ArtikelOpiniRekomendasi

Pendidik Muslim di Era Post Truth

Oleh Drs. KH. Muhamad Muzamil

Post truth digambarkan oleh para ahli komunikasi sebagai era setelah kebenaran yang ditandai dengan banyaknya informasi yang tidak sesuai dengan fakta kebenaran.

Pasca kebenaran adalah keadaan-keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada tarikan emosi dan keyakinan pribadi. Indikasinya adalah banyaknya berita yang tidak sesuai dengan kebenaran dan banyaknya ujaran kebencian yang bertebaran di media komunikasi.

Karena itu bagaimana supaya para pendidik yang beragama Islam mampu mendidik kepada para peserta didik agar tetap meyakini tentang kebenaran Islam?

Sebagai agama samawi atau wahyu, kebenaran Islam bersifat mutlak, karena diturunkan oleh Zat Yang Maha Benar, Allah SWT.

Pembawa risalah Islam adalah Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW., yang memiliki watak selalu jujur, amanah, fathonah, dan tabligh.

Nabi Muhammad SAW disebut juga sebagai Nabi al-umiyyi, tidak dapat membaca dan menulis. Ketika mendapat wahyu yang pertama, surat al-alaq ayat 1 – 5, Nabi diminta Malaikat Jibril As untuk membaca, iqra’! Nabi SAW menjawab, saya tidak bisa membaca, “maa anaa bi qori’in”. Permintaan Malaikat Jibril As kepada Nabi SAW sampai tiga kali, dijawab sama oleh Kanjeng Nabi SAW. Kemudian, Malaikat Jibril As membacakannya secara perlahan, dan Nabi SAW diminta menirukannya.

Alquran yang diturunkan secara berangsur-angsur selama masa Diutusnya Kanjeng Nabi oleh Allah SWT, merupakan wahyu, baik susunan kalimat atau redaksinya, maupun maknanya dari Allah SWT.

Sedangkan sunnah-sunnah Nabi, yang kemudian dikumpulkan menjadi al-Hadits, maknanya merupakan wahyu Allah SWT, sedangkan kalimatnya dari Nabi SAW. Sebab al-Hadits adalah kumpulan perkataan (qauliyah), tindakan (fi’liyah), dan ketetapan (taqririyah) Nabi SAW.

Sebagaimana dijelaskan oleh Kanjeng Nabi SAW yang diteruskan oleh para ulama, Islam adalah satu kesatuan: Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. Selama seseorang menjalankan rukun Islam maka disebut Muslim.

Islam “dilandasi” dengan Iman dan “dipagari” dengan ihsan. Iman adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan amal perbuatan, terhadap Allah SWT., para Malaikat-Nya, para utusan-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan ketetapan-ketetapan-Nya (qidlo dan qadar).

Sedangkan Ihsan adalah selalu menghambakan diri kepada Allah SWT seolah-olah melihat-Nya, dan jika merasa belum bisa melihat-Nya maka dia yakin bahwa Allah SWT melihatnya.

Dengan demikian iman, Islam dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam realitasnya mungkin orang baru ber-iman saja maka disebut Mukmin. Beriman kemudian diikuti dengan menjalankan rukun Islam maka disebut muslim. Setelah muslim kemudian selalu berhati-hati dalam menjaga hubungan baik dengan Allah (hablu min Allah), dan menjaga hubungan baik dengan makhluk-makhluk-Nya terutama manusia (hablu min al-naas), maka disebut muhsin (selalu berbuat baik).

Karena itu tingkatan (makam) setiap orang berbeda. Hal ini tergantung pada faktor ketentuan Allah (takdir) dan faktor usaha (ikhtiar) seseorang, termasuk di dalamnya adalah ikhtiar yang dilakukan dalam pendidikan Islam.

Para pendidik Muslim meyakini bahwa Islam adalah hidayah Allah SWT. Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Karena itu meski dalam kondisi sulit seperti digambarkan para ahli komunikasi tentang masyarakat pasca kebenaran, para pendidik muslim akan dapat menemukan metode yang tepat untuk melakukannya, seperti dilakukan oleh para ulama al-salaf al-sholih.

Para penentang kebenaran tidak hanya terjadi saat ini saja, namun sejak Islam diturunkan 14 abad silam. Faktanya Islam dapat berkembang hingga saat ini. Dan dewasa ini Islam dipeluk sekitar 1,59 milyar jiwa atau sekitar 23 persen dari populasi dunia. Penduduk dunia yang tidak berafiliasi pada agama sekitar 16 persen.

Karenanya masih ada harapan jika Allah berkehendak maka kebenaran Islam akan diikuti oleh banyak penduduk secara lebih baik lagi. Hal ini tergantung pada umat Islam sendiri dalam memahami Islam. Yang perlu diantisipasi adalah kecenderungan penduduk Muslim bila lari dari ulama dan fuqaha sebagaimana diprediksi oleh Kanjeng Nabi SAW, maka Islamo phobia akan menggejala di masyarakat.

Karenanya tiada alternatif lain kecuali para pendidik Muslim komitmen memberikan suri taulan yang baik dalam mempelajari dan mengamalkan keilmuan Islam yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu yang sholih. Memang tidak bisa instan dalam memahami Islam. Agar seorang muslim mampu ke tingkatan Ihsan, maka tidak cukup hanya mempelajari dan mengamalkan syari’at saja, melainkan juga harus mempelajari dan mengamalkan hakikat dan makrifat, secara ikhlas dan terus menerus. Wallahu a’lam.

-Penulis adalah Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan