Puisi

Puisi-Puisi Risen Dhawuh Abdullah

Bagikan:

Tengah Malam

kebiasaan telah membuat malam
mengambil kuasaku
sehingga ia sebisa mungkin tidak membuat
Tuhan kecewa karena aku terlalu manja
pada bunga tidur—surga bagi orang-orang
yang lupa akan keberadaan-Mu

LR, 2020


Wudhu

aku lebih dulu
membersihkan diri
sebelum memohon
kepada-Mu
untuk membersihkanku
dari noda-noda
yang telah kuciptakan

LR, 2020


Di Atas Sajadah

di atas sajadah terbentang
menangis aku
seperti berjalan di padang pasir
seorang diri dalam keadaan kehausan
tak kutemukan air
aku berdoa
mata air tidak kunjung di depan mata
aku mencari Tuhan
dengan keadaanku yang tak berdaya

LR, 2020


Penyesalan

Kusajikan diri di hadap-Mu di subuh ini
Pada alas sajadah yang lengang
Menyimpan bulan-bulan debu
Di almari sesak dengan lipatan-lipatan
Membuat kadang lupa kesederhanaan
Tak terjamah tangan yang terus berjibaku
dengan larang-Mu

Kuharap setelah subuh ini
Aku selalu dihadapkan pada penyesalan
Agar tidak melalaikan-Mu

Bantul, 2020


Sajadah

akulah sajadah
alas memohon ampun pada-Mu
pada setiap waktu-Mu
juga pada waktu lain pemilikku
apalagi ketika rasa berdosa telah hadir di dada
dan mata melihat gambaran neraka

LR, 2020


*Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan