CerpenSastra

Namaku Selfie

OlehNiam At-Majha

Satu Tahun Menjelang Pemilihan

Pada sebuah tempat. Kita bertemu kembali. Sekian lama terlewati; setelah kau memutuskan untuk bersama pilihan orang tuamu. Aku kau suruh mundur teratur. Menerima keadaan. Tak boleh menolak dan melawan bahkan sekadar untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sebab ini keputusan tak boleh ada pengecualian

Aku kau suruh menjauh. Bertanya kabar saja kau larang. Putus segalanya. Alasanmu sederhana, kau ingin menjauh dari hingar bingar keseruan, candaan, tawa lepas setiap kali kita bertemu. Baik dalam satu pergerakan, satu wadah kepanitiaan sosial kemasyarakatan. Kita selalu bersama. Sebab dari kegiatan-kegiatan sosial kita di pertemukan. Perbedaan bagi kita adalah saling melengkapi. Bukan saling mencaci atau menghindari.

Satu prinsipmu. Kita berkegiatan, kita bersosial, kita bersolidaritas bukan untuk mempublikasi, atau sekedar berpromosi. Meski namamu Selfie akan tetapi kegiatan-kegiatan seperti itu harus di hindari. Karena subtasi lebih penting dari pada kulit.

Aku selalu mengiyakan ketika berdiskusi  denganmu. Bagiku kau lebih mengerti ketimbang aku. Kau tentu tahu jika aku pernah punya cinta. Bahkan kita sama-sama saling cinta. Dan ketika itu, di antara gerimis malam; kita ber ikrar akan saling memberi bahagia. Bahkan apabila nanti keadaan memisahkan kita. Cinta antara kita harus tetap ada. Saling menjaga. Saling percaya.

“Bukankah cinta sebenarnya adalah ketika pasangan kita bisa hidup bahagia, bersama kita atau tidak, terpenting yaitu hati keduanya tetap saling menjaga,”

“Kau memaknai cinta selalu berbeda, tak seperti orang kebanyakan. Siap kecewa dan merana. Aku tak mungkin memaksa perihal argumen dan gagasan yang kau yakini; meski hati ini seruingkali tersakiti,”

“Jika nanti sudah terbiasa kau akan mengerti  makna cinta sebenarnya. Kau jangan ragu. Kita kenal bukan satu hari dua hari, atau hitungan bulan. Kita saling percaya sudah bertahun-tahun,”

Bahkan ketika kau memutuskan untuk menerima lamaran dari orang asing, belum kau kenal sepenuhnya. Karena menuruti apa yang di inginkan oleh orang tuamu. Kau menerima dengan penuh cita tanpa cinta. Bagimu berbakti kepada orang tua lebih utama, melebihi utamanya idiologi dan seabrek teori yang sering kali kau lontarkan saat diskusi.

Setelah beberapa tahun tanpa bertemu. Kini kau menemuiku, dengan dalih kau akan bercerita banyak hal. Kisah perjalanmu, perihal keputusanmu hidup bersama dengan Mosya. Laki-laki pilihan orang tuamu. Lebih dari segalanya, baik status sosialnya. Janji- janji jaminan akan memenuhi segala kebutuhan yang kau ingini. Aku mendengar semuanya dari slentingan slentingan yang di hembuskan oleh temanmu, temanku juga. Saat aku mendengar pembicaraan, jagongan, candaan kisahmu aku berusaha mengindar. Bukan karena tak suka, sakit hati. Namun lebih memegang janji seperti yang kau lontarkan menjelang perpisahan.

 “Bolehkan kita berdiskusi,?”

“Tentang apa? curhatan, penyesalan, atau apa?”

Perkataanku bukan igauan. Bukan pula sakit hati. Akan tetapi semua atas dasar apa yang aku lihat, apa yang kuketahui dari status-status Mosya suamimu. Hampir setiap hari ikut kegiatan, baik acara pemerintahan, ke ormasan dan lain sebagainya. Aktif dan produktif. Selalu hadir tak pernah absen.

“Bolehlah kau berpendapat seperti demikian. Namun berikan kesempatan biar aku menjelaskan realita yang sesungguhnya. Bisa jadi kita akan sering bertemu, akan sering berdiskusi seperti dulu lagi. Karena yang bisa mengimbangi atau memahami jalan pikiranku hanya kau seorang. Bukan maksudku untuk membuka kembali luka lama yang hampir sembuh, akan tetapi lebih memberikan pemahaman terhadap dirimu jika apa yang terjadi di media sosial bukan seratus persen seperti yang di kenyataannya.”

Berkali-kali ketika aku berdebat beradu logika denganmu selalu aku yang mengalah. Aku harus mendengar apa saja yang menjadi inginmu. Bisa berjam-jam mendengarkan segala ocehanmu. Sambil melepas rindu kita berdiskusi seperti yang kau mau.

“Sejak di persunting Mosya aku berusaha menjadi istri berbakti, istri penurut, istri yang sendiko dawuh titah suami; karena Mosya adalah pilihan orang tuaku, tentu bibit dan bobot telah di pertimbangkan. Namun itu adalah keyakinan saja.  Realitanya bertolak belakang dengan apa yang di bicarakan,”

“Maksudnya?”

“Pertama kali kau bilang melihat kegiatan Mosya dari media sosial, baik Facebook, twitter, Instagram, berkegiatan dimana-mana, tanpa lelah, seakan menjadi pembicara dan sebagainya.  Semua itu ilusi, semu, Mosya setiap ada acara pasti datang, untuk berfoto saja, di bagikan dapat pujian dari teman-temanya di dunia maya. Pura-pura pegang micropon, biar ada yang bilang sebagai narasumber. Setiap kali perjalan baik keluar desa, kota, provisi selalu di statuskan,  di media sosial terutama whatsapp; tujuannya biar di anggap sibuk, banyak kegiatan, menjadi orang penting dan di pentingkan di butuhkan dimana saja”

Aku mendengarkan segala curahanmu. Sebab ketika seorang perempuan bercerita, berbagi kisah ia hanya ingin di dengarkan saja. Bukan di komentari. Karena bagi perempuan apabila semua yang di pendam dalam hati dan pikiran ketika sudah di keluarkan akan terasa lega.

“Seharusnya kegiatan tersebut yang melakukan adalah kau. Karena namamu Selfie. Namun sejak aku mengenalmu, meski namamu adalah Selfie saat kita berkegiatan, saat kita melakukan perjalanan kau tak pernah berselfie, mengunggah kegiatanmu di media sosial,”

“Tentu kau masih ingat dengan opiniku saat kita berdiskusi di Swalayan, sambil menikmati kopi instan. Apabila orang sering Selfie dan mengabarkan semua kegiatannya dengan tujuan untuk di puja atau di ketahui orang banyak, biasanya orang demikian mempunyai kelainan berlebih untuk memuja dan memuji dirinya sendiri. Kehidupannya selalu dibayang-bayangi ketenaran-ketenaran, pengakuan dan pengakuan. Ia berjalan di rel kesemuan jauh dari realitas sesungguhnya,”

“Ketika kau membeci sesuatu terlalu benci, maka kebencian tersebut akan menyelimutimu, aku sudah pernah bilang; jangan lah benci terhadap sesuatu dengan berlebihan nanti di takutkan akan bersanding denganmu. Saat mendengar argumenku kau mencibirku, menertawakanku. Namun kini kau telah merasakan semua, kau mengalami semua, suamimu mempunyai penyakit akut suka berselfie, semua di statuskan, di kabarkan demi sebuah pengakuan semu dan ambigu,”

Pada akhirnya setiap ada pertemuan selalu ada penyesalan. Pertemuan bukan untuk menghilangkan kerinduan, melainkan untuk sebuah kemunafikan. Kau menyesal tiada guna. Sebab penentuan di awal adalah penentu akan perjalanan selanjutnya. Ibarat mentari, terbitnya pun akan di waktu sama. Akan tetapi pertemuan setahun lalu dengan saat ini tak akan sama.

Dua Tahun Setelah Pertemuan

Di dua kota pertemuan ambigu seringkali berlanjut. Kota Kretek dan Bumi Mina Tani menjadi tempat mengasyikkan untuk berdiskusi. Perihal aku, kau dan kita dan dia.

Hutan kota menjadi tempat paling sering untuk pertemuan. Membahas kesemuan, ke munafikan, angan-angan dan impian.

“Bagaimana aku bisa menasehati Mosya suamiku, dengan kelakuannya bermedia sosial terlalu over. Aku pernah datang ke ahli psikolog berkonsultasi perihal keadaannya. Namun yang  kudapatkan adalah disuruh bersabar, sebab kondisi mental Mosya rada terganggu, ada semacam traumatis permanen, sulit di sembuhkan bisa jadi tak dapat sembuh,”

“Lantas, rencanamu selanjutnya bagaimana? Berpisah dengannya? Meniadakan hubungan sakral yang sah tersebut, atau bagaimana?”

“Soal rencana kedepan belum terpikirkan. Terkadang muncul anggapan, kondisi Mosya di sebabkan oleh namaku, Selfie.  Aku pernah berprinsip jika yang hobi Selfie adalah bentuk dari kemunafikan, memupuk ke ambigu. Ingin di akui kedudukannya. Karena yang terlihat tak sesuai dengan realitanya,”

“Bukan, kau tak bisa menyalahkan namamu. Selfie adalah nama indah, penuh dengan syarat makna. Nama adalah simbolisasi. Meski ada yang mengatakan apalah artinya sebuah nama; orang yang demikian seringkali di panggil oleh sekelilingnya bukan nama sebenarnya. Bukan nama pemberian dari orang tuannya sejak lahir. Akan tetapi lebih dari panggilan dari kolega, teman sebaya untuk di jadikan penanda,”

Seringkali pertemuan kita bukan membahas soal kebahagian. Baik bahagiamu, bahagiaku. Kita lebih sering berdiskusi tentang fenomena sekarang. Orang-orang ingin di akui. Kebanyakan ingin di katakan sibuk, banyak kegiatan, banyak orderan mengisi di sana dan di sini.  Namun realitas sesungguhnya orang seperti itu menjadi benalu di tempat yang ia singgahi.

Satu contoh Mosya, istrinya Selfie; perempuan dengan multitalenta; periang, pintar dan cerdas. Aktifis perempuan yang semua kegiatannya tak ingin di publikasikan. Akan tetapi setelah menikah Selfie harus menahan dan mengikuti dengan apa yang di sukai oleh suaminya Mosya. Ia pernah bilang risih. Semua kegiatan harus di ketahui banyak orang.

“Kau tak perlu membayangkan; tertekannya diriku. Suatu ketika aku di ajaknya jalan-jalan oleh Mosya. Pergi saja belum baru berencana, akan tetapi sudah di buat status di kabarkan akan pergi melancong. Ia bilang kegiatan sibuk hari ini, pergi ke kota ukir, di lanjut ke kota kretek singgah sebentar, makan di bumi mina tani, malamnya harus mengisi pengajian di kota wali,”

Pertemuan ini adalah yang kesekian kali. Tema yang kita bahas pun sama. Realitas yang tak sebanarnya. Kau mencontohkan suamimu sendiri. Aku tak bisa memberikan solusi, masukan atau pun sanggahan. Sebab aku mengerti apabila perempuan sedang curhat, mengungkapkan segala yang ia rasakan, ia lalui, ia jalani yang di butuhkan hanya satu, yaitu di dengarkan. Tak menerima masukan apalagi sanggahan.

Dulu kau mengatakan sangat membenci dengan orang-orang yang sering berselfi ria ketika mengikuti, hadi dalam sebuah undangan, atau menjadi romli (rombongan liar).  Kau memmunculkan argumen-argumen dan teori teori yang njlimet perihal tersebut. Namun semuanya itu runtuh seketika, saat kau harus serumah, berumah tangga, berbagi cerita bukan cinta kepada orang yang aktifitasnya kau benci dan benci. Toh seringkali aku mengingatkan tentang pepatah Jawa,”Ojo geting nek nyandeng”, pepatah tersebut benar adanya bukan?

Pada sebuah tempat. Pada lintasan waktu. Kita bertemu. Berbicara banyak hal. Saling mengritik dan mencemooh sesuatu. Jika pertemuan ini dilakukan terus menerus dengan sendirinya kita akan terbelenggu. Status kita telah beda. Cara pandang kita terhadap sesuatu pun telah berseberangan. Sudah saatnya kita menyudahi kegiatan-kegiatan pertemuan-pertemuan semu ini.

Tentang Mosya, suamimu. Saranku, jika ia memang kebahagiaanya memang seperti itu, biarkanlah; karena mengganggu kebahagiaan orang lain tak baik.  Akan tetapi aktifitas Selfie yang di lakukan hanya untuk mendapatkan pujian, dan ingin status sosialnya di angkat, ingin di anggap khalayak umum, sebagai orang yang sibuk, orang yang banyak kegiatan. Sembuhkanlah karena biar bagaimana pun kau istrinya tentu mempunyai tanggung jawab penuh atas kondisi suamimu, Mosya.

Satu hal. Pada lintasan waktu. Saat-saat tertentu harus di butuhkan. Tentang pertemuan, diskusi dan sedikit melepas kerinduan, perlu di ungkapkan. Keadaan kita telah berbeda, aktifitasku akan tetap sama seperti dulu. Melakukan kegiatan-kegiatan tanpa harus di publikasikan.  Aku yakin kau juga seperti itu, merindukan kegiatan tanpa harus mendapat pujian pujian dari orang-orang berkemunafikan.

Pada lintasan waktu. Kita bertemu. Memupuk rindu. Pada lintasan waktu kita akan mengakhiri dan tak akan bertemu. Sebab yang selam ini kita diskusikan tak ubahnya sebuah kemunafikan. Pada hakikatnya setiap orang ingin untuk di puja dan puji. Namun tinggal bagaimana kita sendiri mengondisikan, tentang hati dan keinginan. Sebab keinginan adalah sebuah belenggu untuk di renungkan.

Jl. Dr. Susanto Pati

Tinggalkan Balasan