Oleh Dewi Ayu Larasati
Akademisi & Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
RA Kartini dalam narasi sejarah nasional dikenal luas karena berbagai gugatan dan pemikirannya tentang nasib perempuan serta sejumlah gagasannya terkait upaya emansipasi atau pemberdayaan perempuan. Gagasan dan pemikirannya yang menganggumkan dan menyentuh itu terekam dengan baik dalam berbagai surat-surat pribadinya yang ia tujukan kepada rekan-rekannya di Belanda.
Namun, di tengah pergulatan hati Kartini untuk melawan kekuasaan patriarkat dan melawan feodalisme keluarga Jawa, di titik ini juga Kartini sesungguhnya mencari sisi religiusitasnya. Sejalan dengan pendapat Jooste Cote dalam buku Kartini (2014:53) bahwa “Agama juga merupakan pusat perjalanan pribadi Kartini.”
- Iklan -
Keresahan Kartini akan agamanya bermula ketika Islam sebagai agama yang dianutnya hanya sekadar jadi barang warisan yang melekat pada dirinya, namun ia sendiri tak memahami ajarannya. Hanya karena keluarganya penganut agama Islam, lalu ia didoktrin sebagai orang Islam. Namun untuk sampai pada pencarian tentang apa itu Islam, bagaimana memahami Islam, bagaimana memahami ayat-ayat Al Qur’an yang berbahasa Arab, serta bagaimana interpretasi Islam dalam kehidupan luar, jelas tidak Kartini dapatkan secara ilmiah dan menyeluruh. Dalam pikiran Kartini, Islam yang sampai kepadanya sebagai sesuatu yang dangkal dan tak terjamah.
Agama, menurut Kartini, semestinya dapat memberikan pencerahan dari konflik batin dan kegelisahan moral yang terjadi. Bukan tabu untuk ditafsirkan ataupun dipertanyakan. Apalagi mendiskriminasikan kaum perempuan untuk mempertanyakan hal-hal yang berbau agama. Hal ini seperti yang dituliskan Kartini dalam suratnya kepada Stella tertanggal 6 November 1899, “Aku tidak bisa memberitahumu tentang ajaran Islam, Stella. Para pengikutnya dilarang untuk membicarakan itu dengan mereka yang beragama lain.”
Namun demikian, dengan keterbatasan pengetahuan agama yang dianutnya, Kartini tidak hendak melepaskan agama dalam setiap pemikirannya. Meski sempat apatis dan cenderung sinis terhadap agama, ia terus menyelami agama Islam hingga pada akhirnya Kartini mendapat pencerahan setelah berguru kepada Kiai Saleh Darat yang notabene merupakan guru dari KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Jalan spiritual Kartini yang dimulai dari keresahan dalam mencari kebenaran dari agama yang dianutnya hingga menimbulkan pergolakan batin dalam hal ini bukanlah tanda berkurangnya imannya, melainkan sebuah bentuk kerinduan mendalam—sebuah pencarian cinta yang tulus terhadap Sang Pencipta. Dalam dunia tasawuf, resah dan gelisah disebut sebagai maqamat (tingkatan-tingkatan) yang harus dilalui seorang salik (penempuh jalan rohani) agar sampai pada maqam ridha, tempat di mana segala beban dunia terasa ringan karena jiwa telah tenang dalam kepasrahan total kepada Allah (dikutip dari Prof. Dr. H. Munawir K. S. di laman uin-alauddin.ac.id, 18/4/2025).
Ulama besar seperti Imam al-Ghazali, Ibn Qayyim al-Jawziyyah, dan Ibn ‘Athaillah pun telah menjelaskan bahwa hati yang gelisah adalah hati yang sedang dipanggil untuk mendekat.
Oleh karena itu, dalam memahami spiritualitas Kartini atau sejarah perjalanan keagamaan Kartini, sama halnya dengan memahami alur kehidupan. Bukan sekadar garis lurus dari lahir hingga mati, melainkan sebuah pengembaraan panjang yang melintasi dimensi waktu dan ruang.
Di awal perjalanan menuju keyakinan, seorang penempuh jalan spiritual mungkin saja akan mengalami kesulitan, tetapi pada akhir perjalanannya ia akan tenggelam dalam kesenangan dan kedamaian spiritual. Hatinya akan dipenuhi cahaya keyakinan yang menghilangkan keraguan dari pikirannya (Purnomo, banten.nu.or.id, 13/2/2023).
Jalan keimanan atau spiritual menuju yakin tersebut digambarkan oleh para sufi melalui tiga tahapan yaitu ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Hal inilah yang sejatinya dialami oleh Raden Ajeng Kartini.
Tahap ‘Ilmul Yaqin
Sebagian orang beriman kepada Allah karena informasi dan bimbingan orang tua dan guru-gurunya. Inilah yang disebut dengan ‘ilmul yaqin. Pada level ini manusia masih merasa dirinya terlibat atas apa yang dilakukan, didapat, dan diraih. Dalam kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atoilah Asyakandari disebut sebagai syu’aaul bashiirah atau cahaya akal (lampung.nu.or.id, 4 November 2021).
Kartini sebagai bangsawan Jepara yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan agama Islam, tentu menyakini Islam sebagai agamanya. Namun terlahir dari keluarga priayi Jawa, Kartini merasa agama Islam yang dianutnya hanyalah sebagai identitas atau simbol belaka. Ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki pengalaman yang cukup baik tentang proses belajar mengajar dan mengkaji agama Islam.
Bukan lantaran tidak ingin mempelajari atau mendalaminya, tetapi dia mengalami keterbatasan akses akan pendidikan bahasa Arab. Apalagi pada masa itu, agama hanya merupakan kumpulan dogma tanpa boleh mempertanyakan, apalagi mempersoalkan “kenapa bisa seperti ini” atau kenapa bisa begitu”, apapun alasannya.
Hal ini seperti yang diungkapkan Kartini pada Stella, “Aku tidak bisa memberitahumu tentang ajaran Islam, Stella. Para pengikutnya dilarang untuk membicarakan itu dengan mereka yang beragama lain…Orang-orang di sini diajari membaca Quran tanpa diajari untuk memahami” (Surat untuk Stella, 6 November 1899).
Adanya kekakuan dalam mempelajari Islam pada zamannya itu, membuat Kartini berpendapat sinis bahwa penganut Islam hanya terjebak pada hal-hal yang berbau ritual dan sering mengabaikan substansi. Islam yang ada pada diri seseorang tak lebih dari sekadar label agama. Mereka hanya bisa mengaji, berpuasa, mengucap kalimat-kalimat dalam bahasa Arab tetapi mereka sendiri tidak mengerti artinya.
Karena itu, ia ingin mendapatkan dorongan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Bagi Kartini, ajaran agama yang diturunkan kepada manusia sebagai pedoman hidup akan sulit diraih jika dalam pengajarannya justru menerapkan sistem yang berjarak bahkan terbatas, seperti yang ia tuliskan dalam suratnya kepada EC Abandenon tertanggal 15 Agustus 1902, “Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku mempelajari apa saja”.
Namun, dalam kegelisahan spiritualnya itu, hingga sempat bersikap apatis, Kartini sesungguhnya tetap pada pendiriannya untuk meyakini Tuhan itu ada, “Kami putus asa. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang tidak bisa kami pahami. Karena Allah adalah saksi kami, neraka dan surga kami adalah hati nurani kami sendiri” (Surat untuk EC Abendanon, 15 Agustus 1902).
Tahap ‘Ainul Yaqin
‘Ainul yaqin adalah terbukanya mata hati atau (bashirah). Terbukanya mata hati ini merupakan suatu keajaiban dan misteri, serta hanya muncul karena Rahmat dari Yang Maha Pengasih (banten.nu.or.id, 13/2/2023).
Sebagai perempuan yang terbiasa berpikir kritis dan logis, terutama karena bekal pendidikannya di ELS atau berkat buku-buku yang dibacanya, Kartini yang hidup dalam sistem masyarakat Jawa yang feodal dan tradisional semula menganggap agama Islam, hanya sebuah kepercayaan warisan leluhur yang kaku tanpa mengedepankan rasionalitas. Dalam keislamannya, Kartini memprotes “kebekuan dan ketidakterbukaan ajaran pada waktu itu” (Aisyah Dahlan dalam A. Katoppo dkk, 1979:53).
Bagi Kartini, Islam yang diajarkan padanya adalah Islam yang tertutup (ekslusif) bagi penafsiran ataupun pertanyaan. Agama hanya dijalankan sebagai serangkaian aturan tanpa pemahaman batin.
Namun setelah mendengar ceramah dan bertemu dengan Kiai Sholeh Darat Alsamarangi dalam sebuah acara pengajian bulanan yang digelar di rumah pamannya Aryo Hadiningrat di Demak, Jawa Tengah, Kartini menjadi tercerahkan. Dari ulama tradisional asal Semarang ini Kartini belajar tentang kelembutan ajaran Islam. Untuk pertama kalinya Kartini mendengar penjelasan arti dan tafsir surat Al Fatihah, surat pertama dalam Al-Qur’an dari Kiai Sholeh Darat.
Kartini begitu terkesima dengan penjelasan runut makna surat Al Fatihah yang dijelaskan Kiai Sholeh Darat dengan bahasa Jawa. Selain itu, makna surat Al Baqarah ayat 257 yang terkandung kalimat minadzulumati ilannur membuat Kartini begitu terkesan dengan maknanya yaitu “dari kegelapan menuju cahaya.” Dalam salah satu suratnya Kartini pernah menyadur semangat ayat tersebut ke dalam bahasa Belanda yang berbunyi door duisternis tot licht yang berarti Habis Gelap Terbitlah Terang.
Hingga saat ini, buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Raden Ajeng Kartini telah menjadi karya paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa cahaya ilmu atau ‘ainul yaqin telah mengantarkan Kartini ke pemikiran Islam yang sesungguhnya.
Haqqul Yaqin
Haqqul yaqin ialah puncak keyakinan batin paling tinggi, yaitu melihat adanya Allah Swt di muka bumi ini dan tidak ada satupun di dunia ini selain kekuasaan dan kebesaran-Nya. Haqqul yaqin disebut juga haqqul bashiirah atau cahaya Ilahi (lampung.nu.or.id, 4/11/2021).
Kiai Sholeh telah membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Kartini pada akhirnya mendapatkan pencerahan terhadap agamanya. Spiritualitas Kartini tampak dari bagaimana ia merefleksikan ayat “min adz-dzulumati ila annur”, dari kegelapan menuju terang.
Ia pun tak ragu untuk meneguhkan imannya serta memuji Sang Pencipta seperti yang tertulis dalam suratnya kepada Nicolaus Adriani, 24 September 1902, “Matur nuwun, Gusti, bahwa sekarang nama-Mu yang indah itu telah menjadi panggilan kudus dengan makna yang teramat suci. Betapa tenang dan damainya sekarang di dalam diri kami setelah kami menemukan-Nya, kepada Ialah kami dapat menyerahkan diri sepenuhnya”.



