CerpenSastra

Kiai Mosya

Oleh Niam At-Majha

Selapan sekali, tepatnya selasa wage adalah hari yang paling di tunggu oleh masyarakat desa Parukan. Orang-orang sudah berjubel di depan masjid untuk menunggu datangnya Kiai Mosya, pengajian rutinan yang di adakan oleh Kiai Mosya. Masyakat desa Parukan berebut untuk mencium tangan Kiai Mosya, dari yang tua, sebaya bahkan tua. Semakin tanganya di sembunyikan maka orang-orang makin semangat untuk mencium tangan Kiai Mosya. Semua itu demi mendapatkan keberkahan.

“Alhamdullah akhirnya setelah berapa selapan saya bisa mencium tangan Kiai Mosya, semoga bisa mendapatkan keberkahan,” ujar Jupri pedangan pentol kojek keliling.

“Berkah dari mana? Lha wong kau kesini bukan untuk mengaji, mendengarkan pituah-pituah kebijakan dari Kiai Mosya, melainkan untuk jualan pentol kojek,” timpal Kang Saiun tukang parkir. Khusus hari selasa wage Kang Saiun mangkal di Masjid Huda, padahal wilayah parkirnya yang tetap adalah di pasar kecamatan desa Parukan.

Kiai Mosya sangat tersohor di wilayah Jawa Tengah bahkan se Indonesia, untuk meminta jadwalnya saja harus mengantri berbulan-bulan. Selain pinter dalam berdawah ketika memberikan wejangan kepada masyarakat, Kiai Mosya juga ahli dalam berbagai pengobatan. Bisa memberikan solusi dari berbagai keluhan, masalah yang sedang di hadapi se seorang.

Jangan heran apabila Pesantrennya tak sepi oleh tamu yang datang dari berbagai penjuru di wilayah Indonesia. Orang-orang yang datang ke Pesantren Pusaka milik Kia Mosya, selalu membawa berbagai keluhan, ada yang minta di doakan agar usahanya lancar, ada pula yang datang mencari jodoh atau sekedar minta nasihat-nasihat saja, setelah itu foto bersama.

Pesantren Pusaka terletak di desa Lawean semakin tahun santrinya semakin bertambah; bangunannya megah dan mewah berlantai tiga, apabila malam datang, maka yang terlihat dari kejahuan hanya lampu kemerlap tak ubahnya hotel berbintang lima.

“Kang saya kok jadi heran dengan Kiai Mosya, Pesantren Pusaka berdiri belum genap tiga tahun bangunannya sudah semegah itu, bahkan santrinya juga banyak dari penjuru Indonesia, selain itu tamunya setiap harinya selalu datang silih berganti-ganti,” Ujar Kang Dikin penjual kopi dekat Pesantren Pusaka

“Lek Di….tak usah mempertanyakan Kiai Mosya, kalau di dengar beliau, bisa-bisa kau tak bisa lagi jualan kopi di dekat Pesantren ini,” sanggah Narto

“Bukan maksud saya seperti itu Kang Narto, Kiai Mosya kan pendatang di desa Lawean ini, kita kan tak tahu rekam jejak beliau sebelum hijrah ke desa kita ini. Belum genap tiga tahun beliu berada di desa kita sudah mendirikan pesantren begitu mewah dan santrinya banyak,”

“Kang…kang seharusnya sampean itu jangan jualan kopi terus, sesekali libur, nderekke Kiai Mosya mengisi pengajian di berbagai pelosok Jawa Tengah, bahkan kemarin beliau habis mengisi pengajian di salah satu tasyakuran anggota DPR RI karena telah terpilih lagi,”

***

Kiai Mosya selalu menjadi misteri di desa Lawean. Banyak yang tak mengetahui rekam jejaknya di desa sebelumnya. Awalnya ia berada di desa tersebut sebagai pendatang yang kesehariannya hanya sebagai guru ngaji di salah satu madrasah. Ia hijrah dari tempat asalnya bukan karena sebab musabab. Banyak peristiwa yang sulit untuk dilupakannya, bisa dibilang Kiai Mosya adalah korban dari sebuah keadaan, korban dari sebuah angan-angan untuk sebuah pengabdian katanya.

Oleh masyarakat setempat di desa tempat kelahiran Kiai Mosya yaitu Kasihan, Kiai Mosya di suruh untuk ikut menjadi kepala desa, dengan dalih agar pengabdianya lebih sempurnya. Meskipun selama ini Kiai Mosya sudah mengabdi menjadi guru ngaji di madrasah di setiap paginya, dan ketika sore ia selalu membuka pengajian kitab di rumahnya; meskti tak banyak yang ikut dalam pengajiannya, akan tetapi kegiatan tersebut sudah menjadi ladang pahala dan pengabdian yang sesungguhnya. Sebab Kiai Mosya dalam membuka majlis ta’lim tak mengharapkan sebuah gaji atau sebangsanya. Ia dengan ikhlas bernasrul ilmi.
“Kiai..ajeng matur,” ucap Lek Karso dengan penuh tawadlu’
“Arep ngomong opo Kang?”
“Sebelumnya saya memwakili rombongan mengucapkan maaf terlebih dahulu apabila nanti dalam mengutarakan apa yang telah kami musyawarahkan dengan warga sini dan serombongan ada yang salah,”
“Langsung wae kang, tak usah berbasa-basi,”

“Kami mengharapkan pada saat pemilihan kepala desa mendatang Abah Yai berkenan kami calonkan, kami warga Kasihan sepakat untuk mengusung Kiai agar di desa kami ada perubahan yang signifikan terutama di bidang pendidikan agama, kenapa kami memilih Kiai? Sebab jika desa di pimpin oleh Kiai tentu akan banyak perubahan ke hal yang lebih baik, bukan seperti Pak Karno kepala desa kita saat ini, selalu banyak halangan ketika warganya meminta pertolongan. Di kantor jarang, sedangkan ketika meminta surat-surat selalu mintanya datang kerumah, sedangkan jika datang kerumah tak membawa satu bungkus rokok atau gula kami di cuekin tak di anggap,” jelas Lek Karso

“Saya tak pantas untuk memimpin desa, apalagi menjadi kepala desa, saya tak punya pengalaman dalam hal-hal begituan, cari yang lain saja,”sergah Kiai Mosya

“Apabila Kiai tak mau berarti membiarkan kemungkaran merajarela di desa kami, soalnya harapan kami hanya Kiai saja,”

Antara menolak dan menerima, Kiai Mosya menjadi bimbang tak ketulungan. Masyarakat dengan dalih menegakkan nahi mungkar, tentu tak bisa menolaknya. Sebab selama ini, sejak menikah Kiai Mosya selalu berdakwah dan menekankan nahi mungkar; selain itu ketika di mintai sesuatu harus siap siaga, apalagi oleh masyarakat. Kini Kiai Mosya telah termakan oleh pituahnya sendiri.
***

“Kalau sudah begini bagaimana Abah? dulu Umi bilang tak usah ikut-ikutan menjadi calon pilkades, nasihat Umi tak digubris malahan lebih mementingkan omongan orang-orang, Umi malu Bah. Katanya Abah dicalonkan masyarakat kenapa hanya dapat suara seratus saja, kita kalah telak, pokonya Umi tak mau tahu secepatnya kita pindah dari desa Kasihan ini; terlalu berat menanggung malu,” ujar Indarwati Istri Kiai Mosya.

Kiai Mosya tertunduk lesu; tak bisa berkata-kata bahkan untuk menjawab semua cercaan istrinya ia tak mampu. Ini adalah ujian terberat dalam hidup Kiai Mosya. Cita-citanya untuk mendirikan pesantren telah kandas sebelum peletakan batu pertama.

“Umi…. Abah khilaf, besok sore kita pindah dari ini, kita menuju ke desa Parukan, semua persiapan dan rumah yang akan kita tempati sudah Abah persiapkan; jangan tanya dari mana, yang terpenting adalah kita secepat mungkin bisa pindah ke desa Lawean dan meninggalkan masa kelam di desa Kasihan ini,”

Perpindahannya dari desa Kasihan menuju desa Lawean bukan gratis atau tanpa perjanjian. Semuanya telah di penuhi dan di atur oleh teman lamanya yang sekarang menjabat sebagai DPR RI, bisa di katakan perpindahan Kiai Mosya adalah karena nafsu yang terburu-buru; atas dasar emosi dan menghindari. Padahal seharusnya sikap seorang Kiai bukan seperti itu, dan harus sadar apabila Tuhan tak akan menguji mahluknya di luar batas kemampuan yang di miliki.

“Saya akan memenuhi semua keperluanmu, dan akan menjaga nama baikmu, rekam jejakmu di desa Kasihan akan aman, yang kau perlukan adalah membuka lembaran baru, serta menjadi pengasuh di Pesantren Pusaka yang akan saya dirikan,” jelas Taufiq teman lamanya Kiai Mosya

“Maksudmu saya akan menjadi pengasuh di Pesantren Pusaka yang kau dirikan tersebut?”
“Iya…setiap bulan akan saya gaji, selain itu keperluanmu dan keluargamu akan saya penuhi, selain itu kau akan saya promosikan kepada teman-teman dan kolega di pemerintahan; apabila sepakat kita tanda tangan kontrak,”

Tanpa pikir basa-basi, Kiai Mosya langsung mengiyakan dan menandatangi pekerjaan barunya, yaitu menjadi pengasuh di Pesantren Pusaka bergaji. Ia menyetujui kesepakatan tersebut, tentu banyak hal yang telah dipertimbangkan, diantaranya menghindari rasa malu yang teramat sangat atas kekalahannya menjadi kepala desa, kedua bahwa di mata khalayak umum tak ada yang mengetahui soal perjanjian tersebut.
***

Tak perlu banyak drama, atau pun menyebarkan brosur untuk mencari santri dan mencari sumbangan ke sana-ke sini untuk mendirikan Pesantren Pusaka. Kedatangan Taufiq sang DPR RI sowan ke ndalem Kiai Mosya, bisa membuat masyarakat desa Lawean sudah geger. Kedatangannya Taufiq di liput oleh media lokal atau pun nasional, beritanya tersebar di berbagai stasiun TV.
“Yu…sebenarnya Pak Mosya itu siapa sih, dia pendatang di desa kita, akan tetapi tamunya yang datang dari pejabat-pejabat pemerintah,”selidik Yu Tun
“Panggil Kiai Mosya, kalau dia denger nanti kau kena batunya,”timpal Kasni

Masyarakat tak mengetahui apabila Kiai Mosya dan Taufiq adalah saling kenal dan bermain akting; seakan-akan tak saling kenal. Seperti tujuan di awal adalah untuk mempopulerkan Kiai Mosya agar bisa di terima masyarakat luas. Selain itu, Taufiq sudah merencanakan untuk pembangunan Pesantren berlantai tiga dari proyek yang ditanganinya.

“Minggu depan pesantren akan saya bangun Kiai, soal dana dari mana tak usah di pikirkan, soal pembangunan Pesantren Pusaka menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya; seperti yang kita bicarakan di awal,”
“Siap Pak Taufiq saya tak akan melupakan jasa-jasamu,”

Pembangunan di kebut dalam waktu enam bulan; siang malam tanpa henti. Tenaga kasar, baik tukang batu atau yang sekedar membantu di ambilkan pekerja dari masyarakat setempat. Semua masyarakat mendukungnya tanpa terkecuali. Mereka bahagia karena di desa Parukan akan ada pesantren termegah yang belum pernah ada sebelumnya. Semua itu berkat kedatangan Kiai Mosya.
***

Pesantren Pusaka ramai sekali. Para santri berhamburan keluar. Polisi berdatangan; awak media pun berjubel mencari berita yang sebenarnya. Kiai Mosya tertunduk lesu; dengan wajah yang pias. Istrinya pun sama. Jika beberapa waktu yang lalu orang-orang berdesakan ingin mencium tangannya Kiai Mosya; akan tetapi saat ini hanya melihatnya dengan wajah sinis dengan penuh kebencian, tatapan nanar tanpa belas kasihan. Kiai Mosya berjalan dengan istrinya dengan di kawal oleh polisi.

Saat itu pula, di semua stasiun tv dan di koran-koran lokal. Jika Pesantren Pusaka yang di bangun tersebut menggunakan uang korupsi setelah Taufiq sang DPR RI tertangkap oleh KPK. Dari situlah semuanya terkuak. Kiai Mosya menjadi korban yang berkelanjutan.

Pati. Oktober 2019.

Tinggalkan Balasan