Ular

Oleh :Osamu Dazai Ibu sedikit menangis. Ia sedang menyantap sup di ruang makan. Kupikir barangkali sesuatu telah masuk dalam supnya. “Sehelai rambut?” tanyaku. “Bukan.” Ibu pun kembali menyendok dan ditelannya sup seolah tak terjadi apa-apa. Sembari menyendok sup ke mulut, ia menoleh ke satu titik, pandangannya terarah pada sebatang pohon sakura semi di luar jendela […]
Kandata

Oleh: Bagus Dwi Hananto Limbung dalam keabadian neraka, Kandata tertatih di tengah-tengah ruang hampa. Hanya kegelapan dan rentetan suara merisak pendengarannya. Kandata merasa tubuhnya berputar-putar. Tempat dia berpijak merupakan penebar ketakutan sejadi-jadinya. Tak ada apa pun bisa dijadikan sandaran, dan di mana pun dia menelusurkan pandang, cuma kegelapan. Bersuara tak ada guna. Murka apalagi. Seakan […]
Marni

Oleh Bagus Dwi Hananto Marni tetap menunggu sang suami di depan pintu rumah. Sudah lebih dari seminggu Sukaryo tidak kembali. Kali ini, karena dia kalah judi sabung ayam. Leher ayam jago kesayangannya hampir putus setelah terpatuk ayam jawara milik Parmin. Dengan taji tumpul, ayam jantan Sukaryo tidak lagi punya daya apa pun. Ayam yang selalu […]
Dua Kisah

Cerpen Bagus Dwi Hananto Candik Ala Purwoko pulang sembari menangis tersedu-sedu di pangkuan Mbah Nim neneknya yang sangat welas asih pada cucu-cucunya itu. “Kenapa, Nang?” “Kesandung tadi, Mbah!” “Cup, cup, cah ganteng, wis, jangan nangis. Mboten pareng nangis kalau jelang maghrib. Kamu seharian keluyuran baru pulang pada saat candik ala begini; bisa-bisa kamu diculik setan.” […]