ArtikelEsai

Penulis Primitif Vs Pembaca Gratisan

Oleh Hamidulloh Ibda

Menjadi penulis buku tak semanis yang dibayangkan. Boro-boro dapat keuntungan materiil melimpah dan dapat membeli rumah dan mobil, balik modal dari ongkos menerbitkan saja sudah lumayan. Sekali lagi, lumayan!

Saya teringat ungkapan Pak Susilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer tahun 2016 silam saat saya bertandang di PATABA. “Menulis sekarang memang berbeda. Dulu, Pram itu ditawari banyak penerbit meski akhirnya bukunya dicekal. Saya sendiri juga begitu. Saya harus menerbitkan, mencetak, dan menjual sendiri lewat PATABA Press yang dikelola anak saya,” curhat Pak Soes saat saya membeli buku ‘Pram dalam Kelambu’ terbitan PATABA Press tahun 2015.

Batinku, itu sekelas Pak Sus. Apalagi saya yang masih penulis abal-abal nan “mbladus” tulisannya. Ah, tapi bagi saya, mau laku atau tidak, Sing Penting NUlis Terus dan akhirnya saya jadikan judul buku yang terbit 2017.

Profesi penulis memang tak menjadi jaminan. Hanya orang-orang tertentu yang punya nama. Tapi, di era kini, hal itu tampaknya mudah. Saya ingat penulis buku “HTI Gagal Paham Khilafah”, Kang Makmun Rasyid yang viral dan bukunya laku di mana-mana, dan ia juga diundang bedah buku di mana-mana. Berkah bagi dia lah.

Nasib sama pun kini dialami Virdika Rizky Utama. Berkat buku “Menjerat Gus Dur”, ia viral. Ya bukunya, ya namanya, dan akhirnya ribuan ekslempar terjual laris manis, ia pun mengisi bedah buku di mana-mana.

Mereka berdua adalah potret, hanya gara-gara satu buku, dapat terkenal dan mendapatkan keuntungan yang lumayan, kalau sekelas saya, lumayan untuk nyicil angsuran utang.

Kecuali sekaliber Raditya Dika yang menjadi kiblat penulis kaya beberapa tahun lalu bahkan hingga kini. Kita contohkan, tahun 2015, bukunya “Koala Kumal” terjual ludes sekitar 2100 ekslempar hanya dalam 1,5 jam. Gilak!

Buku saya dalam seminggu lewat lapak online saja belum tentu laku. Nasib-nasib.

Kita bisa berkaca pada Radit. Situs Mojok.co pada 9 Mei 2018, mencatat Raditya Dika sudah mencetak banyak buku, mulai Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot, Ubur-Ubur Lembur, dan lainnya.

Buku-buku Raditya Dika hampir semuanya cetak ulang berkali-kali, padahal awalnya juga tulisan di blog. Info dari penerbit Bukune, satu kali cetak, buku Raditya Dika diproduksi sebanyak 10 ribu eksemplar dengan rata-rata cetak ulang per tahun mencapai 5 kali.

Raditya Dika mendapatkan royalti buku sebesar 10% dari harga buku. Jika harga buku rata-rata adalah Rp50 ribu, itu artinya, untuk setiap buku yang terjual, radit mendapatkan Rp5 ribu. Jika dalam setahun kita anggap ada 2 buku yang dicetak ulang. Maka, perkiraan penghasilan Raditya Dika dari royalti buku dalam satu tahun adalah Rp5.000 x 5 (kali cetak) x 10.000 eksemplar x 2 buku = Rp500 juta/tahun.

Itukan Radit. Kita kan bukan Radit, Bro. Lalu, bagaimana nasib kita? Ya, kita bisa berkaca juga pada penulis-penulis ternama seperti Emha Ainun Nadjib, Yudi Latif, Goenawan Mohamad, Aguk Irawan, Tere Liye, Ulil Abshar Abdalla, Zainul Milal Bizawie, dan penulis lain lintas genre. Mereka tampaknya “kaya”, tapi sebenarnya nasibnya sama. Apalagi kalau buku yang sudah terkenal terkena pembajakan. Yawes, alamat bangkrut tuh penerbitnya.

Ganti Ongkos Cetak

Iklim perbukuan saat ini memang sepi. Sejak 2013 ketika saya pertama kali menerbitkan buku “Demokrasi Setengah Hati” juga sudah sepi. Artinya, selain semua sudah bergeser ke e-book, internet, ternyata “minat baca rendah, namun minat mendapat buku gratis tinggi”.

Ini paradoks tingkat dewa namanya. Orang tak lagi menghargai dan berkiblat pada ilmu pengetahuan, memuliakan penulis, ilmu, buku, namun bermental “gratisan”. Saya teringat ungkapan sahabat saya, Niam At-Majha “untuk menghargai penulis, belilah bukunya”.

Ungkapan pendek ini bermakna luas dan dalam. Kita bisa kalkulasi, sebulan sebut saja kita merogoh kocek Rp 100.000 untuk beli kuota. Namun ketika mau beli buku, perhitungannya minta ampun. Sekali lagi, minta ampun.

Tak hanya itu, kadang banyak pula orang beli buku menunggu momen pameran buku karena menunggu harga murah dan diskon. Yawes nggak masalah. Karena bagi saya, untuk menentukan sebuah kota itu berkiblat pada ilmu atau tidak itu gampang.

Semakin banyak toko buku, pameran buku, penerbit buku, perpustakaan, taman baca, maka masyarakat setempat masih berkiblat pada nalar. Jika suatu kota atau kabupaten tidak ada hal-hal di atas, anggap saja kota tersebut berkiblat pada mitos.

Kembali pada pokok tema tulisan ini. Dunia literasi memang sepi materi. Selain itu, kiblat pelajar, mahasiswa sak dosen-dosene, juga bergeser ke sana. Tiap membuat makalah, artikel, saya dapat memastikan mereka pasti plagiat, salin tempel dari internet. Ditanya bukunya mana, covernya warna apa, mereka “plonga-plongo”.

Memang, mahasiswa sekarang menjadi korban teknologi. Kelihatannya hidupnya modern, tapi aslinya, hakikatnya primitif. Karena enggan beli buku, malas membaca, ketika menulis, plagiat. Duh!

Begitu realitas yang realistis. Akibatnya, penulis baik dari kalangan akademisi, sastrawan, penulis lepas yang menerbitkan buku, pertimbangannya masak ketika mau mencetak buku dalam jumlah ekslempar banyak.

Ketika promosi, mereka pun berdalih “ganti ongkos cetak”. Sebenarnya, saya tidak sepakat dengan pendekatan ini karena justru melukai bahkan menghina ribuan ilmu pengetahuan di dalam buku tersebut.

Para pembeli, atau calon pembeli harusnya juga sadar, menulis itu susah. Mikirnya lama, butuh riset, data, referensi, diskusi, kopi, rokok, namun begitu diterbitkan, dicetak, tidak mau menghargai, justru minta gratis. Aduh nasib! Ketika saya mendengar “minta satu, Mas”, hatiku rasanya “maktratap”. Yakin!

Bekerja untuk Keabadian?

Perlu dijawab, menulis itu bekerja untuk uang, apa bekerja untuk keabadian? Atau keduanya? Lah, serakah kalau keduanya deh!

Saya tidak memberi solusi atas problem ini. Karena praksis, hari ini buku hanya untuk kalangan tertentu. Warga sekolah dan kampus lah gampangannya.

Sehingga, ketika menerbitkan buku, hanya sekira 10-20, bahkan ada yang nyetak 5 bahkan 1 ekslempar. Tidak jelas alasannya. Apa takut tidak laku, atau hanya untuk LPJ, PAK, atau untuk apa?

Yang jelas, selama masih ada buku cetak, masyarakat akan cerah karena ada bahan bacaan ketika memang benar-benar dibaca. Banyak motif orang menulis buku. Untuk ilmu, PAK, bahan ajar, tugas kuliah, nama, mendapat untung materiil, bahkan wahana kampanye.

Meski beda-beda, kita harus mendukung prinsip tiga pilar literasi “baca-tulis-arsip”. Mau dibaca, dibeli, bahkan dicaci, itu urusan nanti. Sing Penting NUlis Terus prinsip saya begitu.

Sebab, menulis menurut Pram memang bekerja untuk keabadian. Pertanyannya, bagaimana mau abadi, la wong yang beli saja tidak ada. Bagaimana penulis dapat hidup laik, jika minat baca rendah, tapi minat buku gratis tinggi. Ini menurut saya tanda-tanda kiamat semakin nyata.

Dus, bagaimana mencari titik temu antara penulis, pembaca, tanpa ada ruang kapitalisme untuk mencetak buku? Beri solusi dong!

-Penulis adalah Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan