CerpenSastra

Rindu Menggebu

Oleh: Elin Khanin

Kisah cinta sejati manakah di belahan dunia ini yang paling kau kagumi? Yang paling menyita perhatianmu?

Apakah kisah tragedi Romeo and Juliet dari Italia? Cintanya yang terhadang oleh kedua keluarga yang saling bermusuhan lalu berujung kematian?

Ataukah kisah abad 17 yang mengharu biru dari India. Seorang raja tersohor bernama Shah Jahan yang begitu mencintai permaisurinya bernama Arjumand Begum. Hingga membangun sebuah bangunan megah bernama Taj Mahal untuk cintanya yang agung agar tetap terkenang.

Atau mungkin kisah cinta melegenda sekaligus memilukan dari tanah Arab yaitu Laila Majnun. Seorang pemuda bernama Qays yang bukan dari keluarga terpandang hanya mampu memberikan bait bait puisi kepada gadis berwajah elok bernama Laila.

Ketika gayung tersambut, dan Laila tertawan oleh puisi-puisi romantis Qays. Lagi-lagi cinta mereka terhalang oleh restu keluarga Laila yang merupakan orang kaya dan terpandang. Cinta mereka pun berakhir tragis. Qays meninggal di samping makam kekasihnya.

Tentu masih banyak kisah cinta sejati yang mempunyai warna abadi di bumi ini. Yang tak bisa kuulas satu-satu.

Tapi jika aku disuruh memilih mana kisah yang paling memilukan, maka aku akan memilih Laila Majnun. Kenapa? Karena kisah itu yang paling dekat denganku.

Qays bagaikan Kang Amar yang pandai merangkai aksara menjadi bait-bait cinta yang menggetarkan jiwa. Dan aku seperti Laila yang tak boleh mencinta pemuda dari golongan orang kurang berada. Dia yang hanya seorang Kang Ndalem dan Kang santri. Sama seperti Qays.

Kukira ujung kisah kami akan sama. Akan putus dan takkan mencapai muaranya.
Tapi di bawah langit Mekkah itu aku seperti mendapat kekuatan untuk terus melangitkan doa. Lalu skenario Allah begitu indah.

Berawal dari selfie di depan Roudloh hingga ponsel yang bermasalah menjadi wasilah akan cinta kami. Allah, terimakasih … engkau tak menjadikan kisahku setragis Laila dan Qays.

Benar-benar seperti mimpi. Tapi cincin yang melingkar di jari manisku pertanda semua yang kualami di tanah Haram itu betul nyata. Sebuah perjalanan suci mengiringi perjalanan cinta.

Suara talbiyah, basmalah, takbir, adzan, suara derap kaki ahli ibadah yang sedang tawaf, aroma zaitun dan masakan di restaurant Royal Dar Aleiman, mesin pesawat, gumpalan awan yang berarak indah bergantian berdengung di telinga dan berkelebat di depan mata.

Sembilan jam lalu kami berpisah dan saling mengeratkan pelukan, tapi aku sudah begitu merindukannya. Ah, mungkin Kang Amar sibuk hingga tak sempat mengubungiku. Namanya belum ada dalam daftar ratusan chat yang menyapa ketika aku menjejak kembali ke kampung santri ini. Sabar Ishma, sabar.

Dua mobil yang menjemput kami perlahan memasuki pelataran pesantren. Para santri berpakaian putih dan rapi siap menyambut. Begitu aku dan Abah turun mereka langsung sigap menyalami. Mbak santri berebut mencium tanganku dan Kang santri berebut mencium tangan abah. Para Kang khadam juga sibuk menurunkan koper dan tas tas dari bagasi.
“Assalamualaikum, Ummi.”
“Waalaikumsalam warrahamatullah. Alhamdulillah.”
Ummi langsung memelukku erat lalu mencium kedua pipiku. Matanya berkaca-kaca terharu dan bahagia.

Aku berusaha bersikap sebiasa mungkin meskipun dalam hati malu setengah mati. Kabar pernikahanku dengan Kang Amar pasti sudah tersiar di pesantren Abah maupun Pakdhe.
“Cieeee, nganten anyar. Ealah, jebul nunggu ketemu di sana. Owalaheeem,” cibir Kang Heri. Lalu disusul gelak tawa keluarga Pakdhe Njamil. Para santri pun ikut terkikik-kikik.
“Kenopo? Sampean iri tah?”
“Hahahaha. Nggak! Ngopo iri. Kurang kerjaan.”
“Paling nanti sampai rumah minta Budhe kawin,” balasku lagi sambil menjulurkan lidah.
“Hah! Ogah!”
Budhe Tutik dan Ummi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

**
Dalam sekejap ruang tamu putra dan putri penuh dengan para santri, tetangga, dan sanak kerabat. Mereka kompak menengadahkan kedua tangan dengan mata berkaca-kaca ketika Abah menggemakan doa keberkahan.
“Allahumma yasirlana ziarata makkata wal madinatal munawwaroh.”
“Amiiin.”
Sampai malam rumah tak pernah sepi. Abah masih asyik mengobrol di ruang tamu bersama sahabat-sahabatnya.
Sedangkan aku membantu para Mbak Ndalem menyajikan oleh-oleh umroh. Menuang air zam zam ke dalam gelas-gelas kecil berkilauan dan kurma pada piring – piring.
“Ish.”
“Iya, Ummi.”
Ummi memintaku masuk kamar. Aku segera mengikutinya dan mengunci pintu kamar Ummi. Wajah beliau terlihat sangat serius.
“Pripun, Um?”
“Mulai besok kamu harus mikirke acara nikahmu lho. Amar kapan pulang ke sini?”
“Katanya secepatnya, Ummi.”
“Oh ya wes. Nek bisa minggu depan tasyakuran pernikahane. Tadi Ummi wes pesen sama Cah-cah ndalem dan pengurus buat rapat acaramu nanti.”
“Nggeh, Ummi matursuwun sanget.”
Ummi begitu antusias membicarakan acara pernikahan nanti. Betapa bersyukurnya aku melihat beliau sudah berubah sama sekali dibanding dulu.

=====
Sudah dua hari Kang Amar tak ada kabar. Entah berapa ratus kali aku memeriksa ponsel untuk mengirim pesan dan panggilan tapi hapenya tak pernah aktif. Semenjak perpisahan di lobi hotel Makkah, terhitung hanya dua kali ia mengirim pesan.
[ Hati-hati, Istriku. Aku selalu merindukanmu.]
[ Aku akan segera pulang ke pelukanmu. Mmuaach]
Ck. Bisa norak juga Kang Ndalem itu. Aku selalu tersenyum geli membaca pesannya. Berharap akan dihujani pesan-pesan serupa kalau sudah sampai di Indonesia.
Aku sungguh tak berani menyampaikan pada Ummi kalau Kang Amar belum mengirim pesan bahkan menelepon sama sekali. Hapenya selalu nonaktif. Aku semakin resah dan bayangan yang tidak-tidak tentangnya mulai mengusik setiap detik, setiap menit.
“Piye, Amar ke sini kapan? Dia harus ngurus nikahe lho soale baru sah secara agama. Wong di sini sudah ribut dan ramai begini kok dia belum ke sini ki piye?”
Ummi mulai resah dan aku semakin gundah. Tapi aku tak boleh kelihatan khawatir di depan Ummi. Jadi aku hanya bilang Kang Amar akan segera ke sini.
Sudah 276 kali aku melakukan panggilan dan 17 chat tak terbalas.
[ Kang, jenengan di mana to?]

Ya Allah, ingin menangis aku rasanya. Apa lelaki itu sengaja menghindar. Apa ia sudah berubah pikiran telah memperistriku? Apa ia tak boleh boyong oleh kyai-nya Jakarta karena sangat menginginkan Kang Amar menjadi menantunya?
Aku tergugu di sudut kamar. Bayangan tentang Kang Amar dan Nayla putri Kyai Jepara meruntuhkan pertahananku.
Sudah lima hari Kang Amar tanpa kabar. Perasaanku semakin kacau. Aku menangis kalau sedang sendirian di kamar. Rasanya benar-benar putus asa. Aku sudah bertekad kalau sore nanti Kang Amar belum juga ada kabar maka kuceritakan semua ini pada Ummi dan Abah.
“Bojomu sudah telepon?” tanya Abah ketika aku akan menuju aula menyimak para santri.
“Sampun, Bah,” jawabku lirih. Abah tak mungkin tahu kalau hatiku serasa tersayat. Abah tak mungkin tahu kalau kebohongan ini sangat menyiksaku.
Maka setelah menyimak mbak mbak santri ngaji, aku meminta satu dari mereka untuk menyimakku. Kupinta mereka segera meninggalkan aula ini agar aku bisa menderas dengan tenang dan dalam hening.
“Tolong simak ya, Mbak satu juz.”
“Nggeh, Ning. Juz pinten, Ning?”
“Juz 3, Mbak.”
Mbak santri ini mulai menyimakku dengan tawadzu dan aku menderas dengan memejamkan mata. Bersandar pada tembok sambil mendekap bantal kecil erat.
Dan sampailah pada surah Ali Imron ayat 153 : Jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu.
Ayat ini seketika membuat tenggorokanku serasa tercekat. Mulutku terkatup rapat tak mampu lagi meneruskan.
“Li kaila tahzanu … li kaila tahzanu … Li kaila ….”
Ya Allah, air mataku menetes. Rinduku sudah tak tertahankan lagi. Dan lelaki yang seolah menghilang tanpa jejak itu benar-benar membuat hatiku perih dan sakit.

Aku segera mengusap air mataku dengan mukena. Aku sudah tak peduli dengan Mbak santri di depanku yang pasti sudah heran melihatku tiba-tiba menangis begini. Mbak santri itu terdiam, aku pun diam masih dengan memejamkan mata dan menyembunyikan wajah di balik bantal yang kudekap.
“Likaila tahzanu ‘ala … hiks.”
” ‘ala maa fatakum.”
Deg.
Suara itu. Suara yang aku rindukan setengah mati. Aku terbelalak seketika mendengar suara itu. Kuturunkan bantal dan mengusap kedua pipi yang basah oleh air mata.
“Kok nangis? Rindu ya sama Kang ndalemu ini?”
Kini seraut wajah kharismatik itu sudah berada lurus dengan wajahku. Mbak santri tadi yang menyimakku sudah tidak ada. Digantikan dengan seorang laki-laki mengenakan kemeja putih dan sarung merah marun bersila sambil terus tersenyum. Kang … Amar? Gemas dan sebal sekali aku padanya.
“Arrghh, capek sekali saya, Ning. Eh, istriku.”
Lalu tanpa merasa berdosa ia rebahkan kepalanya pada pangkuanku.
Aku yang jengkel setengah mati hanya bisa diam membeku.
“Ning Ishma Al-Hana, aku sangat merindukanmu.”
“Ning.”
“Istriku.”

Aku masih bungkam sambil membuang muka.
“Eeeem, maaf ya berhari-hari ndak ngasih kabar. Sepulang umroh, saya sibuk meladeni tamu-tamu Abah Yai Zarkasyi dan teman-temanku. Lalu pelan-pelan memberi pengertian pada Abah Yai kalau mau boyong. Beliau tidak mau kalau saya boyong tanpa ada acara berkesan apapun. Jadi beliau menyiapkan acara perpisahan meskipun sederhana. Beliau juga ikut bahagia atas pernikahan kita,” tuturnya pelan dan panjang lebar.
Aku masih mematung. Tak mampu berkata apapun. Bahagia, sedih, jengkel, bersyukur menjadi satu. Ingin menangis sekencang-kencangnya tapi kutahan. Hasilnya bibirku bergetar hebat sambil air mata meluncur tak keruan.
“Loh, loh, Ning kok nangisnya tambah kenceng. Suamimu sudah datang dari jauh-jauh hanya untukmu. Harusnya senang.”
Kang Amar bangun. Duduk mendekatiku dan mengusap air mataku. Menyandarkan kepala ini pada dadanya.
“Maaf nggeh, Ning. Cup sudah, jangan nangis,” katanya semakin mengeratkan pelukan.
Yang masih membuatku jengkel adalah kenapa dia tak mengirim chat satupun. Ada apa sih dengan ponselnya. Sudahlah, aku tak mau bertanya apa pun. Hatiku sakit sekali.

“Lepas!” ucapku parau.
Kang Amar perlahan melepaskan pelukannya.
“Bawakan sajadahku!” perintahku lagi dengan nada emosi. Biar, aku memang sengaja.
Aku berdiri dan melangkah keluar aula tanpa berkata apapun. Kuhela napas berkali-kali untuk menetralkan emosi. Mengusap wajah sambil berjalan ke lantai atas, menuju kamar. Tentu saja tanpa memperdulikannya yang kini mengekorku.
Kini aku tertawa tanpa suara penuh kemenangan. Awas saja kalau sudah sampai kamar, akan kuterkam nanti.
“Ning … eh, Dek. Eeem, Istriku. Zaujaty … maafkan aku.”

Aku berbalik dan menatapnya nyalang. Kang Amar tersenyum kikuk. Berusaha menggodaku agar tersenyum lewat kerlingan matanya. Dasar.
“Kenapa nggak pernah chat?”
Ekspresi wajah Kang Amar langsung berubah kutanya begitu.Wajahnya tertunduk lesu. Arrgghhh, aku benar-benar kesal.
“Kukira sudah nikah lagi di Jakarta.”
Kang Amar menatapku dalam. Melangkah mendekat ke arahku.
“Mau apa jenengan?”
Dalam sekejap tubuhku berada dalam cengkeramannya.
“Lepas!”
Kang Amar tersenyum sambil terus berusaha mendekatkan wajahnya pada wajahku. Kudorong dadanya tapi percuma. Dia lebih kuat.
“Aku memang sengaja nggak menghubungi sampean. Biar rindunya terasa spesial. Juga pengen ngerjain sampean, Ning-ku sayang. Hehehe.”
Betapa terkejutnya aku mendengar penjelasannya.
“Mmuach.”
Dia mencium bibirku yang kini melongo. Dasar, Kang ndalem itu minta dicincang.
“Iiiih, dasar jahiiil. Huaaa.”
Aku memukuli dadanya sebelum menghambur ke pelukannya.
“Huhuhu. Jahaaaat.”
“Hehehe.”

Biodata Penulis
Elin Khanin alumni PIM tahun 2007. Beberapa tulisannya berlatar Pesantren dan genre komedi-romantis. Terbukti tulisannya mampu menghipnotis ribuan pembaca dan dibikin baper.
Karya pertama Elin Khanin juga sudah best seller dengan judul “Cinta Sang Abdi Ndalem.” Tulisannya tersebar di media media diantaranya Pojok Pim

Tinggalkan Balasan