Penyair

Cerpen Beri Hanna Setelah bertahun-tahun jauh dari rumah, akhirnya saya harus pulang. Menulis puisi di kota besar ternyata tidak menjanjikan. Tidak seperti yang saya harapkan; paling tidak mendapatkan pembaca, justru sangat berbanding terbalik dari itu. Orang-orang tidak suka dan tidak makan puisi. Bahkan uang kontrakan hingga rokok dan segelas kopi tidak pernah bisa dibayar dengan […]
Lelaki Tua dengan Surga di Bibirnya

Oleh Mahan Jamil Hudani Ramidi selalu ingat akan ceramah Ustaz Budiman beberapa waktu lalu. Inilah kesempatan Ramidi untuk bisa mendapatkan itu. Lelaki itu sudah merasakan dekat dengan masa kematiannya. Bulan ini usianya telah menginjak tiga perempat abad, usia yang menurut pendapat orang-orang adalah bonus besar dari Tuhan. Ramidi merasa tidak memiliki amalan banyak […]
Membakar Surga

Cerpen Yuditeha Belum lama aku bertemu dengan anak gelandangan. Tentu saja dia tidak sekolah, tapi andai sekolah, kira-kira anak itu sekarang kelas lima SD, tapi jalanan tampaknya telah mendewasakan dia lebih cepat. Pada saat itu aku hendak pulang usai menjalani tes pegawai di sebuah dinas kota. Ketika aku sedang menunggu bus antar kota di sebuah […]
Bertemu Tuhan di Masjid Assalamah

Cerpen Halima Masyaroh Agama, apa itu? Aku sama sekali tak menganggapnya penting. Di buku laporan pendidikanku sejak SD hingga SMA kolom agamanya berganti-ganti agama. Di buku laporan pendidikanku saat SD pada deret agama di data diriku beragama Islam, saat SMP entah bagaimana jadi Protestan, gilanya lagi aku mencoba Agama Hindu untuk di buku laporan pendidikan […]
Teman Lama

Cerpen Latif Nur Janah Kutinggalkan istriku yang masih duduk di kursi dapur. Kuempas tubuh ke dipan kayu di teras rumah. Angin yang berembus dari selatan tak membawa kesejukan berarti seperti biasanya. Barangkali karena hati dan pikiranku sedang kusut sehingga angin sepoi yang menggerakkan dedaunan itu tak begitu terasa. Kuhela napas panjang beberapa kali. Kusut pikiran […]
Lingkaran Sanubari

Cerpen M.Z. Billal 1. Di Barbershop “Aku mau di situ!” “Kita bisa cari tempat yang lebih bersih,” sahut ayahnya. “Lagi pula di situ sepi. Itu artinya dia barber yang kurang mahir.” “Ayah tidak bisa menilai pekerjaan orang lain sebelum mencoba cari tahu sendiri bagaimana hasil pekerjaannya,” dia menjawab tegas. “Dan aku cuma mau di situ.” […]