Kiai Mosya

Oleh Niam At-Majha Selapan sekali, tepatnya selasa wage adalah hari yang paling di tunggu oleh masyarakat desa Parukan. Orang-orang sudah berjubel di depan masjid untuk menunggu datangnya Kiai Mosya, pengajian rutinan yang di adakan oleh Kiai Mosya. Masyakat desa Parukan berebut untuk mencium tangan Kiai Mosya, dari yang tua, sebaya bahkan tua. Semakin tanganya di […]
“Huuuu … Huuu … Huuu”

Oleh Elin Khanin Suara tangisan menyayat hati terdengar dari padepokan Ki Wareng. Padepokan itu terletak di belakang pesantren. Samping sawah, di pojok atas tebing. Tumbuh subur semak belukar, pohon trembesi, pohon Albasia, dan bermacam-macam tumbuhan liar yang tumbuh subur grembuyung menaungi padepokan itu. Dari situlah tangisan itu berasal. Di sebuah kamar dengan penerangan seekor kunang-kunang […]
Nasi Bungkus

Oleh: Niam At-Majha “Pak minta sesuap nasi, dari kemarin saya belum makan,” “Tunggu sebentar ya..!” Jumat pagi adalah hari yang paling sibuk. Bangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Menyiapkan masakan. Memilih lauk-pauk yang cocok buat hari ini. Kesibukannya di hari jumat tak jauh beda dengan warung-warung makan ketika akan mempersiapkan bahan-bahan untuk di jual […]
Terjaga; Menjaga

Oleh Niam At-Majha Ini hari keberapa aku telah lupa. Berkali-kali berusaha memejamkan mata selalu gagal. Meski sekejap saja. Segala macam cara sudah aku lakukan, mulai pergi ke dokter, bahkan ke tempat-tempat alternatif segala. Nihil tanpa hasil. Apakah aku mempunyai kelainan?apakah ini termasuk penyimpangan? Malam di buat siang adan siang di jadikan malam. Setahuku aku tak […]
Mbah Mul

Oleh Niam At-Majha Bau ampau masih terasa setelah semalam di guyur hujan. Baunya khas, tak bisa dinarasikan dalam bentuk ungkapan kalimat. Sebab bau harum ampau tersebut hanya bisa kita rasakan setelah hujan pertama datang. Setelah berbulan-bulan dilanda kemarau panjang. Bau tersebut selalu di tunggu dengan sabar. Sesabar menunggu rintik hujan pertama datang. Seperti halnya Mbah […]
Namaku Selfie

OlehNiam At-Majha Satu Tahun Menjelang Pemilihan Pada sebuah tempat. Kita bertemu kembali. Sekian lama terlewati; setelah kau memutuskan untuk bersama pilihan orang tuamu. Aku kau suruh mundur teratur. Menerima keadaan. Tak boleh menolak dan melawan bahkan sekadar untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sebab ini keputusan tak boleh ada pengecualian Aku kau suruh menjauh. Bertanya […]
