Sastra

Sosok dari Pelosok: yang Berjuang dan Terkenang

Oleh Tatik Fitriyani

Novel ini menceritakan tentang awal kondisi daerah Tebu Ireng, sebuah kawasan industri pabrik gula  yang didirikan oleh  Belanda dahulunya bernama  Kebo Ireng. Kebo Ireng adalah kawasan yang masyarakatnya banyak melakukan aktivitas-aktivitas amoral. Masyarakatnya hidup dalam kegelapan dunia yang luar biasa. Perjudian, pelacuran dan berbagai aktivitas amoral lainnya menjadi aktivitas keseharian yang menjadi kebiasaan dan diwajarkan.

Hal ini merupakan salah satu dampak negatif  dari berdirinya kawasan industri pabrik gula yang didalangi oleh pemerintah Belanda. Pada saatnya nanti datanglah sosok sang Guru yang akhirnya ‘memutihkan’ kawasan gelap itu dengan mendirikan pondok Pesantren. Sampai akhirnya kawasan tersebut berganti nama menjadi Tebu Ireng dan sekarang terkenal dengan Pondok Pesantren Tebu Ireng.

Penulis novel ini adalah Masyamsul Huda yang merupakan keturunan langsung dari tokoh ‘aku’  yaitu Kiai Sakiban. Kiai Sakiban adalah salah satu tokoh masyarakat yang disegani di kawasan Kebo Ireng. Dan Kiai Sakibanlah pribumi sekaligus pemilik pertama tanah Kebo Ireng pada saat itu. Namun kedatangan Belanda di kawasan ini menjadikan pribumi tak dapat berbuat apa-apa dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Belanda memanfaatkan kawasan ini menjadi Pabrik Gula, yang berarti juga mengatur perekonomian masyarakatnya.

Kedatangan mereka membawa dampak yang sangat buruk bagi masyarakat di sana, karena budaya-budaya Barat yang dibawa mereka ditularkan kepada masyarakat pribumi. Pelacuran, perjudian dilegalkan oleh Pemerintah Belanda. Hal  ini membuat masyarakat banyak  terjerumus kepada aktivitas amoral tersebut karena berbagai himpitan ekonomi yang dialami akibat sistem ekonomi yang diterapkan Belanda sangat merugikan pribumi.

Dalam novel ini banyak diceritakan secara detail mengenai kondisi awal kawasan Kebo Ireng setelah datangnya Belanda, yang semakin carut marut sama halnya seperti kondisi masyarakat Jahiliyyah di Arab  pra Islam. Bahkan kondisi inipula didukung oleh beberapa pribumi yang rela menggadaikan harga dirinya sebagai bangsa terjajah dan menjadikan sesama masyarakat pribumi  sebagai tumbalnya.

Diceritakan pula beberapa tokoh yang berusaha melakukan pemberontakan keras secara fisik terhadap Belanda. Namun hasilnya gagal. Sehingga pada akhirnya atas usaha yang kuat dari Kiai Sakiban untuk mencari sosok yang mampu merubah kondisi masyarakatnya dengan strategi yang baik dan dengan cara yang lemah lembutpun berhasil. Beliau bertemu dengan kiai muda yang lemah lembut dan sangat rendah hati namun sangat tegas dalam bersikap. Berilmu dan layak untuk digugu dan ditiru. Ialah Sang Guru, Kiai Hasyim Asy’ari.

Hasyim Asy’ari memiliki nama asli Mohammad Hasyim yang merupakan putra dari Kiai Asy’ari di Desa Keras. Ilmunya tentu tak diragukan lagi, ini terlihat dari sikapnya yang sangat menjunjung tinggi akhlak dan adab. Beliaupun pernah banyak menimba ilmu di berbagai pesantren di seantero Jawa bahkan sampai ke Mekkah. “Kiai Hasyim memiliki cita-cita yang sangat ideal yaitu ingin membangun pesantren yang mampu mendidik muridnya agar memiliki karakter dan akhlak yang baik sebagaimana Islam yang diturunkan sebagai rahmatan lil’alamin (Hal.162). Kiai Hasyim mengtakan bahwa pesantren harus mampu menjadi agen perubahan di masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan (Hal.163) .  Tentunya tanpa meninggalkan karakter bangsa Indonesia yang terkenal dengan keramahan, kebersamaan dan kemandiriannya”.

Membaca novel ini kita disuguhkan cerita yang apik mengenai cita-cita dan perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari dalam berdakwah yang telaten penuh strategi dan melawan pemerintah Belanda tanpa kekerasan. Tidak seperti tokoh Surontanu dalam novel ini yang melawan pemerintah Belanda dengan sangat keras dan penuh teror. Sehingga Surontanu dan kelompoknya diklaim sebagai kelompok Islam ekstrimis yang berbahaya bagi Belanda. Kiai Hasyim dari awal masuk Kebo Ireng justru memberikan kesan Islam yang sangat ramah dan lemah lembut. Memberikan teladan moral yang sangat mengesankan. Hal ini sesuai dengan tujuan awalnya yaitu membentuk moral yang baik seperti yang dikatakan beliau dalam novel ini,“Seandainya membentuk kembali etika moral masyarakat, sehingga masyarakat akan memiliki tanggung jawab dan bekerja dengan baik”  (hal. 171).

Dengan etika moral yang baik segala aspek kehidupan akan membaik pula bahkan kehidupan ekonomi masyarakat sekalipun. Dan dengan strategi serta taktik yang jitu, tidak tergesa-gesa, lambat laun pribumi yang berkhianat dan pemerintah Belanda dapat terkalahkan. Masyarakat banyak  terkesan dengan kelembah lembutan sekaligus kekuatan yang dimiliki oleh Kiai Hasyim. Sehingga banyak masyarakat yang akhirnya menimba ilmu di Pondok Kiai Hasyim. Etika moral berangsur-angsur membaik dan  ekonomi masyarakatpun berangsur membaik.

Pada saat itu kiai Hasyim juga dikenal sebagai orang yang bertangan dingin di bidangnya, ini dibuktikan dengn hasil panennya yang selalu melimpah ruah bahkan santrinya yang banyak itu tidak dipungut biaya karena kebutuhan makan mereka telah terpenuhi oleh kiai Hasyim.

Di tengah degradasi moral dan kondisi masyarakat kita yang semakin kehilangan etika dan karakter bangsa karena arus percepatan teknologi yang luar biasa, mestinya etika moral, kelemah lembutan dan kemandirian yang telah diajarkan Sang Guru dapat kembali kita bentuk pada diri kita sebagai orang-orang yang ingin diakui sebagai santrinya. Sejarah harus terus kita ketahui, kita pelajari agar kita tidak kehilangan identitas kita. Buku ini salah satu buku sejarah dalam bentuk novel yang bagus untuk kita baca dan kita pelajari.

Biodata Buku

Judul : Guru Sejati Hasyim Asy’ari

Penulis: Masyamsul Huda

Penerbit: Pustaka Inspira

Tahun Terbit : 2014

Tebal : 268 halaman

-Peresensi adalah Demisioner IPPNU Kota Cirebon

Tinggalkan Balasan