ArtikelOpini

Pudarnya Budi Pekerti

Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah

Oleh R. Andi Irawan, M.Ag.

Di dalam ajaran Islam budi pekerti atau yang sering disebut dengan istilah akhlak memiliki kedudukan yang paling tinggi setelah keimanan. Budi pekerti merupakan seluruh yang keluar dari diri kita, baik berupa ucapan, perilaku, tindakan, dan ekspresi, di mana semua itu didasarkan pada nilai keluhuran, kesopanan, kesantunan, dan penghormatan kepada Allah sebagai Sang Pencipta dan kepada semua ciptaannya. Dalam pemaknaan seperti ini, sebenarnya budi pekerti memberi pemahaman bagaimana kita sebagai manusia mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan Allah dan makhluknya secara harmonis dengan senantiasa menjaga prinsip penghormatan dan penghargaan.

Bahkan jika kita merujuk dalam salah satu keterangan hadits nabi Muhammad saw, dapat kita temukan bahwa sesungguhya beliau diutus oleh Allah swt, ke dunia hanya membawa satu misi profetik, yaitu menyempurnakan akhlah umat manusia. Sebagaimana tertera dalam hadits: “Innma Bu’itstu li utammima Makarima al-Akhlaq”. Dilihat dari susunan gramer bahasa Arab kata Innama memiliki faidah pengkhususan atau pembatasan. Dalam konteks hadits ini, pembatasan yang dimaksud adalah bahwa nabi diutus memang hanya untuk memberbaiki moral atau akhlak umat manusia dari kondisi yang jahiliah (kebodohan dan ketidak mengertian) menuju suatu kondisi yang rabbani.

Oleh karena itu, dalam Al-Quran, dalam berbagai kitab hadits dan sirah nabawiyah, akhlah Rasulullah mencerminkan dan menunjukkan kepada kita bagaimana kemuliaan budi pekerti beliau dalam semua aspek kehidupan kesehariaannya. Bagaimana beliau rajin beribadah mencerminkan kemuliaan akhlaknya dengan Allah. Bagaimana beliau dijuluki seorang yang amanah, jujur, lembut, mencintai orang miskin, anak yatim, dan para janda menunjukkan kemuliaan akhlaknya dalam kehidupan sosial.

Bagaimana beliau menyukai kucing dan memperlakukan hewan dengan baik, unta dan keledai mencerminkan kemuliaan akhlaknya dengan hewan. Dan bagaimana ketidak berkenannya beliau membunuh musuh dalam peperangan (kecuali dalam kondisi terpaksa) menunjukkan kemuliaan akhlaknya terhadap nilai kemanusiaan. Sebab, selama sejarah peperangan Rasul dan para sahabat hanya menelan nyawa tidak lebih dari 1000 korban.

Dari sejumlah contoh akhlak Rasul di atas, tidak heran jika Allah melalui Al-Quran berfirman bahwa akhlak Rasul sungguh mulia (wa innaka la’ala khuluqin a’dhim). Dan suatu ketika sayidah A’isyah ditanya oleh sebagian sahabat tentang bagaimana akhlak Rasulullah, maka Sayidah A’isyah berkata bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran. Artinya semua yang muncul dari diri Rasulullah, baik berkataan, perilaku, tindakan, dan ekpresi merupakan manivestasi dari isi Al-Quran. Dalam konteks ini lah benar jika apa yang dikatakan dan dilakukan beliau semuanya merupakan wahyu (wa ma yanthiqu ‘an al-hawa in huwa illa wahyun yuha).

Dengan misi penyempurnaan akhlak inilah Rasulullah di utus ke bumi yang dimulai dari bangsa Arab, di mana saat itu bangsa tersebut mengalami kebobrokan dari berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek ketuhanan mereka mengikuti paganisme, yaitu menyembah berhala. Berhala mereka yakini sebagai Tuhan sesembahan. Dalam kontes kehidupan sosial terjadi beberapa promblem, seperti tradisi kesukuan yang sering menyebabkan peperangan, kesenjangan sosial, pembunuhan dan memendam anak perempuan, minuman keras, menikahi saudara bahkan orang tua sendiri, jual beli yang didasarkan pada riba dan asal untung, dan lain sebagainya. Dalam konteks pilitik, kekuasaan hanya didominasi oleh kesukuan. Karena parahnya dan bobroknya kondisi bangsa Arab saat itu, maka Al-Quran menyebutnya sebagai bangsa Jahiliyah atau bangsa yang bodoh. Disebut jahiliyah karena mereka dalam kehidupannnya tidak memiliki akhlak mulia. Semua yang muncul dari diri mereka berdasarkan hawa nafsu sehingga cendrung merusak diri sendiri, orang lain dan alam lingkungan dimana mereka hidup.

Sepeninggal Rasulullah, para sahabatlah yang meneruskan risalah penyempurnaan akhlak melalui kemuliaan akhlak mereka, seperti Saidina Abu Bakar, Umar bin al-Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya. Kemudian diteruskan oleh para ulama sampai hari ini. Tentu apa yang dicerminkan Rasulullah berbeda dengan apa yang dicerminkan oleh para ulama saat ini karena perkembangan zaman yang sedemikian rupa.

Akan tetapi bagaimana pun ulama adalah para pewaris Nabi yang harus kita jadikan teladan dalam kehidupan (al-‘Ulama waratsatu al-anbiya’), tentu tidak sembarang ulama. Bagaimana kita bisa mengukur itu ulama yang patut dicontoh atau tidak, ya kita cocokkan dengan Al-Quran dan Hadits. Jika sesuai dengan keduanya berarti merekalah ulama yang disebut sebagai pewaris para nabi.

Walaupun secara jelas Islam diturunkan membawa misi penyempurnaan akhlak, namun tidak semua umat Islam menyadari bahwa akhlak adalah hal sangat yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi menghargai, menghormati, sopan santu, unggah ungguh dan lainnya sudah terasa langka di negeri ini. Penghargaan terhadap agama, nyawa, harga diri, harta, dan keturunan mulai terasa pudar dan langka.

Kasus masyarakat yang semakin menjauh dari ajaran agama, terorisme, pembunuhan, konflik antar daerah, pemerkosaan, nikah sesama jenis, kekerasan, narkoba, seks bebas, HIV Aid, korupsi, suap, riba, money politik, tebang pilih dalam penegakan hukum, pola hidup yang matrealistik dan hedonis, semua menunjukkan telah lunturnya akhlak dan budi pekerti masyarakat kita saat ini. Selain dari pada itu, saat ini juga kita terasa sulit mencari teladan, baik dari kalangan ulama atau para pemimpin. Mereka sering mencerminkan perilaku yang membuat masyarakat geram, marah, dan tidak sedikit yyang mencontoh perilaku buruk mereka.

Kemudian, siapakah yang bertanggingjawab atas itu semua? Siapakah yang bertanggung jawab untuk memperbaiki itu semua? Pemerintah atau ulama kah? Bagaimana jika pemerintah dan ulama sulit diandalkan? Terus bagaimana dan kepada siapa nasib masyarakat seperti ini kita serahkan? Saya yakin di antara para pejabat pemerintah, di antara para ulama, dan di antara masyarakat masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang kemulian akhlak. Mereka memang jumlahnya sedikit dan relatif langka. Tapi hal itu tidak lantas menjadikan kita pesimis mencari keberadaan mereka. Selain dari pada itu, setiap dari kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk melakukan perubahan dan menunaikan misi penyempurnaan akhlak yang telah dibawa oleh Nabi.

Biasanya perubahan itu berasal dari diri sendiri kemudian orang di sekelilingnya. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana diri kita mampu menjadi contoh terlebih dahulu bagi yang lain (ibda’ binafsik). Hanya kekecewaan yang didapati jika kita banyak berharap pada yang lain. Dengan melakukan perubahan pada diri sendiri, insyaallah dikemudian hari pasti ada yang akan mengikuti jejak diri kita. Dan hal itu secara alami dan bertahap akan menyebar serta mempengaruhi masyarakat yang lebih banyak dan lebih luas.

Bukankah dahulu Nabi pun seperti itu?… diawali dengan kegelisahan Nabi atas realitas di sekelilingnya yang beliau anggap janggal, kemudian diteruskan dengan kepribadian beliau yang mulia, dan dilanjutkan dengan dakwah beliau kepada masyarakat. Pada awalnya Nabi hanya berhasil mengajak dan merekrut dalam jumlah kecil, namun dengan berjalannya waktu disertai dengan niat dan tekat yang kuat, kesabaran, ketekunan, dan senantiasa memohon pertolongan Allah, alhmadulillah pengikutnya semakin banyak dan meluas. Dan hingga saat ini masyarakat muslim adalah masyarakat terbesar kedua di dunia setelah masyarakat kristiani. Perubahan itu berawal dari seorang yang bernama Muhammad dan berawal dari bangsa Arab.

Mungkinkah hal itu terjadi pada diri kita? Saya kira sangat mungkin. Karena setiap dari kita memiliki tanggung jawab atas misi yang dibawa oleh Nabi, yaitu penyempurnaan akhlak. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana meyempurnakan akhlak diri kita terlebih dahulu seraya melakukan gerakan dakwah kepada orang-orang di sekitar kita. Tentu dakwah di sini dalam artian yang luas dan dengan cara apa pun selama tidak melanggar ajaran agama.

Semua itu (misi penyempurnaan akhlak) bisa kita lakukan melalui lingkungan lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat, lingkungan pekerjaan, lingkungan pemerintahan, lingkungan partai politik, lingkungan pergaulan sosial, lingkunagan organisasi, dan dimana pun kita berada sesuai dengan status dan profesi yang kita sandang. Saya yakin Allah masih memberi kesempatan kita untuk berubah dan membuat perubahan dengan pertolongan-Nya.

-Penulis adalah Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan