NEGERI DI BAWAH MESIN HITUNG
politik tumbuh tanpa wajah
ia tak lagi menyisakan mata yang teduh
hanya berputar seperti roda pabrik
- Iklan -
menggilas nama-nama kecil
tanpa pernah belajar menunduk
baja-baja keadilan dibengkokkan perlahan
dipanaskan dalam rapat-rapat tertutup
lalu ditempa ulang
agar muat di saku jas yang licin
di ruangan dingin
mesin hitung menjadi imam keputusan
ia berzikir dengan angka-angka
menyaring manusia menjadi persen
mengubah ketulusan menjadi grafik
yang bisa dinegosiasikan kapan saja
denyut jalanan membaca kegelisahan
lebih cepat dari harga dan survei
ia bergetar di pasar, di gang-gang sempit
di meja makan yang mulai kehilangan lauk
di antrean kemiskinan yang tak pernah masuk berita
dan hitam
masih warna paling jujur
ia berkibar di barisan Kamisan
di mata yang menolak tunduk
di malam yang terlalu panjang
menyimpan pertanyaan: di mana anak mereka
Purwokerto, 2026
DI AMBANG DOA
malam ini kau tidur di doa yang mana
ketika jam dinding penjaga usia kita
mendadak menelan detaknya sendiri
membiarkan waktu terhenti
di antara dua detak yang gagal bertemu
kau bersandar pada bismillah pilihanmu
aku merapatkan amin yang lain
kita menjadi dua daun pintu
yang berayun menjauh
meski berputar pada engsel yang satu
di antara langkah yang kita sebut searah
kepalaku riuh seperti awan sarat hujan
menunggu arah kedatangan
reremah rindu
yang kau endapkan semalaman
pada sunyi yang tak mengenal namaku
aku berdiri di ambang yang kian menipis
menyimak detak yang tak lagi pulang
dalam diam yang memanjang
aku bertanya:
masih adakah ruang bagi doa
jika amin kita
berjalan ke mata angin berbeda
Purwokerto, 2026
SEBELUM PAGI
kudatangi subuhmu bersama cahaya
yang pecah perlahan di ufuk
seperti dua salam lirih
yang menyapa pundak kanan kirimu
selebihnya aku hanya berdiri di tepi
tak ingin mengusik doa
yang masih hangat di bahumu
di balik pintu
kau sisakan celah kecil
tempat namaku boleh singgah
dari sana langkahku menemukan arah
seperti tasbih yang berpindah jari
pelan, terhitung
kedatanganku kau tutup perlahan
dengan ayat-ayat yang kau panjatkan
membiarkan aku pulang
pada sisa cahaya
yang belum sepenuhnya pagi
Purwokerto, 2026
SUMBU DAN BAYANG
aku mengirimmu surah al-Furqan
bersama kabut putih, tak kuberi nama
lentera di tanganku nyaris padam
menyisakan siluet tubuhmu
di antara sumbu dan bayang
sementara pahamu masih menahan jalan
nyala yang meliuk, angin yang berputar di antara kita
tangan yang kukenali, detak yang habis-habisan
napas kita berpindah, denyutnya merayap di antara lekukmu
betapa nuraniku telanjang
mengirim bacaan-bacaan
menjadi getar yang hanya kita pahami
Purwokerto, 2026
JELANG AZAN
kau menabuh badai di dadaku
seolah kamar ini ikut menahan waktu
ketegangan menyebar
seperti getar yang pecah di kota yang lengang
menyentuh dinding, membungkus ruang
bayang roda di lampu merah
sementara hujan masih menumpahkan selokan
jalan berlubang menahan kaki-kaki yang tak sabar
dan basah pipiku
menunggu azan memungut wajahmu
kau pergi mengambil wudu
meninggalkan gelisah yang menanjak-turun
di jantungku
seperti air yang tak pernah menemukan tepian
Purwokerto, 2026
Efen Nurfiana. Karyanya terdokumentasi dalam kumpulan sajak Dadamu Serumpun Pohon (Wadas Kelir Publisher, 2023), Gus Mus dan Simbolisme Feminin (Wadas Kelir Publisher, 2023).




