Oleh Hamidulloh Ibda
Untuk ke sekian kalinya, saya menulis soal Kartini dan pendidikan. Pada Selasa 25 April 2017, saya menulis di Satelit Post bertajuk Konsep Pendidikan Kartini. Sebenarnya masih ada beberapa tulisan soal Kartini yang tak terlacak secara digital di Koran Pagi Wawasan, dan beberapa koran lain.
Dalam memori Masyarakat Indonesia, Raden Ajeng Kartini atau R.A Kartini tidak pernah lepas dari perbincangan tentang emansipasi perempuan dan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, yang sering terlupakan adalah bahwa gagasan besar Kartini tentang pendidikan sejatinya berakar dari ruang paling kecil sekaligus paling menentukan: keluarga. Bagi Kartini, keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “sekolah pertama” (madrasatul ula) yang membentuk cara berpikir, sikap, dan masa depan anak terutama perempuan.
Dalam kumpulan suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armin Pane, Kartini berulang kali menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan agar mereka mampu mendidik generasi berikutnya. Ia percaya bahwa ibu yang terdidik akan melahirkan anak-anak yang beradab dan berpikiran maju. Perspektif ini menunjukkan bahwa Kartini telah memahami secara intuitif konsep pendidikan keluarga jauh sebelum istilah tersebut populer dalam kajian ilmiah modern.
- Iklan -
Keluarga: Sekolah Pertama
Pandangan Kartini selaras dengan teori informal education yang menempatkan keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama dalam perspektif teori pendidikan modern. John Locke melalui teorinya Tabula Rasa dalam buku An Essay Concerning Human Understanding (1825) menyatakan bahwa manusia lahir seperti kertas putih. Lingkungan, terutama keluarga, menjadi penentu utama isi dan arah perkembangan individu.
Artinya, pendidikan keluarga bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, disiplin, dan tanggung jawab pertama kali ditanamkan dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak. Kartini melihat bahwa jika perempuan tidak mendapatkan pendidikan, maka fondasi ini akan rapuh.
Perempuan dalam Islam tidak sekadar pelengkap, melainkan tiang peradaban dan pendidikan. Penyair Mesir, Hafez Ibrahim dengan julukan “Penyair Sungai Nil” dalam Kitab Diwan Hafez Ibrahim / ديـوان حافـظ ابراهيم (Jilid 1), pada qasidah bertema Al-Ilmu wa al-Akhlaq (ilmu dan etika), beliau menulis:
الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا، أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ
Artinya: ”Ibu adalah sekolah pertama; jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik budi pekertinya.”
Dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, Syekh al-Zarnuji dalam Fashl fi Mahiyyat al-Ilmi wa al-Fiqhi wa Fadlihi (Pasal Mengenai Hakikat Ilmu, Fikih, dan Keutamaannya), dijelaskan ilmu menjadi fondasi utama membangun kehidupan baik, dan kewajiban menuntut ilmu berlaku bagi tiap muslim dan muslimat. Sabda Rasulullah SAW
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir No. 3913).
Hadis ini mencakup kewajiban laki-laki dan perempuan dalam mencari ilmu. Artinya, saat ini banyak perempuan berpendidikan tinggi sampai doktor, dan banyak perempuan memiliki jabatan akademik dosen (JAD) Profesor.
Peran Ibu dalam Perspektif Teori Barat
Pemikiran Kartini juga sejalan dengan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget dalam bukunya The Origins of Intelligence in Children (1936). Piaget menegaskan bahwa anak belajar melalui interaksi aktif dengan lingkungannya sejak usia dini. Dalam konteks ini, keluarga, terutama ibu menjadi fasilitator utama perkembangan kognitif anak.
Lewat konsep Sociocultural Theory dalam Mind In Society : The Development Of Higher Psychological Processes (1978), Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menunjukkan bahwa anak membutuhkan pendampingan orang dewasa (orang tua) untuk mencapai potensi optimalnya.
R.A Kartini, meskipun hidup jauh sebelum teori-teori ini berkembang luas, telah mengisyaratkan pentingnya peran ibu sebagai pendidik utama yang tidak tergantikan. Begitu!
Pendidikan Karakter dari Rumah
Dalam konteks pendidikan karakter, pemikiran Kartini juga bersinggungan dengan gagasan Albert Bandura tentang Social Learning Theory dalam Social Learning Theory (1971). Bandura berpandangan anak belajar melalui observasi dan imitasi. Perilaku orang tua di rumah akan ditiru oleh anak, baik secara sadar maupun tidak.
Hal ini menjelaskan mengapa Kartini menuntut perempuan untuk cerdas, beretika, dan berwawasan luas. Bukan semata untuk dirinya, tetapi sebagai teladan bagi anak-anaknya kelak. Dalam keluarga, pendidikan bukan hanya soal nasihat, tetapi juga contoh nyata.
Di era digital saat ini, tantangan pendidikan keluarga semakin kompleks. Anak-anak tidak hanya belajar dari orang tua, tetapi juga dari media sosial, internet, dan lingkungan virtual. Namun, prinsip dasar yang diperjuangkan Kartini tetap relevan: keluarga adalah fondasi utama.
Pendekatan ini juga didukung oleh Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory dalam bukunya The Ecology of Human Development (1979). Ia menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai sistem, tetapi keluarga (microsystem) adalah yang paling dekat dan paling berpengaruh.
Dengan demikian, penguatan pendidikan keluarga menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik, fasilitator, sekaligus teladan moral.
Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi perempuan, tetapi juga tentang revolusi pendidikan yang dimulai dari rumah. Ia memahami bahwa perubahan besar dalam masyarakat harus dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga.
Menggabungkan pemikiran Kartini dengan teori-teori pendidikan modern menunjukkan bahwa gagasannya tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga ilmiah. Pendidikan keluarga adalah fondasi peradaban, dan perempuan sebagai ibu (emak, biyung, umi) memegang peran strategis dalam membentuk masa depan bangsa.
Dalam terang pemikiran Kartini, pendidikan bukan sekadar proses di sekolah, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari pangkuan keluarga. Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Begitu!
-Penulis adalah Rektor Insitut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung.



