Santri Tambak

Cerpen S. Prasetyo Utomo LARUT malam, Sadewa suntuk mengikuti pengajian Kiai Maksum. Hanya beberapa santri yang duduk mengitari kiai. Sadewa yang tinggal di pesantren sejak umur 7 tahun, dan kini sudah selesai pascasarjana, tak pernah bosan mengikuti pengajian. Ia dikenal sebagai penyeduh minuman yang disukai siapa pun di pesantren. Pagi hari menyeduh teh, dan sore […]
Buaya Terbang

Cerpen Beri Hanna SEGERA setelah Bepak masuk ke kandang lalu keluar dengan dua tangannya mencekik seekor ayam, ia berjalan tenang tanpa menghirau aku yang menatapnya. Ketika Bepak sampai di pinggir sungai—sepertinya Memak belum tahu apa yang akan Bepak lakukan—ia lantas tanpa ragu melempar ayam itu ke arah buaya sambil berseru, “Gamangima!” Aku bukan hanya takjub […]
SEMBELIH

Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita Ibrahim; bukan seorang nabi dan rasul, sekadar seorang lelaki biasa yang menjalani hidup biasa seperti orang biasa dan memiliki istri dan dua anak lelaki yang biasa juga; mendapatkan mimpi bahwa suatu suara telah memerintahnya untuk menyembelih salah satu putranya dan dia memang melakukannya di dalam mimpi itu. Dalam mimpi itu, […]
BAWUL

Cerpen M. Syaifulloh Kupacu motor sekencang-kencangnya. Usai kengerian yang kusaksikan barusan, rasa-rasanya diri ini ingin selekas mungkin bersimpuh di hadapan Gus Malik. Pada beliau aku ingin memohon ampun. Semata agar segala kejengkelan yang kupendam selama ini tak menjadikan kisahku di pesantren berakhir senahas Bawul. *** Sinar lampu jalanan masih beradu pendar dengan semburat surya di […]
SUMIRAN MENJADI BABI

Cerpen Erwin Setia Babi-babi memenuhi Kampung Suci. Pagi itu, belum lama setelah mentari nongol di timur cakrawala, warga berhamburan dari rumah masing-masing dengan wajah tegang. Mereka seolah-olah menerima kabar perang saudara akan terjadi. Para lelaki muda dan bapak-bapak menenteng senjata. Ada yang membawa parang, kelewang, golok, pedang, bahkan senapan. Kampung Suci yang biasanya setentram desa-desa […]
Doa Orang-Orang Teraniaya

Cerpen Aliurridha Dama tidak pernah cinta kepada ayahnya. Lebih dari itu, ia membenci ayahnya tersebab lelaki itu tidak pernah kurang menyakitinya. Sering ketika marah, ayahnya mengutuk-ngutuk Dama, menyebutnya anak kurang ajar, nakal, tidak tahu diuntung, dan sebutan-sebutan menyakiti hati lainnya. Namun tidak jarang juga ia melakukan lebih dari itu, memukuli Dama ketika laju emosinya tak […]