampak dia bersungguh-sungguh. Diikuti anak-anak muda lain mereka beranjak ke sawah belakang gedung olah raga daerah tersebut.
Sembari mengajak anak-anak muda tadi, Widi juga meneriakkan kabar ini sehingga para warga yang mendengar ikut bergerak ke sawah bersama mereka.
“Apa iya tho, Mas, siluman ular?” tanya salah satu dari mereka.
“Wis, kalau tidak percaya lihat saja nanti! Aku juga kaget sampai jantungen waktu nemu si Sabeni. Sumpah aku nggak ngapusi!”
Melihat Widi begitu tertekan dan tampak sungguh-sungguh, mereka pun tak membantah pernyataannya.
Ketika sampai di sana, benar apa yang Widi katakan. Sabeni terkapar dengan wajah ungu dan buih yang muncul dari sudut-sudut mulutnya. Di samping Sabeni ada jejak lebar yang dulu ditemukan petugas ronda malam saat janda penjual gado-gado mati dengan keadaan serupa yang mereka temukan saat ini. Kabarnya dulu didapati sisik sebesar satu jengkal tangan orang dewasa dan dari orang pintar setempat mengatakan ada yang tengah ngelmu pesugihan di desa mereka tinggal. Dan kematian ini kembali terulang.
“Masya Allah!”
“Ngeri!”
“Sungguh keji. Tidak wajar ini!”
“Nang, nang! Tolong kabari Pak Lurah!”
Salah satu orang menganjur pada bocah-bocah yang langsung lari secepatnya setelah diperintah.
Saat itulah Pak Lurah Sumarta tengah selesai ritual pesugihan. Ritual itu sudah dia laksanakan selama setengah tahun ini. Pembuatan aspal jalan kampung ternyata menghabiskan banyak anggaran dan sisa yang bisa dikorupsi Pak Sumarta hanya sedikit. Kebutuhan untuk melunasi mobil dan desakan istri simpanannya buat dibelikan rumah untuk dia dan calon bayinya membuat Sumarta kalang kabut. Alhasil dari kenalan lama yang tinggal di luar Jawa, Sumarta berhasil mendapati ilmu untuk lekas sugih ketimbang menanti bantuan pemerintah lagi. Ilmu ini mesti diberi makan tumbal nyawa manusia biar siluman yang menjelma kenyang belaka.

Sumarta datang ke sawah. Bersandiwara seperti dahulu saat dibawa warga ke rumah janda penjual gado-gado. Dia mesti terlihat prihatin dan bajik sebagaimana orang yang dihormati.
“Kita bawa dia ke rumahnya, saudara-saudara. Widi, panggil Modin Yasmin. Kalian anak-anak kabarkan berita duka ini. Sementara nanti saya yang akan ke kantor polisi.”
Orang-orang mengangguk dan mengangsu mayat itu. Sumarta mengembuskan napas panjang. Kurang dua tumbal lagi, bisa beli rumah buat Yati, pikir Sumarta.

Bagus Dwi Hananto, lahir dan tinggal di Kudus. Menulis novel dan cerpen.

Tinggalkan Balasan