Oleh Sam Edy Yuswanto*
Perpustakaan memegang peranan yang sangat penting bagi dunia pendidikan di sebuah negara tanpa terkecuali. Sayangnya, keberadaan perpustakaan seolah kurang diminati oleh masyarakat luas. Terlebih keberadaan perpustakaan yang ada di negeri ini bisa dibilang terbatas. Kita bisa lihat, keberadaan perpustakaan biasanya hanya ada di pusat kota. Perpustakaan Daerah (Perpusda) misalnya. Bayangin saja, satu kota hanya ada satu perpustakaan. Itu pun dengan koleksi buku-bukunya yang terbatas.
Ya, Perpustakaan Daerah (Perpusda) di yang ada di tiap daerah (kota) pun koleksi-koleksi bukunya masih jauh dari kata lengkap. Padahal itu perpustakaan milik pemerintah daerah (Pemda) yang mestinya memberikan fasilitas buku-buku yang super lengkap sebagai sumber bacaan yang bermutu sekaligus bermanfaat bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Yang lebih miris, perpustakaan sekaliber nasional pun juga masih kurang lengkap koleksi buku-bukunya. Saya biasa meminjam buku-buku secara online lewat iPusnas dan memang tidak semua buku yang saya inginkan tersedia di sana. Ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi pihak para pengelola untuk menyediakan lebih banyak dan komplet lagi buku-bukunya.
Idealnya, setiap desa harus memiliki perpustakaan. Minimal setiap kecamatan memiliki satu perpustakaan. Ini mungkin terlihat sepele, tapi merupakan hal yang urgen dan penting untuk diperhatikan. Tentu dengan harapan, agar ‘budaya baca’ di negeri ini dapat terus ditingkatkan. Para pustawakan atau pengelola perpustakaan juga harus memiliki kecintaan terhadap dunia perbukuan. Mereka harus memiliki kebiasaan membaca buku. Juga harus getol mengampanyekan kepada masyarakat luas, tentang manfaat membaca buku dan membuat berbagai program menarik agar masyarakat mau datang ke perpustakaan tersebut. Tentu sangat lucu ketika seorang pustakawan tidak memiliki kegemaran membaca buku. Bagaimana bisa ia mengedukasi masyarakat bahwa keberadaan buku-buku adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia?
- Iklan -
Bicara tentang perpustakaan, tentu tidak lepas berbicara tentang buku. Kita tidak mungkin berbicara tentang buku tanpa berbicara tentang membaca. Perpustakaan merupakan tempat belajar seumur hidup yang memiliki peranan penting di dalam dunia pendidikan yaitu membantu terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Perpustakaan adalah tempat investasi sumber daya manusia, tempat mengasah kecerdasan guna kepentingan pendidikan (dispursip kalteng, mmc.kalteng.go.id, 2/5/2023).
Manfaat Perpustakaan Secara Luas
Bicara tentang manfaat atau fungsi dari keberadaan perpustakaan, tentu sangat banyak manfaat yang bisa kita petik darinya. Kita bisa belajar beragam ilmu pengetahuan (dari buku-buku yang tersedia) di sana. Perpustakaan juga bisa menjadi sarana hiburan yang murah dan menyenangkan bagi masyarakat. Buku-buku motivasi atau pengembangan diri, novel-novel dan kumpulan cerpen (yang memiliki mutu dan kualitas tinggi) dapat menjadi sarana hiburan sekaligus membuat kita merenungi kehidupan ini.
Manfaat perpustakaan bagi masyarakat, sebagaimana merujuk keterangan dinpusip.purworejokab.go.id (7/1/2025) ada begitu banyak. Di antaranya:
Pertama, perpustakaan menyediakan akses gratis ke berbagai sumber informasi, memungkinkan semua lapisan masyarakat untuk: memperluas wawasan dan pengetahuan, mengakses informasi terkini dalam berbagai bidang, menemukan solusi untuk masalah sehari-hari, dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kedua, mendukung pendidikan sepanjang hayat. Perpustakaan memegang peranan penting dalam pembelajaran seumur hidup dengan cara: menyediakan sumber belajar untuk semua usia, mendukung pendidikan formal dan informasi, memfasilitasi pengembangan keterampilan baru, dan mendorong minat baca dan kebiasaan belajar mandiri.
Ketiga, menjembatani kesenjangan digital. Di era digital, perpustakaan membantu mengatasi kesenjangan akses teknologi dengan: menyediakan akses gratis ke komputer dan internet, memberikan pelatihan literasi digital, membantu masyarakat mengakses layanan online pemerintah, dan menyediakan sumber daya elektronik yang mungkin mahal jika diakses secara individu.
Kesimpulannya, keberadaan perspustakaan merupakan hal urgen yang tak boleh dianggap sebelah mata. Membaca buku ibarat ‘asupan makanan’ yang dibutuhkan oleh jiwa. Budaya membaca harus terus diupayakan. Perihal pentingnya budaya membaca, kita bisa memulainya dari keluarga kita. Misalnya dalam sebuah keluarga, ayah dan ibu berusaha mengajak anak-anaknya agar senang dengan aktivitas membaca (ini dimulai dari orangtu, yang harus berusaha memiliki kebiasaan membaca di rumah). Membaca buku juga dapat menjadi sarana agar anak tidak kecanduan bermain game online atau bermain gadget.
Jangan lupa, sisihkan uang setiap bulan untuk membelikan buku-buku untuk anak-anak. Tidak usah yang mahal-mahal dulu (mengingat harga buku-buku baru sekarang sangat mahal, ini berkaitan dengan: mungkin kurangnya (bahkan tidak adanya) subsidi dari pemerintah untuk dunia perbukuan). Namun kita dapat membeli buku-buku original (ingat, hanya buku original, bukan bajakan) cuci gudang dengan harga sangat terjangkau tapi dengan kualitas yang masih bagus di berbagai penerbit atau toko buku online. Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bersama. Wallahu a’lam bish shawaab.
***
Sam Edy Yuswanto*
*Lelaki penyuka kopi ini lahir dan berdomisili di kota Kebumen Jateng. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.



