CerpenSastra

Nasi Bungkus

Oleh: Niam At-Majha

 

“Pak minta sesuap nasi, dari kemarin saya belum makan,”

“Tunggu sebentar ya..!”

Jumat pagi adalah hari yang paling sibuk. Bangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Menyiapkan masakan. Memilih lauk-pauk yang cocok buat hari ini. Kesibukannya di hari jumat tak jauh beda dengan warung-warung makan ketika akan mempersiapkan bahan-bahan untuk di jual kepada pembeli. Sebab pekerjaan yang sangat menyita waktu, sangat melelahkan adalah pekerjaan membuka warung makan atau jasa cattering. Sebagai penyedia jasa harus siap segalanya. Menu-menu agar supaya enak, tak membosankan dan membuat orang yang menikmatinya akan merasa ketagihan.

“Menu apa hari ini Pak,”

“Bebas Bu terpeting enak di lidah jangan sampai orang yang memakannya merasa menu yang kita sajikan tak lezat di lidah,”

“Porsinya tetap sama ya Pak.. atau di tambahi?”

“ Di samakan saja Bu, seperti Jumat kemarin, kita baru bisa memberikan porsi segitu,”

Karno adalah salah satu karyawan di sebuah kantor swasta yang bergerak di bidang sosial dan pemberdayaan. Kantor jasa konsultan. Gaji bulanannya jauh dari Upah Minimum Kabupaten. Ia bekerja sebagai clening service, mengepel lantai, menyapu lantai, membersihkan kondisi kantor apabila kotor. Kebersihan kantor menjadi tanggung jawab Karno sepenuhnya.

Dengan gaji yang kecil akan tetapi Karno jarang mengeluh. Bahkan teman-teman sekitarnya jarang mengetahui apabila ia punya uang atau tak, prinsipnya kesedihan harus dipendam sendiri, sedangkan apabila mempunyai kebahagiaan harus kita bagikan. Orang yang sering mengeluh tak ubahnya orang yang putus asa, biasanya orang tersebut sering berbagi kesedihan akan tetapi menikmati kebahagiaan sendiri apabila menerima nikmat dan kebahagiaan. Lupa dengan kanan kiri, tetangga atau saudara.

###

“Karno…!!”

“Ada apa Pak…?”

“Besok  ruang pertemuan ada acara, kamu bersihkan lantainya, jangan sampai terlihat kotor dan berdebu, nanti apabila peserta pertemuan ada yang komplain, kamu yang saya marahi,”

“Dengan senang hati Pak..!”

Meskipun ada yang mengatakan pekerjaan Karno sangatlah berat, berat akan komplain-komplain tak masuk akal, selain itu ketika ada permasalahan Karno selalu menjadi kambing hitam.

“Kenapa ini masuk kotor,”

“Tugasmu dan tanggung jawabmu bagaimana? Lantai belum bersih, masih ada debu dimana-mana,”

“Seharusnya sebelum ada pertemuan, baik rapat, seminar. Seharusnya kamu teliti terlebih dahulu perihal kebersihan tempat biar para peserta terasa nyaman,”

Komplain-komplain dan nada-nada nyiyir seperti itu, adalah makanan harian Karno, meskipun begitu ia menerimanya penuh dengan kelapangan hati. Tak sakit hati. Sebab itu menjadi tanggung jawabnya. Bagi karyawan clening service, benar dan salah tak bisa di perjuangkan. Kadang sudah benar masih saja ada yang mencari-cari kesalahan. Orang yang tipikal mencari-cari kesalahan orang lain biasanya orang tersebut secara spiritual amburadul tak karuan. Kering kerontan spiritualnya.

“Kar..kenapa kau masih bertahan di kantor tersebut, gajinya kecil sering kena marah, bahkan ada yang sengaja mencari-cari kesalahanmu,”ucap Tono

Tono adalah pemilik kedai kopi yang sering buat langganan Karno saat jam istirahat jam kantor atau ketika pulang dari kantor Karno bisa di pastikan singgah di warung kopi milik Tono tersebut.

“Kenapa saya bisa bertahan di kantor tersebut hingga saat ini, tentu banyak pertimbangan dan alasan yang orang lain tak perlu tahu dan saya tak perlu untuk memberitahu,”

“Kalau pernyataanmu begitu ya saya tak bisa apa-apa, karena pekerjaan apa pun apabila yang menjalani dengan senang hati dan penuh kebahagiaan tentu akan terasa menyenangkan. Soal gaji berapa pun jika kita tak berusaha bersyukur tentu akan terasa berkurang terus,”

“Lha kamu tahu begitu kok tanya-tanya segala Ton..Ton”

Tono adalah teman diskusi sekaligus yang membantu saya pada saat pendistribusian nasi bungkus setiap satu minggu sekali, yaitu di hari jumat. Selain bekerja di kantor swasta dengan penghasilan cukup hidup sederhana, saya juga mempunyai pekerjaan rutinan yang di jalani setiap hari jumat yaitu berbagi nasi bungkus kepada siapa saja yang membutuhkan. Tak perduli itu kaya atau miskin.

“Kau tiap Jumat berbagi nasi apa kau tak takut jika jatah makan dirumah akan berkurang atau yang lain, “ celetuk teman satu kantor, Andre

“Kenapa harus takut, lha wong niatnya berbagi, apabila kita berbagi menunggu kaya raya, kapan menjalaninya. Sebab berbagi itu bukan karena banyaknya uang yang melimpah melainkan mental kita, prinsip kita dan kebiasaan kita semua, tentu untuk menjalani ritual berbagi bukan perkara mudah atau pun seperti membalikkan telapak tangan,”

“Begitu ya,”timpal Adre dengan ketus

Satu hal yang membuat saya sering berbagi, meskipun hanya sebungkus nasi saja, itu pun hanya hari Jumat. Karena saya mengingat- dan menjalankan nasihat Ibu ketika saya masih kecil.

“Le…kelak apabila kau sudah mampu dan berpenghasilan meskipun itu tak banyak melainkan cukup untuk kebutuhan harian; akan tetapi kau jangan sampai lupa di dalam rejekimu yang di titipkan Allah ada hak-hak orang lain yang membutuhkan, baik fakir miskin, anak yatim, para musafir dan seterusnya, usahakan kau setiap hari memberi merekan makan,”

Maka dari itu, setiap kali apa yang di sarankan oleh Ibu saya, akan saya jalani dengan tulus dan penuh dengan keikhlasan. Sebab bagi saya ridho Ibu adalah ridho Allah. Dengan ketika kita menjalani semua apa yang di nasihatkan Ibu, maka saya yakin keistiqomahan saya memberikan makan kepada siapa saja, meskipun hanya sepungkus nasi; tentu di kemudian hari akan menuai berkah tersendiri.

“Dan lagi Le…rejeki itu sudah di bagi oleh yang maha kuasa, jadi tak usah kawatir atau semelah  (menyesal-Red) dengan apa yang kau jalani saat ini. Meskipun kegiatanmu itu tak mengganggu orang lain, dikemudian hari akan banyak orang yang memberikan kementar; tak usah hiraukan orang lain, terpenting berusaha istiqomah dalam hal kebaikan, insya Allah berkah buat keluarga dan keturunanmu, “

Meskipun yang saya lakukan, saya istiqomahkan hal sepele hanya berbagi nasi bungkus setiap Jumat; dan seringkali mendapatkan nyinyiran dari sebagian orang.

“Pak…minta nasinya nggih dari tadi pagi saya belum makan,”

Permintaan-permintaan seperti itulah yang seringkali membuat hati saya terenyuh. Dan membuat saya tergugah untuk saling memberi dan menolong, sebab sejatinya kehidupan di dunia ini adalah saling tolong menolong dan berbagi. Sebab dengan berbagi kita bisa menerima-dengan menerima belum tentu kita mampu berbagi.

 

Pati 2019

 

Tinggalkan Balasan