Oleh Hamidulloh Ibda
Lagu itu memori. Tentang apapun. Tentang diriku. Tentang dirinya. Tentang mereka. Tentang kehidupan. Tentang kematian. Tentang Tuhan. Tentang segalanya.
Saat mendengar suatu lagu, maka terbesit memori tertentu. Misal saya suka lagu Honky Tonk Women (The Rolling Stones, 1969), Angie (The Rolling Stones, 1973), No Woman, No Cry (Bob Marley & The Wailers, 1974), Syair Lagu Kehidupan (God Bless, 1980), Tahun 2000 (Nasida Ria, 1982), Perfect Strangers (Deep Purple, 1984), Kerangka Langit (Kaisar, 1989), Maafkan (Slank, 1990), Enter Sandman (1991), dan lainnya. Apalagi, lagu itu kita sukai dan kompatibel dengan kehidupan kita. Masa lalu, isi hati, bahkan kisah hidup kita. Makanya saya menyebut lagu, cerpen, puisi itu pengikat memori.
Nah, urusan jagat maya hari ini, politik ora mung urusan lobi di ruangan tertutup yang gelap, atau pidato kaku linier di atas podium. Semua berubah. Medsos telah mengubah lanskap komunikasi politik menjadi ruang bermain yang cair, lucu bahkan jenaka, satir, sekaligus enigma. Bentuk fenomena paling unik baru-baru ini yaitu munculnya lagu bertajuk MBG alias Mas Bahlil Ganteng yang viral.
- Iklan -
Pencipta lagu itu belum jelas siapa. Saya yakin dibuat oleh orang dengan bantuan AI. Entah pakai Suno AI atau lainnya. Jelasnya, diberitakan bahwa pencipta lagu MBG adalah kreator konten di TikTok dengan nama @vokalis_netizen.
Stilistika Lagu MBG
Saya mencoba melihat dan menerjemahkan lagu MBG dari sudut pandangan stilistika dan pendidikan. Secara tekstual, ini adalah lirik lagu MBG:
MBG
Mas Bahlil Ganteng
Buah apa?
Yang paling manis
BUAAAHLILLLL
Tambah ganteng aja
My little bolu ketan
Ups kanda suka dinda punya gaya
Sialan dia
Makin lucu guys
Kalau diperhatiin lama-lama mirip
ZAYN MALIK IHH
My Bahlil Ganteng
Makin glowing ajanih
My Koko Bahlil kecintaanku
My little cilok pentol
Kecap dinda
Dulu sekarang benci
Semenjak kanda Mas Bayu ganteng
Apa itu harta, takhta, Baskara
Aku tim harta takhta kakanda
Sah ya, benci dan cinta itu beda tipis
Semenjak kakanda bilang matikan kompor
Dalam perspektif stilistika, lirik lagu Mas Bahlil Ganteng adalah bentuk hiperbola parodis dan dekonstruksi citra. Bahlil Lahadalia yang dikenal sebagai figur politik serius (Ketum Partai Golkar), pengusaha, dan Menteri ESDM, didekonstruksi total menjadi sosok pop-kultur yang menggemaskan melalui metafora kuliner seperti “My Little Bolu Ketan” dan personifikasi kultur pop modern, “Mirip Zayn Malik Ihh.” Hahaha
Ratna dalam buku Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya (2009), berpandangan gaya bahasa dalam teks kontemporer memiliki fungsi meruntuhkan kekakuan makna formal. Lirik ini menggunakan teknik campur kode (code-mixing) antara bahasa gaul internet (glowing, guys, ups) dengan diksi romantis klise (kanda, dinda, kecintaanku). Hal ini membangun efek humor yang kontras (ironi), sebab audiens diajak menertawakan sekaligus mengagumi sosok politik dengan cara yang tak biasa. “Di luar nurul” lah intinya.
Pada frasa akhir, “Semenjak kakanda bilang matikan kompor”, merupakan puncak dari permainan stilistika tersebut. Apa itu? Sebuah metafora atau sindiran kontekstual terhadap kebijakan atau pernyataan publik Menteri Bahlil yang pernah dilontarkan, dikemas dalam dialek asmara. Sebab, Menteri Bahlil di akhir Maret 2026 melontarkan pernyataan viral yang memintak masyarakat mematikan kompor setelah memasak dalam rangka menghemat energi.
Hiperbola Satir dan Parodi MBG
Jika dilihat dari perspektif linguistik, fenomena ini mempertegas bahasa digunakan sebagai alat hegemoni budaya populer yang sedang trending atau viral. Poedjosoedarmo dalam Filsafat Bahasa (2001), memiliki pendapat perkembangan bahasa selalu mengikuti dinamika sosial penggunanya.
Secara tekstual, lirik lagu MBG memperlihatkan sifat bahasa yang arbitrer (manasuka/ semau-maunya) dan adaptif. Kata “Buaahliillll” yang diplesetkan dari kata “buah” tak hanya aliterasi dan asonansi (permainan bunyi), namun menjadi sebuah komodifikasi linguistik dalam rangka menarik perhatian emosional pendengar (attention economy). Dalam konteks ini, bahasa tak lagi memiliki fungsi sebagai penyampai informasi faktual, namun menjadi alat ekspresi emosional murni (ekspresif-evokatif).
Dalam buku Rabelais and His World (1984) melalui konsep carnivalesque, Bakhtin menyatakan dalam momen karnaval, hierarki sosial yang sangat kaku laiknya sosok Menteri yang biasanya diasosiasikan dengan protokol formal dan kekuasaan, diputarbalikkan melalui humor, parodi, dan estetika “yang rendah” atau domestik (seperti penggunaan metafora makanan: bolu ketan atau cilok).
Lirik ini secara stilistika mendekonstruksi pada otoritas. Apa itu? Bahasa yang digunakan tak lagi tunduk pada norma kesantunan birokratis, namun justru “merayakan kegembiraan profan” yang menyatukan rakyat dan penguasa dalam ruang imajiner digital lewat TikTok, Instagram, Youtube, Facebook, dan lainnya. Fenomena ini menurut Bakhtin, menciptakan “pembebasan sementara”, yaitu bahasa parodi memiliki fungsi mencairkan ketegangan politik menjadi keakraban budaya pop yang partisipatif dan bebas di dunia digital.
Di sisi lain, lirik lagu MBG juga merepresentasikan hyperreality. Dalam buku Simulacra and Simulation (1981), Jean Baudrillard menyatakan teori hyperreality secara apik. Dalam teks lagu MBG, bahasa tak lagi memiliki fungsi yang merujuk pada realitas objektif atau kualitas faktual dari subjeknya, namun sebaliknya justru menciptakan sebuah simulacrum, sebuah citra buatan yang dianggap lebih nyata dibandingkan kenyataan aslinya oleh audiens digital. Inilah bukti riil paradoks yang bisa kita lihat.
Frasa “Makin Glowing” atau “Mas Bahlil Ganteng” menjadi tanda (signs) yang telah terlepas dari petandanya (signified). Maksude piye? Ya, estetika artifisial produk algoritma AI menggeser kebenaran fisik yang tampak. Dalam konteks attention economy (ekonomi perhatian), lirik lagu MBG memanipulasi persepsi lewat hiperbola linguistik, bahkan diskursus politik berat berubah menjadi simulasi visual-auditori yang menyenangkan.
Apa dampaknya? Bahasa dalam lagu ini bukan sekadar menjadi alat komunikasi, melainkan justru menjadi instrumen yang membentuk realitas baru di mana citra digital yang viral menghegemoni lebih kuat dibandingkan eksistensi faktual sang tokoh di dunia nyata. Kira-kira begitu!
Literasi Kritis Anak Sekarang
Kelatahan terhadap bahasa atau lagu seperti Mas Bahlil Ganteng ini berdampak pada anak-anak usia pendidikan dasar (SD/MI). Anakku saja hafal banget. Bahkan, anak Menteri Bahlil juga sangat hafal dan sampai tertawa dalam videonya dengan Raffi Ahmad.
Dalam konteks ini, anak-anak sebagai manusia memiliki karakter meniru, dan menjadi peniru andal (mimetic learners). Diksi seperti “Mas Bahlil Ganteng,” “sialan dia”, “harta, takhta”, atau pemujaan figuratif berlebihan sangat mudah melekat dalam memori mereka. Jika dibiarkan, apakah berbahaya?
Montessori (1964) dalam The Absorbent Mind menegaskan teori The Absorbent Mind atau pikiran yang menyerap, disebutkan anak usia dini (0–6 tahun) mempunyai jenis pikiran unik dan berbeda dibandingkan orang dewasa. Anak-anak tak belajar bahasa secara formal, melainkan merekamnya langsung ke dalam struktur psikis mereka. Dalam The Language Instinct (1994), Pinker berpandangan anak usia dini dan usai SD/MI menyerap bahasa dari lingkungan secara holistik tanpa adanya filter/penyaringan maknanya secara kritis.
Maka fenomena lagu MBG ini membawa tantangan ganda bagi pendidikan dasar yang harus dijawab bersama. Pertama, erosi bahasa baku (merujuk EYD V). Anak-anak berpotensi menilai bahkan memahami bahasa slang dan tata bahasa yang acak-acakan sebagai standar komunikasi sehari-hari. Bahaya to, Bos!
Kedua, meski ada tantangan erosi, namun juga ada peluang literasi kritis. Dalam hal ini, guru di SD/MI bisa menerapkan fenomena viral ini sebagai materi “literasi media”. Para murid SD/MI diajak memahami mana bahasa yang pantas digunakan dalam konteks formal dan mana bahasa yang sekadar bersifat hiburan di medsos.
Lirik lagu MBG tentu menjadi produk nyata dari persilangan antara budaya pop, kebebasan berbahasa, politik, demokrasi, dan kebebasan berekspresi di media digital. Lewat pandangan stilistika lagu MBG ini, kita melihat teks ini sukses menghibur justru karena ia mendobrak batas-batas kelayakan bahasa formal yang kadang dianggap kaku.
Bagi pendidik (guru dan dosen), orang tua, bahkan pegiat bahasa, fenomena ini tak perlu direspons dengan kepanikan moral. Lalu? Ya tentu dengan bimbingan literasi yang bijak dan bermartabat. Politik bisa saja kaku, tetapi di tangan netizen, ia bisa berubah menjadi “bolu ketan”. Hahaha bukankah demikian?
-Hamidulloh Ibda, Penulis adalah Rektor INISNU Temanggung.



