Oleh Gunoto Saparie
Di sebuah malam yang tak sepenuhnya sunyi, suara rebana bergetar pelan di serambi pesantren. Ada ritme yang sederhana, hampir repetitif, tapi justru di situlah letak kekuatannya: ia tidak memaksa, tidak mengguncang, melainkan mengalir, seperti doa yang dilagukan. Dalam gema itu, kita bisa mendengar sesuatu yang lebih tua dari sekadar bunyi: sebuah cara memahami dunia, yang tidak selalu membutuhkan argumen, tetapi cukup dengan rasa.
Barangkali di situlah pendidikan kesenian dalam Nahdlatul Ulama menemukan bentuknya. Ia bukan sekadar kurikulum, bukan pula sekadar kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan setelah pelajaran usai. Ia adalah cara berada: cara menyampaikan, bahkan cara percaya. Sebuah pendidikan yang tidak dibangun dari ketegangan antara agama dan budaya, tetapi justru dari pertemuan keduanya.
Ada istilah yang kerap dipakai: dakwah kultural. Istilah ini mungkin terdengar seperti kompromi, seakan-akan dakwah harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun dalam praktiknya, ia bukan sekadar penyesuaian, melainkan strategi yang sejak awal telah menyadari bahwa manusia tidak hidup di ruang hampa. Manusia selalu datang dengan ingatan, dengan kebiasaan, dengan simbol-simbol yang telah lebih dulu melekat pada hidupnya. Maka dakwah, jika ingin bertahan, harus masuk melalui celah-celah itu, bukan merobohkannya.
- Iklan -
Kita tahu, sejarah panjang Islam di Nusantara tidak pernah sepenuhnya berjalan dalam garis lurus. Ia menyusup, berkelok, dan kadang bersembunyi dalam bentuk-bentuk yang tampak “bukan agama”: dalam wayang, dalam tembang, dalam cerita rakyat. Di tangan para wali, kesenian bukanlah alat yang netral, melainkan medium yang hidup, yang bisa mengubah tanpa harus meniadakan. Pendidikan kesenian di lingkungan NU tampaknya mewarisi semangat itu: tidak tergesa-gesa menghakimi, tidak buru-buru memisahkan mana yang “murni” dan mana yang “tercemar”. Di sini, kesenian bukan hanya soal estetika. Ia adalah etika yang dilagukan.
Peran lembaga seperti Lesbumi menjadi penting dalam konteks ini. Ia bukan sekadar organisasi yang menaungi seniman, tetapi juga ruang perjumpaan antara iman dan imajinasi. Di sana, pelukis, penyair, aktor, dan pemusik berkumpul bukan hanya untuk berkarya, tetapi untuk merumuskan ulang bagaimana agama bisa hadir dalam bahasa yang lebih lentur. Sebab agama, jika hanya disampaikan dalam bentuk perintah dan larangan, sering kali kehilangan daya sentuhnya. Ia menjadi kaku, bahkan menakutkan.
Lesbumi tampaknya mencoba menghindari itu. Ia tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak larut di dalamnya. Ia berdiri di antara, sebuah posisi yang tidak selalu nyaman. Dalam dunia yang cenderung memilih ekstrem, berada di tengah sering kali berarti harus terus-menerus menjelaskan diri. Tapi mungkin di situlah letak kekuatannya: ia tidak tergoda untuk menjadi absolut.
Dalam praktik keseharian, pendidikan kesenian di NU banyak tumbuh di pesantren. Di sana, seorang santri tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi juga belajar merasakan bunyi. Qasidah, hadrah, bahkan seni baca kitab itu sendiri mengandung unsur estetika yang tidak bisa diabaikan. Cara seorang santri melagukan teks Arab, misalnya, bukan sekadar teknik membaca, tetapi juga bentuk ekspresi—sebuah seni yang halus.
Kita mungkin sering lupa bahwa membaca, dalam tradisi pesantren, bukan hanya aktivitas intelektual. Ia adalah pengalaman yang melibatkan tubuh: suara, napas, bahkan emosi. Ada keindahan yang lahir dari pengulangan, dari irama yang dijaga. Dan di situlah pendidikan kesenian bekerja, diam-diam, tanpa harus diberi label.
Kelompok-kelompok hadrah, misalnya. Mereka adalah komunitas yang menjaga kesinambungan antara tradisi dan generasi. Dalam setiap penampilan, ada lebih dari sekadar musik. Ada memori kolektif yang dirawat, ada identitas yang ditegaskan. Dan semua itu dilakukan tanpa retorika besar—cukup dengan bunyi yang berulang, yang mungkin bagi sebagian orang terasa monoton, tetapi justru di situlah letak kedalamannya.
Namun pendidikan kesenian di NU tidak berhenti pada pelestarian. Ia juga bergerak ke arah inovasi. Kita bisa melihat bagaimana shalawat Jawa dipadukan dengan orkestra, bagaimana puisi-puisi religius dibacakan dengan gaya yang lebih kontemporer. Ini bukan sekadar eksperimen estetika, tetapi juga upaya untuk menjawab pertanyaan yang terus muncul: bagaimana tradisi bisa tetap hidup di tengah perubahan?
Pertanyaan ini tidak mudah. Sebab setiap inovasi selalu mengandung risiko: ditolak oleh yang lama, atau dianggap tidak cukup baru oleh yang muda. Tetapi mungkin memang tidak ada jalan lain. Tradisi yang tidak berani berubah akan membatu, sementara perubahan yang tidak berakar akan kehilangan arah.
Dalam konteks ini, pendidikan formal di bawah LP Ma’arif NU dan RMI PBNU memainkan peran penting. Mereka tidak hanya mengajarkan seni sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan karakter. Seorang siswa atau santri tidak hanya diajak untuk bisa memainkan alat musik atau menulis puisi, tetapi juga untuk memahami makna di baliknya. Seni, dalam hal ini, menjadi sarana refleksi, cara untuk melihat diri sendiri dan dunia dengan lebih jernih.
Di tengah arus globalisasi yang sering kali menyeragamkan, pendekatan ini menjadi semacam perlawanan yang halus. Ia tidak menolak dunia luar, tetapi juga tidak kehilangan diri. Ia memilih untuk berdialog, bukan menutup diri. Dalam dialog itu, seni menjadi bahasa yang paling mungkin: ia tidak memaksa kesepakatan, tetapi membuka kemungkinan.
Lesbumi, dalam perannya yang lebih luas, tampaknya menyadari bahwa budaya Islam Nusantara sedang menghadapi tantangan yang tidak kecil. Di satu sisi, ada arus purifikasi yang ingin mengembalikan segala sesuatu pada bentuk yang dianggap “asli”. Di sisi lain, ada arus komersialisasi yang cenderung mengosongkan makna demi pasar. Di antara dua arus ini, menjaga keseimbangan bukan perkara mudah.
Namun mungkin memang di situlah tugasnya: menjaga agar seni tetap menjadi ruang di mana nilai-nilai Islam yang moderat dan toleran bisa hidup. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai praktik. Sebab toleransi, jika hanya diucapkan, sering kali tidak cukup. Ia harus dialami, dirasakan—dan seni memberi kemungkinan itu.
Di sebuah pertunjukan wayang, misalnya, kita bisa melihat bagaimana nilai-nilai moral disampaikan tanpa harus menggurui. Dalam sebuah lagu shalawat, kita bisa merasakan kedekatan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan dalam sebuah puisi, kita bisa menemukan ruang untuk bertanya, bahkan meragukan, tanpa harus merasa bersalah.
Barangkali pendidikan kesenian di NU pada akhirnya bukan tentang menciptakan seniman dalam arti sempit. Ia lebih tentang membentuk manusia yang mampu merasakan: yang tidak mudah terprovokasi, yang tidak tergesa-gesa menghakimi. Dalam dunia yang semakin bising, kemampuan untuk mendengar, bahkan mendengar yang halus, menjadi sesuatu yang langka.
Mungkin, di serambi pesantren yang sederhana itu, di antara suara rebana yang berulang, kita bisa belajar kembali bagaimana menjadi manusia: yang tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan. Yang tidak hanya percaya, tetapi juga memahami.
Di situlah pendidikan kesenian menemukan maknanya, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti yang sering kali tersembunyi. Sebab kadang-kadang, yang paling penting justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana: sebuah bunyi, sebuah irama, yang mengingatkan kita bahwa di balik segala perbedaan, ada sesuatu yang tetap sama: keinginan untuk mencari makna, dan mungkin, untuk pulang.
*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah.



