Cerpen

Dua Santri

Bagikan:

Cerpen Ahmad Hamid

Ketika di pondok, Harun sering mendapat kiriman dari orang tuanya di kampung. Ia selalu membagi-bagikan kiriman itu kepada teman-temannya—tidak hanya teman kamar, tetangga kamar juga mendapat jatah. Harun tidak pernah menyimpan makanan, tidak seperti teman-teman lain yang selalu menyimpan makanan untuk hari esoknya. Harun selalu menghabiskan makanan pada hari itu juga. Besok dipikir besok. Intinya sekarang kita bisa makan bersama.

Beda lagi dengan Sulaiman temannya. Ketika mendapat kiriman dari orang tuanya, selalu menyimpannya. Tidak hanya seminggu bahkan sampai berbulan-bulan. Kalau ada teman yang mau meminta makanan, Sulaiman tidak pernah membaginya, alasannya makananya sudah habis. Padahal banyak yang tahu makananya masih utuh di lemarinya.

Dari kejadian Harun dan Sulaiman, banyak yang bersimpati dengan Harun. Tanpa sepengetahuan Harun, kadang di lemari miliknya sudah terhidang aneka makanan yang tertulis “halal”. Harun tidak pernah tahu dari mana datangnya makanan itu, dan setiap bertanya ke teman-temannya tidak ada yang mengakuinya.

Kalau Sulaiman kebalikannya. Dia selalu kehilangan makanan yang disimpan di lemarinya. Bahkan kalau tidak hilang, pasti makanannya berubah menjadi tidak enak. Ternyata karena sikap pelit dari Sulaiman yang mengakibatkan kejailan-kejailan dari teman kamar untuk menaburi garam pada makanan punya Sulaiman. Tidak ada maksud lain, dengan menaburi garam makanan milik Sulaiman, agar ia menjadi santri normal seperti yang lainnya.

Setelah beberapa tahun menimba ilmu di pesantren, ilmu yang diperoleh Harun dan Sulaiman dirasa sudah mencukupi. Akhirnya mereka diperkenankan pulang oleh Abah ke kampung halaman mereka. Sebelum mereka pulang Abah hanya berpesan dua hal, yang pertama ilmu yang sudah didapat harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dan yang kedua jangan lupakan pondok, sering-seringlah kalian sekadar mampir atau silaturahim ke ndalem.

Harun dan Sulaiman pulang ke kampung masing-masing. Selain membawa ilmu juga membawa istri. Harun istrinya Istiqomah. Istiqomah merupakan pilihan dari pegasuh pondok. Sedangkan Sulaiman menikah dengan pilihannya sendiri, Zubaidah namanya.

Berjalan beberapa tahun di kampung, Harun kini menjadi imam masjid dan punya pekerjaan petani salak. Sedangkan Sulaiman hanya menjadi imam mushola dan punya pekerjaan peternak kambing.

Harun mempunyai prinsip bahwa hidup hanya untuk beribadah, bekerja hanya di sela-sela ibadah. Bisa dikatakan bekerja hanya sampingan di sela-sela sholat. Hidup Harun hanya menunggu sholat dan disholati. Harun termasuk orang yang apa adanya, tidak pernah “ngoyo” dalam urusan dunia. Karena dia yakin rezeki sudah ditentukan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar. Manusia hanya bisa berihktiar.
Prinsip inilah yang selalu ditanamkan Harun kepada anak dan istrinya. Dan seisi keluarga semua sudah bisa berjalan seperti skenario dari Harun.

Melihat tetangga bisa membeli mobil, keluarga Harun ikut bersyukur.

“Alhamdulilah Pak Tono membeli mobil. Kalau kita butuh sewaktu-waktu, kita bisa menyewa tanpa harus jauh-jauh mencari. Minimal kalau saya jalan dari pasar, ada pak Tono saya bisa ikut,” gumamnya. Dan Harun juga sangat semangat sekali apabila ada tetangga yang mengundang untuk syukuran karena membeli sesuatu yang baru. Ia benar-benar terkenal ringan kalau ada undangan.

Datang duluan, Harun selalu yang didaulat untuk membaca doa-doa sepaket dan pulangnya juga terakhir. Harun benar-benar bahagia kalau melihat tetangga bisa bahagia.

Beda lagi dengan Sulaiman. Ia sudah di pasrahi imam mushola, namun selalu terlambat datang karena kesibukannya menjadi peternak kambing. Awalnya kambingnya hanya beberapa namun berkat keuletan dan kerja kerasnya, kambingnya sekarang bertambah banyak. Bahkan tenaga Sulaiman kurang untuk merawatnya. Ia sampai mencari karyawan untuk membantunya.

Meskipun hidup hanya pas-pasan Harun sangat dermawan. Misal dia hanya punya satu piring makanan dan tetangga membutuhkan dia rela memberikan satu piring makanan tersebut. Karena dia yakin Allah pasti akan membalasnya.
Anak dan istri Harun juga tidak pernah protes dengan keputusan nyeleneh dari Harun.

Suatu hari, ketika ada pak RT menarik becer atau iuran untuk acara pengajian maulid Nabi di kampung. Ketika itu Harun hanya punya tiga karung salak dari kebunnya. Ketiganya diberikan semua kepada pak RT. Harun berpesan, “Silakan ini dibawa pak RT. Ini satu-satunya yang saya punya. Mau dijual boleh. Atau buat jamuan tamu-tamu juga boleh.” Lagi-lagi Harun yakin, bahwa siapa yang beramal satu bulir maka Allah akan melipatgandakan menjadi tujuh ratus bulir. Itu yang dipegang oleh keluarga Harun.

Kala itu istrinya pulang dari pasar, “Mas, katanya dari kebun, mana panenan salaknya?”

Sulaiman menjawab ringan, “Tadi sudah dibawa pak RT.”

“Lho kok dibawa pak RT, apa sekarang pak RT jadi pedagang salak?”

“Tidak, Dik. Tadi pak RT mau menarik becer buat acara maulid, jadi aku kasih saja apa yang kita punya.”

“Oh gitu, Mas….”

“Apa ada yang salah, Dik?”

“Tidak, Mas. Insyaalah, apa yang selalu sampeyan lakukan selalu benar.”

Dalam hati Harun hanya bisa berdoa mudah-mudahan panen yang akan datang bisa lebih melimpah. Sehingga bisa untuk beramal lebih banyak.
Benar-benar luar biasa istri pilihan Abah, selain cantik, salihah juga. Aaahhh… sulit digambarkan intinya. Tidak salah manut dawuhe Abah.

Lain lubuk lain air, lain pula ikannya. Lain orang lain pula isi pikirannya. Harun dan Sulaiman meskipun sama-sama mendapat asupan dari pondok pesantren yang sama, namun hasilya tetap berbeda. Sulaiman hanya sibuk menghitung jumlah dari ternak kambingnya. Hanya untung, untung dan untung yang dipikirkan. Karena sibuknya dengan perkambingan, sholat saja jarang-jarang di mushola. Bahkan semua sholatnya selalu di undur-undur.
Subuh kesiangan, Dhuhur di perjalanan, Ashar masih di kandang, Magrib kelelahan dan Isya ketiduran. Selalu itu-itu saja yang terus berulang-ulang. Bahkan jamaah mushola banyak yang menggunjing tentang sifat Sulaiman yang semakin hari semakin jauh dengan mushola. Karena itulah, para tetangga memanggil Sulaiman dengan nama baru yaitu Tsalabah. Orang yang banyak harta semakin jauh dengan Sang Pencipta.

Pernah ada kegiatan di kampungnya, Sulaiman mendapatkan jatah untuk ikut andil iuran seikhlasnya. Boro-boro memberi, dia hanya menceramahi, “Amal itu tidak harus dipaksa-paksa, apalagi sampai ngetuk-ngetuk pintu itu tidak sopan. Saya lebih paham dari kalian. Masalah amal-amal, nanti kalau sudah ada, saya akan bawa sendiri tanpa harus meminta saya.”

Menurutnya kalau amal sampai ditarik menjadikan amal tersebut jadi tidak ikhlas, amal itu harus dengan kemauan sendiri.

Dalam hati, panitia desa menggerutu, “Bagaimana mau amal? Wong ditarik saja tidak keluar, apalagi tidak ditarik.”

Akhirnya penarik becer tadi pulang dan tidak akan pernah kembali lagi.

Keesokan harinya, Sulaiman memasang stiker di depan rumahnya yang bertuliskan, “Tidak melayani sumbangan dalam bentuk apapun.”

Sulaiman bisa berubah seperti ini, juga karena andil dari istrinya, keluarga istrinya, keluarga Zubaidah memang terkenal “seret” kalau dengan masalah amal. Padahal kalau diukur, harta kekayaannya, luar biasa banyaknya. Pernah ada yang mencoba menghitung kambing dan sapi milik keluarga Zubaidah. Tapi, belum selesai, sudah nyerah saking banyaknya.

Kaji Muhidin, masyarakat memanggil namanya, ia merupakan mertua dari Sulaiman. Jadi Sulaiman punya peternakan kambing, juga karena dorongan dari mertuanya. Kaji Muhidin sudah berangkat haji sebanyak lima kali dan umrah sudah tidak terhitung lagi. Namun, kalau amal di kampung, sampai detik ini belum pernah ada yang cair. Bahkan karyawannya juga tidak banyak yang betah, karena perhitungannya tadi. Pernah karyawannya yang bernama Karno, sarapan lauknya melebihi yang sudah ditentukan oleh istri dari Kaji Muhidin. Kemudian makan siangnya hanya dengan nasi saja.

“Pangapunten, Bu Kaji… Ini lauknya mana, kok hanya nasi?”

Yang jawab Kaji Muhidin, “Lauknya sudah kamu makan tadi pagi. Jadi sekarang haya nasi.”

Dari kejadian itu Karno sangat hati-hati dalam urusan makan. Dia tidak pernah berani makan lauk melebihi jatah dari Nyai Kaji Muhidin.

Sebenarnya, Karno juga tidak betah kerja menjadi tukang ‘ngarit’ di keluarga Kaji Muhidin. Namun Karno juga punya tanggung jawab untuk istri dan biaya pendidikan anak-anaknya. Jadi, apa pun yang terjadi dia mencoba untuk menikmati.

Pernah suatu malam, Karno sedang tidur nyenyak, setelah seharian bekerja sambil makan hati. Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu.

“Karno! Karno bangun!”

Karno langsung bergegas. Karena dia tahu, suara yang memanggil tidak asing lagi. Dia adalah Kaji Muhidin, majikannya.

“Karno, buruan ke kandang.”

“Njih, Pak Kaji. Memangnya ada apa?”

“Iki weduse sing tuku pas Kliwon winggi kok ura sehat, dipakani opo?”

“Biasa, Pak Kaji. Daun-daunan.”

“Yo wis, cepet. Ayo tiliki.”

Sampai di kandang, Karno cepat bertindak dengan membawa air hangat dan garam kemudian diminumkan ke kambing. Setelah beberapa menit, telinga kambing dipegang oleh Kaji Muhidin, “Lumayan iki wis anget kupinge, kowe saiki turu nang kandang yo, No… Wedus iki wedus Majapahit. Ojo nganti mati. Nak nganti mati, hancur karierku.”

Karno hanya mengangguk saja. Sampai pagi Karno tidak tidur hanya sibuk mengurut-urut perut kambing kesayangan Pak Kaji.
Dalam hati Karno, “Wedus ewon kaya iki, yo mbok ndang ikhlas. Paling mati siji. Hemmm jan kebangeten.”

“Karno… No!” Suara Kaji Muhidin memanggil.

“Njih, Pak Kaji. Dos pundi?”

“Kowe saiki lungo nang Pak Wandi. Ngomong, weduse Pak Kaji loro (sakit) sing siji. Kon cepet nyuntik yo, ojo nganti telat.”

Karno langsung ke rumah pak Wandi. Pak Wandi merupakan mantri hewan yang rumahnya tidak jauh dari kandang pak Kaji. Dan semua sudah beres, Karno juga lega. Seandainya terjadi apa-apa dengan kambing yang satu ini, nyawa taruhannya.
Kalau masalah kesehatan kambing, memang dinomorsatukan, namun kalau kesehatan dirinya dan keluarganya tidak pernah di perhatikan.

Pernah Kaji Muhidin sakit tidak bisa berjalan selama seminggu. Karena capek, Karno disuruh-suruh terus, akhirnya Karno memberanikann diri untuk berucap,
“Pak Kaji, mbok dibawa ke rumah sakit, takutnya sakitnya parah.”

“Wah emoh. Lagi ora duwe duit.”

Dalam hati Karno, iya tidak punya uang di tangan, tapi di bawah kasur uang sampai ‘menjamur’.

“Kowe ke ora usah nasihat-nasihati aku. Aku wis ngerti apa sing kudu tak lakoni. Kowe manut wae, iki penyakit biasa, dela maning yo mari. Eman-eman duit seketewu tekan satusewu diweh-wehno dokter. Paling dimek-mek tok.”

Karno hanya geleng-geleng kepala. Karno binggung, ini Pak Kaji menumpuk harta sebenarnya buat apa ya. Anak sudah berkeluarga semua. Namun menu makan ya gitu-gitu saja—ikan asin, tempe, sambel. Jalan-jalan pun tidak pernah. Pakaian itu-itu saja. Bahkan sarung sampai ngelinting. Amal juga itung-itungan. Padahal kalau mati tidak dibawa. Paling buat rebutan anak dan menantu-menantunya.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, nah begitulah si Zubaidah istri Sulaiman. Punya kelakukan sebelas dua belas dengan bapaknya Kaji Muhidin.

Di mana-mana kalau kebaikan sulit untuk menular, tetapi kalau keburukan gampang sekali untuk ditularkan. Ditambah dengan Sulaiman yang Susis (Suami takut istri) menambah daftar panjang catatan perpelitan pada dinasti keluaraga Kaji Muhidin.
Bisa yang dikeluarkan Zubaidah benar-benar sudah meracuni urat nadi Sulaiman, menjadikan hatinya beku, mengeras dan isinya hanya dunia, dunia dan dunia.

Pesan-pesan dari Abah dulu, pesan yang sangat singkat dan padat, hanya dua perkara, itu tidak satu pun yang ia tunaikan. Meskipun punya ilmu dia tidak bisa mengamalkan. Boro-boro untuk masyarakat sekitar, untuk keluarganya saja ia tidak mampu. Silaturahim, selama pulang dari pondok belum pernah sama sekali. Ia pernah dapat undangan temu alumni. Undagan dipegang sang istri dan tidak diberikan ke Sulaiman. Zubaidah sudah tahu, kalau berangkat ke pondok nanti ujung-ujungnya amal dan amal. Bisa rugi kalau seperti ini.

Tidak dengan Harun, selagi sempat dan ada sedikit rezeki selalu sempatkan silaturahim ke Abahnya. Menurut Harun, dengan silaturahim terutama ke guru akan menambah berkahnya keluarga. Mungkin kalau diukur secara nominal tidak seberapa, namun berkah dan matematikanya Allah akan mencukupi semua kebutuhannya.

Ketika Harun pamitan dengan Abah, Abah bertanya tentang keadaan Sulaiman, bagaimana dengan murid yang satu itu, hanya dia setelah selesai ngaji belum pernah kelihatan batang hidungnya. Abah bertanya-tanya apakah sehat dia? apakah ilmunya bermanfaat? Sebagai seorang guru, beliau sangat paham tentang ilmu agama, jadi Abah tidak mungkin tamak atau mengharap apa-apa atas kedatangan muridnya. Harun dan Sulaiman termasuk murid yang dekat dengan Abah, jadi kalau salah satu tidak kelihatan mesti selalu ditanyakan.

Setelah pulang, Harun bergegas menemui Sulaiman. Harun bercerita bahwa dia baru saja sowan ke rumah Abah. “Dan Abah menayakan kabar panjenengan, Kang Sulaiman.”

“Opo yo tenan, Abah takon kabarku?”

“Njih, Kang. Tenan.”

“Abah sehat?”

“Alhamdulilah.”

Kemudian datanglah istri dari Sulaiman. Zubaidah terlihat raut wajahnya yang tidak suka dengan kedatangan Harun. Boro-boro penghormatan terhadap tamu, Zubaidah bahkan pura-pura tidak tahu kalau ada Harun di situ. Harun tidak ambil pusing atas sikap dari istri sahabanya itu. Sulaiman justru minta maaf, atas perlakuan istrinya yang tidak menegur Harun.

“Maafkan istriku, Run….”

“Maaf untuk apa, Kang?”

“Harusnya istriku menegurmu. Dan paling tidak mengambilkan air putih sebagai penghormatan.”

“Tidak apa-apa, Kang. Saya juga baru saja minum tadi di rumah.”

Harun berbohong. Padahal tengorokannya begitu kering dan perut juga keroncongan karena tadi belum sempat makan. Tapi bohong demi kebaikan tidak apa-apalah. Bagi Harun perut kosong sudah hal yang biasa.

Akhirnya Sulaiman masuk ke dapur, dan mengambil air putih serta sepiring roti untuk dihidangkan ke meja dekat kursi Harun.
Harun membuka pembicaraan lagi, “Kang kalau sempat sekali-kali silaturahim ke rumah Abah. Biar bagaimanapun Beliau adalah guru kita, selamanya Beliau adalah guru. Kalau mantan yang lain bayak, tapi sampai kapan pun tidak ada yang namanya mantan guru. Sempatkanlah, Kang.” Terlihat kerutan di kening Sulaiman yang menandakan semacam perasaan menyesal. Kemudian dia keluar tengak-tengok apakah ada istrinya atau tidak. Setelah dirasa aman, dia lanjut bercerita.

“Sebenarnya aku ingin sekali silaturahim dengan istri dan anak-anak ke pondok Run. Tetapi kamu lihat sendiri istri saya tidak pernah mengizinkanku. Saya disuruh menuruti semua kemauanya.”

Harun kemudian memberikan opsi, “Ya kamu bisa ke sana sendiri tanpa istri.”

“Tidak bisa, Run. Gerak-gerik saya selalu diawasi.”

“Sebegitunya?”

“Iya, Run. Kalau saya ke rumah Abah, saya juga perlu ongkos, dan semua yang pegang istri.”

“Kalau ada niat, pasti ada jalan, tergantung niat, Kang.”

“Ya, insyaallah saya usahakan, Run.”

Setelah itu Harun pamit, dia juga tidak enak terlalu lama. Nanti keburu istrinya pulang, bisa-bisa Sulaiman kena marah.

Silaturahim berikutnya, Abah masih juga menayakan tentang Sulaiman yang belum juga kelihatan. Dalam hati Harun nampaknya Sulaiman belum bisa, ‘nyimpe’ istrinya untuk silaturahim ke rumah Abah.

Hari-hari berganti, kehiduapan Sulaiman semakin menjadi, namun kebahagian tidak ada di dalam keluarga tersebut. Karena amanah dari Abahnya, Harun memberanikan diri untuk mampir ke rumah Sulaiman, sebelum silaturahim ke pondoknya Abah.

Kala itu Harun sedang panen salak, alhamdulilah panen kali ini agak melimpah.
Harun tidak lupa membawa cangkingan berupa salak terbaik, salak pilihan, khusus untuk Abah. Kebetulan Abah sangat suka dengan buah salak. Harun mengajak Sulaiman untuk berangkat bersama. Namun Sulaiman menolaknya dengan alasan sibuk. Namun Harun paham di situ ada istrinya. Sulaiman pasti takut. Akhirnya Harun berangkat sendiri dengan cangkingan buah salak sebagai buah tangan untuk Abahnya.

Setelah sampai di sana, betul Abahnya sukanya bukan main. Sebenarnya salak yang Harun bawa harganya tidak seberapa, namun karena keikhlasan dari Harun menjadikan rasa salak tersebut istimewa.
Setelah dirasa cukup, Harun kemudian pamitan. Ketika Harun pamit, Abah juga memberikan buah tangan atau oleh-oleh. Kebetulan Abahnya juga berternak kambing, bisa dikatakan ternak Abah tidak kalah dengan kambingnya punya Sulaiman.

“Harun, ini saya punya kambing, tolong dirawat. Silakan kamu mau pilih yang mana, pilih yang menurutmu paling baik, ambil dua, yang jantan dan betina agar bisa berkembang biak.”

Mendengar perkataan Abah, Harun masih sungkan, merasa tidak enak. Dia ke sini cuma bawa sedikit salak tetapi pulang membawa dua ekor kambing.

Abah menyakinkan, “Ambillah Harun, ini rezekimu, tidak baik jika ditolak.”

Akhirnya Harun pulang membawa dua ekor kambing pilihan.

Kemudian pas pulang dia juga lewat depan rumah Sulaiman, memang rumah Sulaiman berada di pinggir jalan. Kemudian kagetlah Sulaiman dan Istrinya, Zubaidah. “Waduh hebat benar kamu, Run. Berangkat membawa salak pulangnya membawa kambing pilihan, bagaimana ceritanya?”

Kemudian Harun menceritakan detail tentang asal-muasal kambing tersebut—yang intinya kambing tersebut diberi oleh Abahnya. Zubaidah juga sangat antusias mendengar cerita dari Harun. Akhirnya, Zubaidah menyuruh suaminya, Sulaiman, untuk silaturahim ke Abah, dengan membawa dua kambing pilihan. Yang harga kambing tersebut lebih mahal dari punya Harun yang tadi dibawa.

Dalam hati Sulaiman, ada angin apa, Zubaidah tiba-tiba menyuruh saya untuk silaturhaim ke Abah. Biasanya dia selalu melarangnya apalagi ini membawa oleh-oleh kambing pilihan. Tanpa berfikir lagi, Sulaiman langsung menuju ke rumah Abah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

“Sulaiman, Alhamdulilah… akhirnya kelihatan batang hidungnya.”

Setelah cerita panjang lebar, kemudian Sulaiman mengutarakan niat kedatangannya: pertama silaturahim, yang kedua ini saya membawa oleh-oleh berupa dua kambing jantan dan betina pilihan dari ternak saya sendiri, silakan diterima Abah.

Dengan suka cita, Abah menerima kambing pemberian dari Sulaiman, “Alhamdulilah, janji Allah tidak pernah salah. Saya memberi dua kambing biasa kepada Harun, kemudian Allah mengganti dengan dua kambing yang jauh lebih besar. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan…,” gumam dalam hati Abah.

Sebelum pamitan, Abah juga memberikan oleh-oleh kepada Sulaiman berupa salak yang tadi diberi oleh Harun.

“Ini tolong diterima, Sulaiman. Tadi ada santri ke sini membawa salak dan pulangnya saya kasih dua kambing. Dan sekarang kamu kebalikannya, ke sini bawa kambing sekarang kamu pulang saya kasih salak.”

“Njih, terima kasih, Abah.”

Sampai rumah, Sulaiman ditanya oleh Zubaidah, “Mas, mana sapinya?”

“Sapi… sapi apa?”

“Ya, saya menyuruh kamu ke Abah membawa dua ekor kambing pilihan, berharap kamu pulang membawa sapi. Karena tadi Harun ke sana membawa salak saja dikasih Abah kambing, apalagi kita membawa kambing pasti mendapat yang lebih besar harusnya.”

“Abah tidak memberi oleh-oleh sapi, Dik.”

“Lalu, Abah kasih kamu oleh-oleh apa?”

“Salak.”

Langsung Zubaidah marah-marah dan menyalahkan Sulaiman. Seakan-akan dia menyuruh suaminya untuk mengambil lagi dua kambing yang tadi sudah diberikan ke Abah. Dia sumpah serapah dan menganggap bahwa Sulaiman adalah suami yang bodoh.

Na’udzubillah… ternyata istri Sulaiman menyuruh suaminya ke Abah membawa oleh-oleh kambing, hanya menginginkan balasan sapi dan ternyata yang didapat hanya salak.

Begitulah nasib dua santri, Harun ikhlas memberi salak pada Abah dan Allah menggantinya dengan dua ekor Kambing. Abah juga ikhlas memberi dua ekor kambing kepada Harun dan Allah menggantinya dengan dua ekor kambing yang jauh lebih baik. Dan terakhir Zubaidah melalui suaminya, bersedekah dua ekor kambing pilihan namun diniati dengan tidak ikhlas lalu Allah membalas dengan buah salak. (*)

Sapuran, Wonosobo 18 Maret 2020


*Ahmad Hamid, Guru Yayasan Al Madina Unsiq Wonosobo, Relawan Literasi Ma’arif.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan