Oleh S. Prasetyo Utomo
ANAK-ANAK seringkali menghadapi tekanan sosial. Ia tak melihat cahaya dalam gelap ruang kehidupan. Tentu saja anak-anak memerlukan perlindungan agar memiliki ketegaran jiwa menghadapi tekanan sosial. Diperlukan kebangkitan jiwa, suatu resiliensi, yang memberikan kepercayaan diri anak-anak untuk memcapai ketegaran menyambut hidup.
Saya menemukan lima penyair yang mencipta puisi bermuatan resiliensi jiwa anak untuk menghadapi tekanan sosial. Lima penyair itu menyingkap tekanan sosial yang menimpa anak-anak untuk mencapai katarsis. Lima puisi itu mencipta ruang perenungan untuk menyingkap hakikat resiliensi.
Kelima puisi itu adalah “Sekolah” karya Sugiarta Sriwibawa, “Anak-Anak Tanpa Nama”, karya Herman KS, “Tentang Bahagia” karya Hilmi Faiq, “Ibu” karya D. Zawawi Imron, dan “Mata Pelajaran Sanu, Sang Guru” karya Motinggo Busye. Keunikan sudut pandang menjadi kekuatan para penyair untuk menyingkap persoalan resiliensi yang berhadapan dengan sekularisme, spiritualisme, dan transendesi. Kelima penyair ini memiliki ketajaman intuisi yang berbeda tentang resiliensi dan tekanan-tekanan sosial yang menyelubunginya.
- Iklan -
***
PUISI “Sekolah” karya Sugiarta Sriwibawa mengisyaratkan pentingnya seorang tokoh spiritual, yang membuka kesadaran kosmologi bagi anak-anak. Alam lingkungan sebagai bagian dari penerimaan dan mimpi anak-anak. . Guru berperan sebagai pembebas jiwa murid. Guru menyerahkan jiwa raga untuk kebahagiaan murid secara kreatif. Seutuh penuh, guru membuka cakrawala berpikir anak-anak untuk mengembangkan imaji, kreativitas, dan menghayati spiritualitas murid, dan segala kehidupannya dipertaruhkan untuk kebahagiaan para murid: Sekolah di tepi sungai/ Berpikir perahu/ Bermimpi laut// Sekolah di tepi sungai/ Guru menolong melukis tamasya/ Anak-anak tekun memberi warna//.
Berbeda dengan Sugiarta Sriwibawa, Herman KS lebih menekankan resiliensi anak-anak yang kehilangan identitas diri. Dalam puisi “Anak-Anak Tanpa Nama”, penyair menghadirkan upaya resiliensi anak-anak dengan berdialog terhadap tokoh panutan yang sanggup memberi perlindungan. Anak-anak itu kehilangan perlindungan ayah. Kehilangan naungan anak-anak itu menjelma kegelisahan hidup: Anak-anak tanpa nama, anak-anak tak dikenal siapa/ bercerita padaku, mengadu kepadaku/ ayah-ayah mereka berangkat pagi-pagi/ dan kemudian tiada pernah kembali// Hari-hari masih saja berantukan dengan perang/ hari-hari masih saja bergebalau keluh kesah/ dan anak-anak tanpa nama, anak-anak tak dikenal siapa/ terjerat ke dalamnya//. Dalam konteks kehidupan mutakhir, diksi “perang” puisi ini bisa dimaknai sebagai “pergulatan hidup” yang dihadapi orang tua dan menyerap seluruh waktu dan perhatian mereka, sehingga anak-anak kehilangan perhatian dan naungan.
Hilmi Faiq menulis puisi “Tentang Bahagia”. Penyair mengangkat realitas kemiskinan anak-anak dan kenestapaan hidup mereka merupakan kemiskinan struktural yang diciptakan kekuasaan. Dalam puisi ini penyair menarasikan anak-anak miskin itu berhadap-hadapan dengan anak-anak kalangan kelas atas yang berkelimpahan kemewahan. Resiliensi sosial diperlukan untuk mengembalikan keadilan dan kesejahteraan bagi anak-anak yang papa: Dua bocah dengan baju kusam/ dan wajah berdebu/ berbagi remah-remah sisa makanan/ di perempatan/ Sepasang kekasih mengamati mereka/dari jendela hotel bintang lima/ diselingi rencana/ bulan madu berikutnya// Kau datang menggerutu/ tentang hidup yang tak adil/ jika bisa dibuat kaya/ kenapa mesti harus ada/ yang bernasib papa//.
Resiliensi terhadap anak-anak dilakukan pula dalam perlindangan spiritual ibu. Peran ibu dalam menjaga perkembangan jiwa anak terutama pada kasih sayangnya. Ibu membasuh segala kesalahan dan dosa anak. Ibu menumbuhkan kedewasaan anak untuk berani mengarungi kehidupan. Citra seroang ibu, dalam pandangan penyair, sebagai pahlawan bagi kehidupannya. Tiap rintangan hidup yang dihadapi anak, akan dihadapi sebagai sebuah pengalaman transenden untuk menemukan hikmah keilahian karena bimbingan ibu. D. Zawawi Imron dengan puisi “Ibu” melakukan penyingkapan-penyingkapan resiliensi jiwa anak: “bila kasihmu ibarat samudra/ sempit lautan teduh/ tempatku mandi, mencuci lumut lumut pada diri/ tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh/ lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku/ kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/ namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu/ lantaran aku tahu/ engkau ibu dan aku anakmu// bila aku berlayar lalu dating angin sakal/ Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal//.
Pengalaman transenden seorang anak untuk menemukan resiliensi religiusitas disingkap Motinggo Busye dengan puisi “Mata Pelajaran Sanu Sang Guru”. Ia mengekspresikan sugesti bahwa penderitaan manusia dibentuk oleh harapan dan napsu duniawi yang tak tercapai. Resiliensi dicapai mengikuti ajaran para nabi, mengurangi tidur malam yang menyebabkan tubuh merasakan keterpurukan hidup berkali-kali. Penyair mencipta resiliensi tentang anak-anak yang memerlukan transendensi sebagai perlindungan religiusitas: O, murid yang lelah menderita bertahun-tahun/ mengeluh karena belantara mimpi/ yang tak selesai/ yang tak usai-usai/ duduklah tertib seperti duduknya para Nabi/ Kurangi dulu tidur malammu yang membuatmu tua/ jauhkan ranjang/ karena itulah kuburmu yang membikinmu mati/ berkali-kali mati/ berkali-kali//.
***
KESADARAN anak untuk melakukan resileinsi terpusat pada keselarasan saat berhadapan dengan atmosfer kosmologi, pencarian identitas diri, kesejahteraan, dan religiusitas. Kelima penyair mengekspresikan sugesti terhadap resiliensi religiusitas seperti yang ditulis D. Zawawi Imran merupakan puisi yang membangkitkan kesadaran yang dibentuk dari sosok ibu yang memperkokoh jiwa anak untuk menghadapi pergolakan kehidupan.
Kelima penyair yang saya bicarakan dalam tulisan ini menyampaikan tafsir tentang resiliensi pembebasan jiwa yang merdeka dalam menghadapi tekanan sosial. Puisi mereka mengekspresikan sudut pandang penyair tentang kebangkitan jiwa anak-anak untuk menemukan kearifan dan kedewasaannya. Kelima penyair ini sedang menarik kita – dengan kekuatan diksi masing-masing – untuk berdialog batin, dan menemukan katarsis resiliensi. Hanya saja, puisi D. Zawawi Imron menghanyutkan kita pada spiritualitas ibu yang membangkitkan resilieinsi jiwa untuk menemukan identitas diri, kesadaran lingkungan, tantangan sosial, dan harmoni religiusitas dengan diksi yang kaya akan tafsir – menghadirkan kompleksitas makna.
Tiap anak memerlukan resiliensi agar tangguh menjalani hidup. Karena itu, puisi dapat dihadirkan dalam kadar estetika yang selaras dengan pemahaman anak dalam ruang kelas.
***
*) S. Prasetyo Utomo, sastrawan, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.



