Oleh: Vito Prasetyo
Sering kali persoalan rumah tangga dianggap cerita yang menarik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ada banyak juga yang menganggap terlalu sensitif untuk diketahui orang lain. Ada banyak sisi yang menjadi sebab-akibat dari kehidupan manusia, dimulai persoalan tradisi, agama, soal ekonomi, atau yang cukup menarik soal perselingkuhan. Persoalan yang terurai menjadi benang kusut atau sebaliknya menjadi kian harmonis.
“Apa yang kau pikirkan Arsy?” Suatu saat Randu bertanya pada Arsy.
- Iklan -
“Ah … hidup itu unik, ya…” Jawab Arsy tanpa menjelaskan kesimpulan apa yang ada dalam pikirannya. Randu hanya tersenyum.
Aku pernah bermimpi tentangmu. Tentang masa tua yang melupakan kenangan. Tentang kata-kata yang tidak lagi terucap. Entah, karena rambut kita yang mulai memutih. Semua hanya terbaca kembali pada mimpi-mimpi. Arsy mungkin percaya, jarak dan waktu yang jauh akan menjadi dekat dalam impiannya.
Arsy selalu percaya bahwa mimpi adalah catatan sejarah sunyi yang disembunyikan alam. Sesuatu yang datang tanpa dipanggil, tapi meninggalkan bekas seperti debu pada rak ingatan. Dan malam itu, ia terbangun dengan dada bergetar, seakan Randu—lelaki yang sejak muda menampung semua resahnya—baru saja berdiri di ambang pintu. Tapi, gelap malam yang terlihat agak terang, hanya karena lampu ruangan menyala. Arsy segera sadar, ini hanya ilusi yang dikirim dalam mimpinya.
Sementara, Randu sedang tidur di ruang sebelah, terengah-engah oleh usia, tetapi wajahnya tetap seperti dulu: menyimpan badai yang ia pilih untuk tidak pernah dipetakan. Dan hidup adalah pilihan untuk menerima kekalahan, bahwa kelak tatapannya tidak lagi sama untuk mengartikan cinta. Tiba-tiba, bayangan masa lalunya terlintas. “Kenapa Azizah harus datang dalam pikiranku?”
Azizah, seorang perempuan yang tampak seolah-olah lembut di balik hijabnya, memiliki karakter antagonis dalam kehidupan Randu. Tapi, Arsy tidak mau ambil pusing, Azizah hanya bagian masa lalu dari Randu. Dan Arsy begitu percaya, takdir seseorang telah digariskan Tuhan.
Pagi menjelang siang. Sinar matahari merayap hingga ke dapur, seperti jemari tua yang mencari pegangan. Arsy membuat teh untuk mereka berdua, aroma melati menyeruak pelan di setiap sudut ruangan tapi ada sesuatu di udara—sebuah ketakutan yang terasa samar bahwa satu hari nanti bahkan wangi ini tidak akan lagi mereka kenali.
Dan seperti diisyaratkan dalam mimpi itu, ketukan di pintu datang. Seseorang yang wajahnya hadir secara samar dalam mimpi itu. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba seorang Azizah muncul dalam kehidupan mereka. Seharusnya Azizah paham, bahwa Randu telah memilih sebuah pilihan yang tepat. Dan pilihan itu diberikannya kepada Arsy. Tetapi terkadang kisah asmara penuh keunikan tersendiri, meski bagi penonton, ada yang terasa berbeda dari setiap kisah itu.
Wanita yang mengaku hidup dalam naungan religius, bibirnya selalu sibuk mengucap salam dan ayat, tetapi tatapannya—ah, tatapannya menyimpan malam yang berdekatan dengan api. Ia adalah metafora dari sayap gelap yang dibalut kain putih; tampak suci, tetapi bayangannya menggerogoti cahaya. Pakaian yang digunakan Azizah seakan simbol seorang perempuan muslimah. Tetapi, di masa sekarang, banyak kaum perempuan menganggap pakaian itu adalah model. Bukan ukuran perilaku sosial.
“Arsy,” sapanya lembut, seperti rembulan yang berpura malu-malu mengintip. “Aku pikir kalian membutuhkan bantuan.”
“Anda siapa? Dan dari mana tahu nama saya? Apakah kita pernah bertemu?” Meski Arsy berkali-kali mendengar nama Azizah, sejatinya ia belum pernah berkenalan dan mengenali wajah Azizah. Randu pun tidak pernah memperlihatkan foto Azizah kepada Arsy. Itu sebuah pilihan bagi Randu, untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya.
Arsy menegakkan tubuhnya. Randu muncul dari belakang, langkahnya goyah namun sorot matanya tajam—ia tidak menyukai kedatangan itu, sebab Azizah adalah masa lalu yang ingin mereka kubur.
Azizah tersenyum. “Kalian makin renta. Kasihan kalau semua kenangan kalian hilang begitu saja. Mungkin… butuh seseorang untuk mengingatkannya?”
Ia menatap Randu dengan cara yang membuat udara seperti mengental beku. Arsy merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. Azizah dulu pernah menghancurkan mereka—bukan dengan tindakan, tetapi dengan keraguannya sendiri. Ia mencintai Randu diam-diam, tetapi bersujud kepada kehidupannya yang pura-pura suci. Ia mengingkari diri, mengingkari hasrat, mengingkari kebenaran yang tidak berani ia sebutkan. Dan dari pengingkaran itu lahirlah rasa iri yang kian membusuk di hatinya.
“Kami baik-baik saja,” kata Arsy akhirnya.
“Tapi aku melihatmu dalam mimpi,” balas Azizah, seakan tahu persis jalan yang paling disembunyikan.
“Melupakan. Kalian berdua sudah lupa…” suaranya melebar seperti kabut asap di udara, dan itu seakan menekan jantung Arsy.
Percakapan mereka seperti basa-basi, dan Arsy seakan bisa menebak ke arah mana pembicaraan Azizah. Selama ini, hubungan Randu dan Arsy berjalan normal dan baik-baik saja. Sepertinya Azizah ingin masuk ke dalam rumah tangga mereka. Entah apa yang diinginkan Azizah. Tapi Arsy bisa menebak, kehadiran Azizah bisa menjadi duri dan luka. Arsy lebih banyak memilih diam, dan tidak menanggapi semua apa yang diceritakan Azizah.
Di sore itu, setelah Azizah pergi, Arsy memandangi Randu lama sekali. “Kalau suatu hari aku lupa kamu… apa yang harus kita lakukan?”
Randu tersenyum—lemah, tapi penuh kejujuran. “Kalau kamu lupa, aku akan mengingat untuk kita berdua.”
“Dan kalau kau yang lupa?”
“Aku harap mimpimu cukup kuat untuk menjemputku kembali.”
Entah dari mana kata-kata puitis keluar dari mulut Randu. Mengalir spontan, seakan ingin meneguhkan rasa kepercayaan Arsy.
Angin bertiup dari jendela, mengangkat tirai seperti helai usia yang terlepas satu per satu. Arsy tahu mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ia adalah peringatan. Tentang rapuhnya ingatan. Tentang waktu yang tidak selamanya akan memihak.
Dan di kejauhan, Azizah melangkah pulang dengan langkah gontai, tetapi bisa menjadi langkah berbahaya dengan strategi lain di kemudian hari. Ia menggenggam tasbih di tangan, tetapi dadanya tak pernah benar-benar bersih. Ia adalah doa yang tak selesai, ayat yang ditinggalkan di tengah, keimanan yang retak oleh keinginan yang tidak pernah ia izinkan hidup. Dalam diam, ia berharap kenangan Arsy dan Randu benar-benar luntur—bukan demi Tuhan, tetapi demi ruang gelap dalam dirinya yang selalu menuntut pembenaran.
Namun untuk Arsy dan Randu, cinta mereka adalah laci kecil yang bahkan waktu pun ragu membukanya. Mereka percaya, setiap orang punya masa lalu. Meski melupakan masa lalu tidak akan bisa menghapus catatan yang telah ditulis.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arsy tidak takut lagi pada mimpi—mimpi adalah satu-satunya tempat di mana kata-kata yang tak terucap masih bisa mereka temukan. Mimpi adalah penggalan kisah yang hanya hidup dalam ruang ingatan. Sebelum tidur, Randu berbisik pada Arsy:
“Rambut kita mulai beruban. Artinya… Ada banyak kisah masa lalu yang beranjak pergi dari tubuh kita. Bahkan mungkin, esok ruh kita juga akan meninggalkan tubuh kita.”
Arsy menatap lekat suaminya. Ia harus yakin, bahwa Randu adalah makhluk paling indah tetapi sekaligus sangat misterius yang pernah dikirimkan Tuhan untuknya.
“Ternyata hidup ini hanya sebuah perjalanan, tidak untuk menunda kekalahan.” Arsy tersenyum kecil, membiarkan pikirannya yang memaknai kata-kata Randu.
Dan malam itu, sambil berbaring mereka memutar film. Kebiasaan yang sudah cukup lama mereka tidak melakukannya. Kadang mereka saling memprotes alur cerita film itu. Seakan, mereka yang paling cocok untuk memerankan tokoh dalam film itu. Terkadang di beberapa bagian film, membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Tiba-tiba Arsy bercelatuk,
“Asyik juga seandainya aku tiba-tiba berkeinginan untuk memerankan perempuan seperti Azizah.” Ia seperti ingin memancing emosi Randu.
“Berarti… kamu sama gilanya dengan dia.” Jawaban Randu begitu menohok.
Dalam hati Arsy, rumah tangga perlu diselingi dengan kisah-kisah yang bercorak antagonis. Tetapi bagaimana kalau itu menjadi bara api yang tidak pernah bisa padam. Semua seakan tersimpan rapi dalam ingatan mereka, dan hanya Tuhan yang mampu menghapus dan mengakhiri catatan mereka. ***




