Oleh: Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Pendidikan kita tampaknya sedang sangat sibuk mengejar masa depan, sampai-sampai lupa bertanya: masa depan macam apa yang sebenarnya sedang dikejar?
Di luar sekolah dan kampus, dunia bergerak dengan kecepatan algoritma. Kecerdasan buatan mulai menulis artikel, membuat desain, menyusun laporan, bahkan memberi nasihat kehidupan dengan nada yang kadang lebih sabar daripada manusia asli. Media sosial mengatur emosi publik setiap detik. Informasi beredar tanpa jeda. Semua serba cepat, serba instan, serba digital.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada sesuatu yang diam-diam makin menipis: kedalaman berpikir, ketenangan batin, dan kualitas akhlak. Kita memasuki era Society 5.0, sebuah konsep yang diperkenalkan Jepang melalui Cabinet Office (2016) tentang masyarakat yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Intinya sederhana: teknologi harus membantu manusia menjadi lebih manusiawi.
- Iklan -
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, yang sering terjadi justru sebaliknya. Teknologi berkembang cepat, sementara manusia perlahan berubah menjadi makhluk yang semakin mudah marah, mudah tersinggung, mudah percaya hoaks, dan sangat sulit membedakan mana pengetahuan, mana kebisingan. Dan pendidikan Islam kini berdiri tepat di tengah pusaran itu.
Ironisnya, sebagian pendidikan kita masih terlalu percaya bahwa modernisasi cukup dilakukan dengan memasang layar digital di kelas dan mengganti papan tulis dengan proyektor. Sekolah berlomba terlihat modern, sementara pembentukan akhlak sering kalah pamor dibanding lomba konten media sosial sekolah. Padahal masalah terbesar era digital bukan kekurangan teknologi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.
Anak-anak hari ini mungkin lebih cepat mengoperasikan aplikasi dibanding generasi sebelumnya. Tapi cepat menggeser layar tidak otomatis berarti matang berpikir. Mereka bisa mencari ribuan informasi dalam hitungan detik, tapi belum tentu mampu memahami mana yang benar, mana yang manipulatif, dan mana yang sekadar sampah digital yang dibungkus motivasi. Di titik inilah pendidikan Islam menghadapi ujian serius.
Syed Muhammad Naquib al-Attas (1978) sejak lama mengingatkan bahwa krisis terbesar manusia modern bukan krisis ilmu, melainkan krisis adab. Menurut Al-Attas, manusia modern mengalami kekacauan karena kehilangan kemampuan menempatkan sesuatu secara benar dalam kehidupan. Dan tampaknya kita mulai melihat gejalanya hari ini.
Orang semakin mudah berbicara tentang moral di media sosial, tapi semakin sulit menjaga etika dalam percakapan sehari-hari. Semua orang ingin terlihat pintar, meski tidak selalu ingin belajar. Semua ingin didengar, tapi sedikit yang benar-benar mau memahami. Teknologi akhirnya melahirkan ilusi pengetahuan.
Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengutip ayat, hadis, atau pendapat ulama dalam satu unggahan pendek, lalu merasa cukup memenuhi syarat menjadi ahli segala bidang. Padahal kedalaman ilmu tidak pernah lahir dari kecepatan mengetik. Ironisnya, pendidikan sendiri kadang ikut terjebak dalam budaya instan itu.
Sekolah sibuk mengejar nilai, kampus sibuk mengejar akreditasi, sementara pembentukan karakter sering diperlakukan seperti pelengkap upacara. Pendidikan agama hadir di ruang kelas, tapi belum tentu hadir dalam cara berpikir. Akhlak diajarkan sebagai materi pelajaran, bukan sebagai budaya hidup. Mungkin karena akhlak memang sulit diukur dengan pilihan ganda.
Imam Al-Ghazali (1100) sejak lama mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan yang lebih besar. Dan harus diakui, dunia digital hari ini memberi cukup banyak bukti tentang itu. Teknologi berkembang luar biasa, tapi pada saat yang sama hoaks tumbuh subur, fitnah menyebar cepat, ujaran kebencian diproduksi massal, dan manusia semakin nyaman menghakimi tanpa memahami.
Kita hidup di zaman ketika jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran. Media sosial akhirnya menjadi semacam pasar emosi raksasa. Orang marah berjamaah, tersinggung berjamaah, lalu merasa paling benar berjamaah. Algoritma bekerja sangat efektif: semakin gaduh seseorang, semakin besar peluangnya mendapat perhatian. Dan pendidikan Islam mau tidak mau harus menghadapi realitas itu.
Masalahnya, sebagian pendidikan kita masih terlalu sibuk pada formalitas. Administrasi menumpuk, laporan bertambah, target kurikulum terus dikejar. Guru diminta inovatif, kreatif, digital, inspiratif, sekaligus tetap sabar menghadapi sistem yang kadang bahkan tidak memberinya cukup ruang untuk berpikir tenang. Akibatnya, pendidikan sering kehilangan substansi.
Kita ingin melahirkan generasi berakhlak, tapi lingkungan sosial digital justru setiap hari mengajarkan sebaliknya: cepat bereaksi, cepat menghakimi, cepat viral. Anak-anak belajar agama di kelas, lalu belajar budaya amarah di media sosial. Padahal inti pendidikan Islam bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan manusia yang utuh: cerdas akalnya, matang akhlaknya, dan jernih nuraninya.
Fazlur Rahman (1982) pernah mengingatkan bahwa krisis pendidikan Islam modern terjadi ketika ilmu pengetahuan dipisahkan dari orientasi moral. Akibatnya, lahir manusia yang mungkin unggul secara teknis, tapi miskin tanggung jawab etis. Dan mungkin itu yang sedang kita saksikan hari ini: manusia semakin pintar menggunakan teknologi, tapi tidak selalu semakin bijak menggunakannya.
Karena itu, tantangan terbesar pendidikan Islam di era Society 5.0 sebenarnya bukan bagaimana mengejar kecanggihan mesin. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga manusia agar tidak berubah menjadi mesin: cepat, otomatis, efisien, tapi kehilangan kepekaan hati.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kekurangan teknologi. Peradaban runtuh ketika ilmu kehilangan akhlak, kecerdasan kehilangan kebijaksanaan, dan manusia kehilangan kemampuan mendengar suara nuraninya sendiri.
* Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd. adalah mahasiswa Prodi S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP); pembina Griya Riset Plikon (GRiP) Magelang.



