Pustaka

Panduan Memahami Akidah Aswaja dan Tauhid Wahabi

Bagikan:

Judul : Antara Aqidah Sunni dan Tauhid Wahabi
Penulis : Abdul Lathif Dahlan
Penerbit : CV Pustaka Wacana
Terbit : Oktober 2019
Cetakan : Kedua
Tebal : 36 halaman
Peresensi : Syaiful Mustaqim, pegiat literasi

Setiap hari muslim dan muslimah Indonesia ada yang berangkat ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah umrah. Setiap tahun umat Islam Indonesia juga berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Dua momen penting tersebut ternyata dimanfaatkan oleh pemerintah Kerajaan Saudi untuk mengembangkan paham Wahabi. Caranya dengan membagikan buku-buku kecil secara gratis yang di antara isinya adalah trilogi tauhid yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa as sifat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Berangkat dari problem tersebut buku berjudul Antara Aqidah Sunni dan Tauhid Wahabi yang ditulis KH Abdul Lathif Dahlan sebagai buku panduan memahami aqidah ahlus sunnah wal jamaah dan konsep tauhid wahabi.

KH Muhib Aman Ali di dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa Kiai Abdul Latif adalah seorang alim dan juga sudah berpengalaman dalam membina umat di tengah-tengah berbagai macam paham yang menyesatkan.

Kedua, buku ini masih menurut Kiai Muhib merupakan kajian seputar perdebatan mengenai aqidah Islam khususnya seputar metodologi aqidah aswaja dan akidah wahabi. Dengan menggunakan referensi kitab turots yang agak sulit ditemukan namun penulis berhasil menyajikannya dengan gamblang, lugas, dan dengan bahasa yang mudah dicerna sehingga mudah dipahami pembaca.

Buku yang diterbitkan CV Pustaka Wacana ini memang terbilang tipis, hanya 36 halaman. Buku yang sudah dicetak dua kali ini terdiri dari 3 item. Yakni tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa as sifat.

Pada abad ke-7 H muncul konsep pembagian tauhid menjadi 3. Konsep ini dirumuskan oleh Ibnu Taimiyah (661 H – 724 H) lalu dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi (1115 H – 1206 H/ 1702 – 1787 M dan pengikutnya.

Pertama, tauhid rububiyah adalah percaya bahwa Allah SWT pencipta dan pengatur sesuatu, tak ada sekutu bagi-Nya. Menurut Wahabi tauhid rububiyah ini diyakini oleh seluruh umat manusia baik orang mukmin dan orang musyrik.

Menurut Wahabi juga hal itu sejalan dengan Q.S. Al-Mu’minun 86-87 yang mempunyai arti Katakanlah: siapa Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: kepunyaan Allah SAW. Katakanlah maka apakah kamu tidak bertakwa.
Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan : mereka kaum musyrikin bersaksi bahwa Allah adalah sang pencipta, maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Basyumail juga berkata dalam kitabnya. Abu jahl dan Abu Lahab serta orang-orang Musyrik yang seagama dengannya, mereka beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya dalam rububiyah sebagai sang pencipta, pemberi rizki, yang mematikan, yang menghidupkan, memberi bahaya, dan yang memberi manfaat, mereka tidak menyekutukanNya dengan apapun dalam hal tersebut.

Dari pendapat-pendapat tersebut menurut Wahabi seseorang yang tidak bisa disebut mukmin kalau hanya mengakui tauhid rububiyah saja. Sebab orang-orang musyrik juga bertauhid rububiyah.

Perlu kita ketahui bersama, orang-orang musyrik tidak pernah mengesakan Allah SWT sekalipun dalam rububiyah saja. Banyak ayat al-qur’an yang menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak mentauhidkan rububiyahnya Allah. Di dalam Q.S Asy-Syu’ara ayat 97 – 98 yang artinya Demi Allah SWT, sungguh kami dalam kesesatan yang nyata. Karena kami menyamakan kalian (berhala) dengan Rabb semesta alam.

Ayat itu menjelaskan penyelesaian orang-orang kafir di akhirat yang telah menyamakan berhala-berhala dengan Rabb semesta alam, maksudnya orang-orang musyrik tidak mengakui tauhid rububiyah. (hlm.4)

Kedua, tauhid uluhiyyah. Tauhid uluhiyyah adalah percaya bahwa Allah SWT merupakan Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah makna yang berarti tiada Tuhan yang haq disembah selain Allah. Oleh karena itu, seluruh bentuk ibadah seperti shalat, puasa, dan selainnya wajib diikhlaskan hanya untuk Allah SWT saja, dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya.

Sepintas definisi tauhid uluhiyyah tersebut mantap dan benar. Tetapi maksud dan tujuan sebenarnya dari doktrin tersebut adalah sebagai landasan teologis untuk memusyrikkan orang-orang yang bertawasul dengan menganggap mereka menyembah (ibadah) kepada benda yang ditawasuli. (hlm. 7).

Adapun yang ketiga, tauhid asma’ wa as-sifat. Pengertiannya adalah percaya seluruh nama-nama Allah dan siifatnya yang terbatas di dalam al-qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Lalu menetapkan nama-nama sifat itu hanya untuk Allah saja, dalam bentuk yang sesuai dan layak bagi Allah SWT tanpa tahrif (perubahan), tanpa ta’thil (peniadaan), tanpa takyif (pertanyaan bagaimana?), dan tanpa tamsil (penyerupaan).

Kata tanpa tahrif maksudnya penjelasan nama-nama Allah dan sifatnya yang ada di dalam al-qur’an dan hadits-hadits tidak boleh dita’wil dan harus diartikan sesuai dhahirnya yang dikenal di kalangan manusia. Contoh yadullah (tangan Allah) tidak boleh diartikan dengan kekuasaan Allah.

Kata tanpa ta’thil maksudnya apa yang disebut dalam alqur’an dan hadits-hadits tentang nama-nama Allah dan sifatnya itulah yang harus diimani. Contoh yadullah (tangan Allah) tidak boleh meniadakan tangan bagi Allah.

Kata tanpa takyif maksudnya tidak boleh menanyakan bagaimana cara istiwa’nya Allah di arsy. Bagaimana model tangan, kaki, dan wajah Allah SWT. Kata tanpa tamsil maksudnya tidak boleh menyerupakan/ menyamakan Allah dengan makhluk walaupun ada keserupaan tetapi tidak sama.

Dengan konsep tauhid asma’ wa as-sifat ini Wahabi mengikuti paham mujassimah yang menetapkan Allah SWT mempunyai jisim dan anggota tubuh.

Buku yang terbilang mungil ini penting untuk dibaca, setidaknya untuk membentengi akidah kita dari pengaruh berbagai macam akidah sesat yang menyebar di tengah-tengah masyarakat. Setelah mendaras buku kecil ini alangkah lebih baiknya jika ditular-tularkan kepada anak, cucu, keluarga, atau sahabat sehingga secara tidak langsung kita turut menyebarkan aqidah aswaja dan dan berharap anak cucu kelak menjadi orang yang lurus aqidahnya jauh dari pengaruh penyimpangan aqidah. Selamat membaca!

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan