Abdul Jamil-Marlina

Oleh Ilham Wahyudi “Mimpimu kelewat tinggi Abdul Jamil. Marlina itu anak orang terpandang. Lagi pula engkau pun tak pantas, dia wanita berpendidikan, sedangkan engkau? Sudahlah Abdul Jamil, lebih baik engkau kubur dalam-dalam mimpi itu! Sampai kapan pun Tuan Tambi tidak akan setuju engkau dengan Marlina.” Abdul Jamil tersadar. Buru-buru dia perbaiki posisi berdirinya. Sekiranya semenit […]

Kaca Benggala

Cerpen Prima Yuanita “Dan apa yang telah terjadi pada orang tuamu, jadikan kaca benggala buatmu!” Begitulah kalimat itu diulang-ulang. Aku tahu bapak bermaksud menasihatiku, tapi entah kenapa, kurasa dialah yang lebih butuh nasihat dariku. Di usianya yang lebih dari separuh abad, bapak hidup sebatang kara di sebuah ruangan masjid yang berada di ujung gang sempit. […]

Surau Kami Tak Akan Roboh

Cerpen M Arif Budiman Di kampung kami, Mursyid adalah pemuda yang sangat terkenal karena kepandaiannya bersilat lidah. Ia seorang pembual yang ulung. Saking ulungnya, ia mendapat gelar si Raja Pembual dari Kampung Tanahlapang.  Pernah suatu kali, Mursyid membual pada seorang janda yang terkenal pelit. Hanya perkara sebiji mangga yang ia temukan jatuh di jalan depan […]

Air Mata di Ubin Surau

Cerpen Heru Sang Amurwabumi Surau itu terletak di dekat muara Bengawan Pegirian, anak Bengawan Mas. Surau itu bukanlah surau biasa, sebab menjadi salah satu surau pertama yang ada di belahan timur tanah Jawa. Ia berdiri di tengah permukiman orang-orang yang berasal dari tanah seberang. Orang-orang yang memiliki hidung lebih mancung dari kebanyakan orang Jawa. Mereka […]

Gembok

Oleh Sam Edy Yuswanto Gembok. Begitulah orang-orang selama ini menamaiku. Aku tercipta dari tembaga dan biasa dijual di toko-toko bangunan juga toko peralatan sepeda. Cukup banyak orang yang berminat membeliku. Mungkin karena aku dianggap memiliki banyak fungsi sehingga keberadaanku kerap dicari-cari. Biasanya, mereka menjadikanku sebagai alat untuk menggembok pintu, kendaraan, bahkan kotak amal. Secara tidak […]

Jalan Pintas

Cerpen Pasini    “Bude sempat menuduh aku mengada-ada. Padahal aku sambil menangis meraung-raung.”    Akhirnya kupilih kalimat tersebut sebagai pembuka. Berharap lelaki di depanku itu akan menimpalinya dengan pertanyaan lanjutan, lantas bagaimana ia akhirnya bisa percaya?, misalnya.    Rumah Bude Mida dua rumah jaraknya dari rumah kami. Rumah persis di samping rumah kami justru tak berpenghuni, tengah dalam […]