Dua Kisah

Cerpen Bagus Dwi Hananto Candik Ala Purwoko pulang sembari menangis tersedu-sedu di pangkuan Mbah Nim neneknya yang sangat welas asih pada cucu-cucunya itu. “Kenapa, Nang?” “Kesandung tadi, Mbah!” “Cup, cup, cah ganteng, wis, jangan nangis. Mboten pareng nangis kalau jelang maghrib. Kamu seharian keluyuran baru pulang pada saat candik ala begini; bisa-bisa kamu diculik setan.” […]

Rindu Menggebu

Oleh: Elin Khanin Kisah cinta sejati manakah di belahan dunia ini yang paling kau kagumi? Yang paling menyita perhatianmu? Apakah kisah tragedi Romeo and Juliet dari Italia? Cintanya yang terhadang oleh kedua keluarga yang saling bermusuhan lalu berujung kematian? Ataukah kisah abad 17 yang mengharu biru dari India. Seorang raja tersohor bernama Shah Jahan yang […]

Pak Sarfaraz

Oleh: Elin Khanin Part 1 “Bapak mau menikah?” tanyaku memastikan pada lelaki berumur dua puluh lima tahun di hadapanku yang sekarang sedang tersipu. Ada berjuta bunga tergambar di wajahnya. Tidak denganku, hatiku hancur berkeping-keping mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, aku sudah sejak lama naksir dengan pak Sarfaraz-guru Tafsir di Madrasah Tsanawiyah Al-Anwar dimana aku sekolah. […]

Kepada Ibu

Oleh: Niam At Majha Kepada yang tercinta; Ibuku. Aku masih ingat dengan janji yang terlontar dari mulut Ibu; akan membiyayai pendidikanku hingga menuai kesuksesan. Dan aku bersumpah setia agar cita-citaku dan harapan luhur tersebut tercapai. Meskipun banyak nada-nada nyinyir dari tetangga sebelah. Angap saja sebagai angin berhembus, tak perlu di tanggapi dan lebih baik sukut […]

Kiai Mosya

Oleh Niam At-Majha Selapan sekali, tepatnya selasa wage adalah hari yang paling di tunggu oleh masyarakat desa Parukan. Orang-orang sudah berjubel di depan masjid untuk menunggu datangnya Kiai Mosya, pengajian rutinan yang di adakan oleh Kiai Mosya. Masyakat desa Parukan berebut untuk mencium tangan Kiai Mosya, dari yang tua, sebaya bahkan tua. Semakin tanganya di […]

“Huuuu … Huuu … Huuu”

Oleh Elin Khanin Suara tangisan menyayat hati terdengar dari padepokan Ki Wareng. Padepokan itu terletak di belakang pesantren. Samping sawah, di pojok atas tebing. Tumbuh subur semak belukar, pohon trembesi, pohon Albasia, dan bermacam-macam tumbuhan liar yang tumbuh subur grembuyung menaungi padepokan itu. Dari situlah tangisan itu berasal. Di sebuah kamar dengan penerangan seekor kunang-kunang […]