PuisiSastra

Puisi-puisi Bagus Dwi Hananto

Bagikan:

DIWAN SAJAK

Engkaukah tuhan? Murni dalam keseluruhan
Akulah penunduk yang jatuh berkali-kali
Dosa beribu-ribu salah selalu
Jika bintang cahaya menyulam malam
Aku ingin berdansa di sebuah lantai surga
Yang engkau penuhi cahaya-cahaya
Tapi sungguh, hanyalah aku debu tanpa ada
Malammu bintang cahahya berumah di galaksi

Nama-namamu adalah jagad ini
Bersembunyi dalam satu engkau
Aku terjungkal berpuluh-puluh
Terus menerus salah menghapal gelarmu
Memandang malam, hatiku yang dina
Adalah rumah para iblis
Dan sungguh sulit menggapaimu
Meski cuma sekilas

Akulah fakir kepalsuan hidup
Dunia penipu, yang fana tak lebih indah
Ketimbang hati penuh keluasan pengembaraan
Anjing itu kutemui dalam wujudku, melolong
Dengan rakus hidup dan buta cinta
Akulah si papa yang tak punya apa
Selain belas kasihmu

2013

DIWAN SAJAK 2

Anggur malam menggantung di langit
Udara maghribi, burung-burung pulang
Pada petang, pada hasrat mengeram
Sayup suara azan menghasut angin
Suara-suara tanpa wajah dalam celah
Tuhan, kesunyian ini adalah nikmat
Dalam dosa ada juga di sana nikmat
Tapi ini tak seperti salah
Ini sesuatu yang dicari-cari sehabis barat
Menaburkan petang yang dalam

Kuda-kuda isya dalam benteng gemintang
Terbang membawa puja-puji namamu
Bayi-bayi telah ditidurkan rembulan
Dalam karpet layang dan kisah seribu satu
Sebagai saksi dari langit

Langit lagi berkata, jendela menghadap miring padaku
Dan sekalian malam membagi cahaya
Manusia kanak mendongak ke aku
Mengharap ada bintang berlayar
Lalu gerimis membisik pada tanah
Pean tapi mengersik di udara
Menyerbuk basah angkasa dengan rejeki yang tumpah

2013

DIWAN SAJAK 3

Udara merabuk sumsum malam
Rembulan hijau diselimut awan
Orang-orang mengaji dengan lirih
Bergetar menyampur dingin angin
Seribu bulan. Barangkali berpendar
Di pucuk-pucuk pohonan
Di ujung-ujung rumput yang gemetar
Di atas surah yang didaras pelahan

Kubaca wajahmu yang tak tampak
Tuhan, apabila rindu telah menari
Para darwish mabuk akan dirimu
Dansa malam larut hingga fajar menyahut
Demi upaya menggapaimu

Jika telah putus napas kami dalam rindu
Di alan menuju kemah gemerlapmu
Akankah kau timbang dahulu segala
Yang kami perbuat dengan percuma
Sungguhpun waktu yang menebus itu?

2013

DIWAN SAJAK 4

Apabila susut suara jadi hening
Peniup-peniup doa telah bangun
Memanjati kaki tuhan yang astral
Barangkali di bulu-bulu kasihnya
Didapati anggur-anggur marun

Doa berkimbang hingga jauh
Ke ujung dan tertangkap di sorga
Lalu harum napas pengaji tak jeri
Terus mengulum noktah hijaiyah
Tanpa sekali didera rasa lelah

Dengan telunjuk kayu dan lampu
Selaksa waktu telah menjelma lalu
Keretap angin tak begitu desing
Segala telah menyampai padanya
Meski dahulu sangat asing

2013

DIWAN SAJAK 5

Di taman mawar kutemukan Sa’di
Duduk dan mematahkan tangkai
Sebuah gulistan telah mengelopak
Dan merah semerbak memenuhi
Hijrah ke lantai-lantai sorga

Kala bulan penuh dan langit
Semu mewajahkan nama tuhan
Bakal turun seribu rembulan
Tiba-tiba berpilin di urat hidup
Bekal kelak kita tiada

2013

-Bagus Dwi Hananto, tinggal di Kudus. Menulis cerpen dan novel. Bukunya: Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia (novel, 2019).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan