CerpenSastra

“Huuuu … Huuu … Huuu”

Oleh Elin Khanin

Suara tangisan menyayat hati terdengar dari padepokan Ki Wareng. Padepokan itu terletak di belakang pesantren. Samping sawah, di pojok atas tebing. Tumbuh subur semak belukar, pohon trembesi, pohon Albasia, dan bermacam-macam tumbuhan liar yang tumbuh subur grembuyung menaungi padepokan itu. Dari situlah tangisan itu berasal. Di sebuah kamar dengan penerangan seekor kunang-kunang dalam toples, Ningrum menumpahkan air matanya. Tak habis pikir, sudah satu tahun cintanya tak tersambut oleh Bima. Dia memang ganteng, bahkan sekitar padepokan Ki Wareng menyebutnya mirip dengan Haris, santri putra paling tampan di Pesantren Al-Fatah.

“Ada apa to, Nduk?”

Gadis itu hanya bergeming. Sedu sedannya malah semakin kencang kala ibunda menghampiri membelai rambutnya lembut. Kalau seperti ini, Ningrum tampak seperti santri putri pada umumnya. Dia memang selalu berambisi seperti mereka. Memakai jilbab, baju tunik, dan sarung yang ia ambil dari jemuran atas. Biasanya ada saja yang lupa mengambil jemuran yang sudah kering. Dibiarkan berkelebat-kelebat sampai esok hari lagi.

Ningrum kadang merengek minta dibelikan mukena persis seperti milik Zahra, santri wati yang merenggut utuh hati Bima, pujaan hati Ningrum. Apapun yang dilakukan Zahra dan dikenakannya selalu membuat Ningrum ingin meniru. Agar Bima mau sekali saja meliriknya.

“Di desa ini kan ya yang ganteng nggak cuma Bima. Dia itu kan ganteng cuma pas mendo-mendo jadi Haris saja. Kalau wujud asli ya sama aja. Kaki mirip kaki kuda sama kayak kita.”

“Hiks hiks. Huuu … Huuu. Pokoknya Ningrum cuma cintanya sama Akang Bima, Mbok,” keluh Ningrum sambil seg-segen.

“Selama ini Ningrum sudah berusaha total menjadi gadis yang layak untuk Kang Bima. Ningrum belajar ngaji, ngapalin quran, salat jamaah sama santri-santri. Tapi tetap saja Kang Bima nggak mau lirik.”

“Ya, namanya cinta kan ya nggak bisa dipaksakan to, Nduk. Lagian Bima kui ya aneh. Cinta kok bukan sesama bangsanya. Malah suka sama manusia.”

Ningrum bangkit terduduk dengan mata merah. Menatap tajam seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Mbok, aku mau kasih pelajaran buat Zahra.”

“Maksudnya?” dahi Simbok mengernyit.

“Akan aku ganggu si Zahra itu.”

“Kamu ndak usah kayak gitu. Ngoyo itu namanya. Nanti si Bima itu malah semakin illfeel sama kamu.”

Ningrum menoleh menatap Simbok heran.

“Illfeel? Makanan apa itu, Mbok?”

“Ealah bocah. Kamu itu masih muda kok kalah gaul sama simbokmu ini. Ilfeel itu bahasa inggris. Gini-gini Simbokmu sering dengerin Ustadzah siapa itu, Ustadzah Elin-Guru Bahasa Inggris di sini pas lagi ngajar di kelas. Illfeel itu artinya tidak suka alias benci.”

Simbok mengakhiri penjelasannya dengan menjitak kepala Ningrum.

“Aduh sakit, Mbok. Emm … gitu ya, Mbok.”

“Makanya yang kamu pikirin tu jangan si Bima wae. Belajar lah biar bisa nyaingi si Zahra itu.”

“Iya iya, Mbok.”

Terdengar suara para santri membaca wirid dan asmaul husna dari arah Masjid. Suara itu menggema sampai Padepokan. Bahkan Ki Wareng dan para suhu padepokan sampai hafal dan menirukan ketika sedang rapat.

بِاَسْمَاءِكَ الْحُسْنَىْ – اِغْـفِرْلَنَا ذُنُوْ بَـنَا
Bi ‘asmaa ‘ikal khusnaa – Ighfir lanaa dhunuubanaa
Dengan Asma Ul Khusna – Ampunilah Dosa Kami

وَلِــوَالِــدِنَـا – وَذُ رِّ يَّا تِـــنَا
Waliwalidiinaa – Wa dhurriyaa tinaa
Dan Dosa Kedua Orang Tua Kami – Dan Keturunan Kami

كَفِّـِرْعَنْ سَيِّئَاتِنَا – وَاسْـتُرْعَلَى عُيُوْبِنَا
Kaffir ‘an sayyi’a tinaa – Waastur ‘alaa ‘uyuu binaa
Hapuskanlah Kejelekan Kami – Dan Tutuplah Cacat Kami

وَاجْبُرْعَلَى نُقْصَانِنَا – وَارْفَـعْ دَرَجَاتِـنَا
Waajbur ‘alaa nuq shoo ninaa – Waarfa’ darojaa tinaa
Tambahlah Kekurangan Kami – Naikkanlah Derajat Kami

وَزِدْ نَا عِلْمًا نَافِـعًا – وَرِزْ قاً وَّاسِــعًا
Wa zidnaa ‘ilmaannaa fi’aan – Warizqon Waasi’aan
Dan Tambahilah Kami Ilmu Yang Bermanfaat – Dan Rezki Yang Luas

حَـلاَلاً طَـيِّــبًا – وَعَـمَـلاً صَالِحًا
Khalaalan thoyyiban – Wa’amalan sholikhaan
Yang Halal dan Bagus – Dan Amalan Yang Sholeh

وَنَـوِّرْ قُلُـوْ بَـنَا – وَيَـسِّـرْ اُمُـوْرَنَا
Wanawwir quluu banaa – Wayassir umuu ronaa
Dan Terangkanlah Hati Kami – Dan Mudahkanlah Urusan Kami

وَصَحِّـحْ اَجْسَادَناَ – دَائِـمَ حَـيَاتِــنَا
Wa shokhi’ ajsaa danaa – Daaa’ima khayaatinaa
Dan Sehatkanlah Badan Kami – Selama Hidup Kami

اِلَى الْخَـيْرِقَرِبْـنَا – عَنِ الشَّـرِّ بَاعِـدْنَا
Selama Hidup Kami – ‘Anisy syarri baa’idnaa
Ke Kebaikan Dekatkanlah Kami – Dari Kejelekan Jauhkanlah Kami

وَقُـرْبَى رَجَـائُنَا – اَخِـرًا نِلْنَا الْمُـنَى
Waalqurbaa rojaaa ‘una – Akhiiroon nilnalmunaa
Dan Dekat Pada Allah Harapan Kami – Akhirnya Kami Memperoleh Kenikmatan

بَلِـغْ مَـقَاصِـدَنَا – وَاقْـضِ حَوَائِجَـنَا
Balligh maqooshidanaa – Waqdhi khawaa ‘ijanaa
Sampaikanlah Maksud-maksud Kami – Dan Penuhilah Hajat-Hajat Kebutuhan Kami

وَالْحَمْـدُ ِلا ِلَهِـنَا – اَلَّـذِى هَــدَا نَا
Walkhamdu li’ilaahinaa – Alladhii hadaanaa
Segala Puji Untuk Tuhan Kami – Yang Telah Menunjukkan Kepada Kami

صَلِّ وَسَلِّمْ عَـلَى – طَهَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنْ
Sholli wasalim ‘alaa – Thoohaa kholiilir rokhmaan
Semoga Allah Memberikan Rahmat dan Keselamatan – Atas Thoha/Nabi Muhammad menjadi Kekasih
وَاَلِـهِ وَصَـحْبِـهِ – اِلَى اَخِرِ الزَّمَـانْ
Wa ‘aa lihii washokhbihii – ’Ilaa aakhirizzamaan
Dan Keluarganya dan Sahabatnya – Sampai Akhir Masa

Setelah bacaan asmaul husna itu selesai Ki Wareng kembali memimpin rapat.

“Bagaimana ini agar padepokan kita tetap aman sentosa? Tidak ada gangguan jin kafir dan penggusuran para Kyai?”

“Kita latih pemuda di sini dengan ilmu bela diri, Ki. Kalau perlu kita undang para jin yang ahli dalam persilatan dari kota lain. Biasanya kalau pelatihnya dari luar itu lebih greget.”

Ki Wareng manggut-manggut setuju. Notulen duduk khusyuk mencatat setiap saran yang telah di ACC oleh Ki Wareng.

“Oke. Lalau bagaimana dengan kekhawatiran kita tentang penggusuran oleh para Kyai? Selama ini kita tidak pernah menganggu mereka. Bahkan selalu mengalah dan berpindah tempat setiap ada bangunan baru. Dan akhirnya padepokan kita berada di dekat jurang seperti sekarang.”

“Menurut saya kita lebih aman tidak usah mencampuri apapun yang berkaitan dengan manusia, Ki. Seperti jangan menampakkan diri. Masuk ke jasad mereka. Intinya kita kalau mau ikut belajar ya jangan sampai tergiur menggoda atau membuat mereka kesurupan,” usul seksi Humas PerJinan.

“Emmm … baiklah. Apa yang kalian usulkan memang benar.”

“Kalau begitu kita harus saling mengingatkan dan menghukum jika di antara kita ada yang melanggar keputusan yang telah di sepakati.”

“Baik.”

Mereka membawa serempak. Lelaki paruh baya berkuping runcing ke atas itu pun bersiap beranjak. Namun sebelum itu terdengar teriakan dari arah pesantren. Mereka semua menoleh ke sumber suara.

“Arrrrggggghhhhh … tolooooong … aku mau mati, aku mau mati.”

Ki Wareng mengajak semua pengurus padepokan melihat apa yang terjadi. Hanya melihat saja niatnya, tidak mau mencampuri apapun.

Tepatnya di kamar Aisyah, semua santri berkumpul mengerubungi Zahra yang tengah kesurupan.

“Toloooooong … heeeemmm … pokoknya aku mau matiiiii.”

“Sadar, Ra … ayo kamu pasti bisa melawan.”

Ki Wareng dan yang lain saling menatap. Simbok menyusul dengan langkah tergopoh-gopoh. Bima, pemuda itu bersama kawan-kawannya juga menyusul untuk melihat apa yang terjadi. Dia begitu tampan layaknya santri lainnya. Mengenakan kemeja, sarung, dan peci.

“Zahra?” ucap Bima sambil memicingkan mata. Gadis itu terus menggeram dan berteriak. Beberapa Ustazdah masuk meminta para santri ikut membacakan ayat alquran. Yasin, ayat kursi, mu’awidzatain dan suroh Al-Jin.

“Hey! Kalian ngapain baca alquran? Nggak mempan tahu? Aku aja mahir ngaji,” ucap Zahra menggema.

“Siapa kira-kira yang masuk ke tubuh anak itu, Suamiku?” tanya Simbok pada Ki Wareng.

Ki Wareng menghembuskan napas berat lewat hidung bengkongnya. Matanya yang merah semakin terlihat merah.

Sedangkan Zahra terperangah melihat Ayahandanya dari arah pintu pondok putri. Lalu menunduk malu. Bersembunyi di balik punggung Siti, temannya. Untung Siti bukan anak penakut.

Simbok lalu menceritakan perihal Ningrum yang tadi nangis-nangis curhat cintanya yang tak berbalas.

Ki Wareng merasa malu dan geram melihat putrinya tak bisa mengontrol diri hanya gara-gara cinta.

“Cepat panggil Abah yai untuk ngusir jinnya!” titah Mbak pengurus kepada salah seorang santri.

Jelas membuat Ki Wareng khawatir jikalau nanti Kyai mulai membacakan rangkaian mujahadah dan bacaan khusus yang tak dikuasainya.

“Bagaimana ini, Pak?” raut simbok khawatir.

“Paksa Ningrum keluar dari tubuh Zahra!” titah Ki Wareng pada istrinya.

Bima yang berada di situ ikut dengar dan merasa marah kekasihnya tak berdaya oleh perbuatan Ningrum. Namun ia tak sampai berbuat apapun karena tak punya cukup keberanian melawan Ki Wareng yang sangat berkuasa itu.

Bima tertunduk lesu dan pergi tanpa sepatah kata.
Ningrum melihat punggungnya dengan air mata membanjir.

“Nak, keluar dari tubuh Ning Zahra ya?”

“Huhuhu … nggak mau, Mbok.”

Mereka bercakap-cakap dari batin. Teman-teman Zahra kini menangis tapi sebenarnya Ningrum sedang melawan nasihat Simboknya.

“Jangan ngeyel kamu, Rum. Nanti Pak Yai ke sini ngusir kamu dan padepokan kita baru tahu rasa. Wes, kalau kamu nggak mau nurut Simbok ya ndak usah pulang sekalian. Rupanya kamu lebih cinta sama si Bima daripada kami.”

Simbok kalut. Ia sudah kehabisan cara untuk menasehati anaknya sendiri. Ia pun pergi dengan wajah marah.

“Simboooook. Jangan pergiiiii. Huhuhu. Ya, Mbok aku keluar. Arrrrghhhhh.”

Zahra terkulai lemas setelah Ningrum keluar dari tubuhnya. Semua menghembuskan napas lega. Abah Yai pun tersenyum ketika baru saja sampai dan melihat sudah tak ada lagi yang menganggu Zahra.

=========

Tak pernah sekalipun Simbok berkata kasar seperti malam itu pada Ningrum. Hati Ningrum kacau. Ditambah Ki Wareng sama sekali tak menegurnya. Akhirnya ia membenahi diri. Berjanji takkan memikirkan Bima lagi dan belajar sungguh-sungguh seperti Zahra dan santri lainnya.

Salat berjamaah tak pernah bolong. Ikut ngaji setoran hafalan, darusan, tahlil, dan ngaji kitab kuning. Semua kegiatan pondok ia ikuti. Karena saking sibuknya ia tak ingat lagi soal cinta dan kesedihannya. Ia pun sudah tak mempermasalahkan dan merasa cemburu ketika melihat Bima selalu membuntuti Zahra. Cintanya pun harus berakhir saat Zahra dibekali oleh Abah Yai bacaan khusus penolak jin. Bima tak mampu lagi mengikuti gadis itu.

Ditengah keputusasaannya ia mulai melirik Ningrum yang berubah drastis. Semakin bersinar karena tekun menuntut ilmu. Sebersit kagum itu perlahan menjadi cinta. Tapi sayang, Ningrum tak lagi tergoda.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Tibalah pengajian Akhirussanah. Para santri angkatan ke enam akan di wisuda. Termasuk Zahra. Dia dinobatkan menjadi wisudawati terbaik. Penyerahan penghargaan di atas panggung membuat ratusan hadirin berdecak kagum.
Bersama keluarganya, ia mendapat jamuan istimewa di ndalem Abah yai. Abah yai pun menyampaikan maksud untuk menjodohkan Zahra dengan putranya. Pernikahan akan segera digelar dua bulan setelah acara wisuda.

Zahra dan Ningrum sama-sama tumbuh menjadi gadis yang cantik dan membanggakan. Mereka sama-sama menoreh prestasi. Bedanya Zahra di atas panggung dan disorot puluhan kamera, sedang Ningrum di padepokan di sudut jurang dengan pencahayaan ratusan kunang-kunang. Tepuk tangan membahana di dua belahan dunia berbeda.

“Bagaimana, Nduk kau siap untuk menikah?” Ki Wareng berkata setelah acara syukuran selesai.

“Tidak, Ayah aku masih haus akan ilmu. Aku ingin terbang ke kota lain untuk menuntut ilmu.”

“Baiklah kalau begitu.”

Tiga tahun kemudian.

Ningrum pulang dengan sosok berbeda. Dia benar-benar terlihat lebih dewasa dan bersinar. Pesantren di kota Pati membuatnya menjadi gadis anggun dan cerdas.

Pemuda di padepokan berebut ingin memilikinya.

“Assalamualaikum, Ningrum. Maukah kamu menerima lamaranku?”

Dahi Ningrum mengernyit. Dia sangat kenal pemuda di hadapannya. Dia juga terlihat berbeda setelah berpisah bertahun-tahun lamanya.

“Waalaikumsalam, Kang Bima?”

Pemuda itu menunduk malu. Ia ingat penolakannya pada Ningrum dan juga sebaliknya. Dia rasa sekarang impas.

“Tolong jangan tolak saya lagi. Tiga tahun ini saya menunggumu. Sembari menunggu juga saya berusaha memantaskan diri dengan belajar dan belajar.”

Ningrum tersenyum. Lalu satu kalimat meluncur dari mulutnya. Membuat Bima yang tampan tersenyum bahagia.

“Iya, saya menerima Kang Bima jadi suami saya.”

“Terimakasih ”

Tamat.

Tentang Penulis
Elin Khanin menulis beberapa cerpan. Tulisannya berlatar Pesantren dan genre komedi-romantis. Terbukti tulisannya mampu menghipnotis ribuan pembaca dan dibikin baper. Karya pertama Elin Khanin juga sudah best seller dengan judul “Cinta Sang Abdi Ndalem.” Silaturahmi dengan penulis bisa melalui Facebook Elin Khanin.

Tinggalkan Balasan