Puisi-Puisi Selendang Sulaiman,penunjuk masa depan,duduk di jendela kereta, ingatan tak sederhana, memasung diri, penyair nyaris.

PENUNJUK MASA DEPAN

kuakrabi engkau penuh daya cipta

lewat buku pamflet masa darurat

kutiru caramu menatap dan berucap

hingga orang-orang tak melihatku.

bila kubuka jendela pikiran

duniamu berbinar, tatapku tenggelam.

kupandangi wujudmu dengan mata sajak

meski aku merasa jadi orang lain.

bagaimana kamu bisa lenyap dari tatapan

jika lidah terlampau tajam oleh batu asahmu

dan pisau pikiran kusepuh dengan tabiatmu?

aku akan bangkit sebagai diriku

di sisi lentera yang kau nyalakan

penyingkap tabir hitam kalbuku sendiri.

DUDUK DI JENDELA KERETA

duduk di jendela biar bisa

rekreasi sepanjang jalan kereta

tidak beku sebab aku tak ada

di sisi buku teman bicara.

bagai burung dara periang

intim dekap cuaca ranum

matamu nampak tersenyum

di daun-daun menoleh tenang.

lihat, rumputan hijau mengintip

gunung dan bukit-bukit berkedip

barisan pohon berjalan ke belakang

jejak masa lalu lenyap

tenggelam ke dalam hijau

ke dalam dirimu yang pulau.

INGATAN TAK SEDERHANA

seringkali aku tertawa, merutuki gejolak di kepala,

pikiran yang rancu juga tiap kenangan yang kian buram.

lalu bayangmu mendadak hadir menyergap nadi—

menelan hari-hari yang terasa hambar dan percuma.

aku cemburu buta pada diammu yang paling kejam,

saat kau berjalan bersama orang lain di sampingku.

kalian berbagi kisah tentang masa kecil dan kasih ibu,

sedang aku dipaksa menelan ingatan yang menolak mati.

ingatan bangsat ini, yang hafal segala keluh kesahmu,

sempat meredam kacaunya jadwal dan kehidupanku,

padahal aku sudah bersusah payah memalsukan lupa.

subhanallah, kurapal pujian itu berkali-kali pada Tuhan

berharap takbir dan zikir lekas membasuh sisa wujudmu,

namun sial, melupakanmu ternyata tak pernah sederhana.

MEMASUNG DIRI

baiklah tuhan, kuterima perhitungan tanda silang ini,

sebab baik-buruknya tabiatku tetaplah milikmu jua.

kehendakmu absolut, melampaui kuasaku berkehendak,

namun selama belum mati, aku menolak keluar arena.

engkau yang merumuskan seluruh aturan main ini,

memastikan posisimu sebagai pemenang tanpa tanding.

dan aku memenangkan diriku lewat jalan mengalah,

memasung diri sepenuh tega di tiang kekuasaanmu.

aku mengambil satu dari sekian pilihan yang kaucipta,

tentu bukan tanpa kalkulasi saat aku harus memutuskan.

sebab di balik penyerahan ini, daya hidupku masih penuh.

maka dari jalan yang kutempuh, kuakui hadirmu:

bukan hanya sebagai energi abadi penawar lelah,

tapi juga saksi mutlak atas segala kefanaanku.

PENYAIR NYARIS

tiga penyair menyingkir dari etalase dan bising jakarta,

menolak tersesat dalam rimba pasar bebas teknologi.

mereka memungut bahasa dari mulut masyarakat yang lelah,

saat martabat manusia habis dilindas buldoser kekuasaan.

tiga pasang mata berpaling dari romansa layar digital,

mereka khusyuk awasi cuaca muram di wajah para pekerja.

badai nasib bisa saja menggilas esok hari tanpa ampun,

lekaslah mereka catat setiap gejala busuk menjadi siasat.

mereka terdiam kini—merangkai rumus-rumus ganjil,

berharap manuskrip sajaknya tak jadi proposal kemaslahatan,

yang kelak dibiarkan waktu membusuk sebagai arsip budaya.

biarlah mereka sekadar menjadi penyair yang nyaris,

yang tugasnya tak lebih dari mencatat kesia-siaan,

menelanjangi kehidupan: hitam yang menolak putih.

Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan “Peta Biru Dunia Ketiga” (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya, segera terbit di akhir tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top