PuisiSastra

Puisi-Puisi Muhammad Rois Rinaldi

Ilustrasi CNN Indonesia

RENGGUTLAH AKU

Renggutlah aku, kekasih. Renggut aku
Aku janin dari rahim, engkau Ibuku.
Kumerdekakan aku dari akuku
jika kau membelengguku di dalam dirimu.
Galur-galur hidup yang tuba, tujuan tiada.
Kehendak ditinggalkan damba,
orang-orang terkasih hilang tanda.
Aku telah selesai marah di hari lalu,Bu.
Hari depan seleret jejak bisu
mengibas debu di ujung jalan buntu.
Kubawa lari diriku demi cita-cita
pembalasan untuk setiap tangan
yang merebut sepedaku
ketika musim layang-layang;
mereka yang merebut jam sekolahku;
mereka yang menamparku karena bicara;
mereka yang meledek rangking
dan piala-pialaku; mereka
yang tak mengakuiku sebagai manusia
karena miskin, jelek, dan kotor.
Dan aku kini telah menyesali semua
dendam yang membawaku pergi
dari dekap rengkuhmu, Ibu.
Api pada hutan-hutan jadi belantara
dalam jiwaku. Jalan pulang dikungkung asap.
Kabut waktu malam, kabut waktu tarhim,
sama tebal, sama mengental.
Jam di langit, jam di tanganku menuju nol.
Renggutlah aku, Ibu. Renggutlah aku.
Jangan biarkan aku habis hilang rangka.
Demdam yang celaka membawaku
kepada kecelakaan-kecelakaan hidup.
Aku keder. Aku kapok. Tetapi
aku telah tersuruk di sini.
O semesta tempatku meringkuk ini,
semesta macam apa?
.
Tempuh jalan-jalan kecil
yang tak satu jin pun menempuhnya.
Aku tak lagi ada di bawah lampu.
Tak di bawah bulan. Tak diterpa sinar.
Tak menerima amarah.
Tak menerima kasih.
Tak menemui teman. Tak menemui lawan.
Tak mendapat suara. Tak memberi suara.
Tak di hidup. Tak di mati.
Renggutlah aku, kekasih. Renggut aku.
Aku janin dari rahimmu, engkau Ibuku.
Sunyi di sekelilingku tiada.
Riuh di sekelilingku tiada.
Ada pada tempatku ada tak ada.
Aku ada pada tempatku yang tiada,
tempatku yang tiada ada aku yang tiada.
Aku tak bisa pergi kemana.
Orang kepadaku tak bisa datang.
Hanya kau, Ibu yang dapat menempuh
jalan menujuku. Aku tak berdaya
menempuh jalan menujumu.
Tempuhlah jalan-jalan kecil
yang tak ditempuh oleh satu angin pun
—di mana kata “di mana” tak ada.
Kau, hanya kau yang mengerti
bahasa dari kata yang bertidihan ini
dan semesta tempatku meringkuk
adalah semesta yang akan musnah
jika kau tiba, merenggutku.

2012

KUNCUP-KUNCUP MATAHARI

Kuning keemasan tak seiras
dengan butir padi pada panen raya:
senja, dalam segala musim,
bergetar mengirim angin yang gugur.
Di ribaan ibu, di rumah sederhana
—di mana besek dan damar
sama menggantung—
kuncup-kuncup matahari tumbuh
pada dinding, lumut di sumur
menyimpan binar. Tak lebih
panas. Tak menyebar cahaya
ke jagad luas. Tetapi anak-anak
selalu dalam dekap cahaya itu.
Ibu tak pernah membiarkan hawa
dingin datang dan kegelapan
mengirim raung serigala.

2018

PEMINTAL MIMPI-MIMPI YANG TUGUR

Gelap samar tak sewajah
dengan bunga hitam ditatrap purnama:
malam, pada semua tahun,
meriapkan kelelawar, meningkap sunyi,
dan bahasa-bahasa lelap.
Di kamar, pada kesamaran cahaya,
Ibu menangkup kelambu
pada ranjang-ranjang kayu.
Tak sepenuhnya ia mampu
menciptakan kesunyian jam tidur
tapi Ibu adalah pemintal
mimpi-mimpi yang tugur
pada setiap hela dengkur.
Kelepak milyaran kelelawar
—menyala dan menyalak matanya—
menjauh dari griap
bahasa kengerian.

2018

PADA SUATU MALAM

Bulan melampaui tanggal 30,
sebuah taman tua telah siap untuk tidur.
Sejak ada, malam memiliki mantel
yang ditenun dengan benang wol.
Kunang-kunang menyala di mata
seekor kucing di bawah lampu.
Semua yang hidup atau mungkin
mereka yang mati menjelang
detik-detik di mana malam memekik
menukik punggung anjing liar.
Beberapa dongeng tentang setan
menggema di gelas, di teras, di almari,
di almanak, di kolong jembatan.
Sebagian anak-anak terlelap
memeluk tubuh ibu setelah gerimis
berlalu dan angin menyisiri muka dinding.
Sebagian anak-anak ketakutan di bawah
sayap-sayap gagak—nasib yang riuh
menuturi hilangnya jejak nasab.
Mereka mencari tangan ibu
pada kaca jendela; pada embun dibias warna
bulan yang diterabas para pengendara
di jalan lengang.

2018

PADA MALAM YANG SAMA

Di rumah-rumah, beberapa tukang sihir
hadir dalam mimpi orang-orang
yang menonton film di jam larut.
Anak-anak di kampung masih
tidur bersama ibu dan di kota
banyak anak memiliki kamar sendiri
sejak lahir. Semua anak memiliki
waktu tidur pada malam yang sama
— hanya aksen warna langit
dan bias lampu pada udara yang mungkin
berbeda—tapi malam tidak hadir
sebagai yang merdeka dari perasaan.
Anak-anak yang tidur itu
adalah lembaran kertas yang diwarnai
malam dan dongeng. Mereka
tidak menyaksikan bagaimana bulan
dihalau gordeng tebal
di kota-kota dan bagaimana
cahaya dibiarkan datang
menerabas kamar di kampung-kampung.
Hela napas mereka tidak menguntit
bayang waktu yang bergerak ke masa depan
tapi mereka akan dewasa
dikuntit ingatan tentang bagaimana
dahulu dipeluk.
Perlahan mereka menempati
tempat-tempat yang jauh dari bahasa seorang ibu.
Ada yang menjadi pemarah.
Ada yang menjadi pemaaf.

2017

Biodata Penyair:
Muhammad Rois Rinaldi, lahir di Banten 8 Mei 1988. Koordinator Nasional Gabungan Komunitas Sastra ASEAN dan Redaktur Sastra Biem.co. Bersastra sejak 1998. Tulisannya berupa puisi dan esai dimuat di berbagai media massa, baik lokal, Nasional, maupun media massa di beberapa negara ASEAN. Karya-karyanya juga telah diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya Puisi Sepasang Angsa (Abatatsa, 2012); Terlepas (Pustaka Senja, 2015); esai Sastracyber: Makna dan Tanda (Esastera Enterprise, 2016); esai Koperasi dari Barat (Gaksa Enterprise, 2017), Pemanggungan Puisi; Panduan Praktis Baca Puisi (Gaksa Enterprise, 2018), dan Membaca Puisi-puisi Penyair Perempuan Asia Tenggara (Gaksa Enterprise, 2018). Rois menerima penghargaan Anugerah Utama Puisi Dunia (Numera, 2014) dan Anugerah Utama Penyair ASEAN (E-Sastera, 2015 dan 2016). Bukunya yang bertajuk Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik terbitan Esastera Enterprise di Malaysia dalam kurun waktu 10 tahun (2006-2016). Surel: rois.rinaldi.muhammad@gmail.com.

Tinggalkan Balasan