Oleh Gunoto Saparie
Ada sebuah kata yang perlahan menjadi asing di zaman kita: mondok. Kata itu sederhana, pendek, nyaris terdengar kuno. Di tengah dunia yang bergerak dengan aplikasi, layar sentuh, dan kecerdasan buatan, mondok terdengar seperti sesuatu yang tertinggal di sebuah lorong waktu. Padahal, dari kata itu pernah lahir sebuah peradaban.
Pesantren. Kita menyebutnya lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Tetapi sebutan “tertua” sering menipu. Ia membuat sesuatu tampak usang, padahal usia kadang justru menunjukkan daya tahan. Yang bertahan paling lama sering bukan yang paling kuat, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan diri sendiri.
Pesantren, tampaknya, memahami rahasia itu.
- Iklan -
Ia lahir jauh sebelum republik ini berdiri. Sejarah mencatat awalnya sederhana: seorang kyai datang, membawa ilmu. Lalu datang beberapa orang yang ingin belajar. Mereka tinggal bersama. Belajar bersama. Makan seadanya. Tidur berdesakan. Tidak ada laboratorium, tidak ada proyektor digital, tidak ada jaringan internet.
Yang ada hanya keyakinan bahwa ilmu perlu dicari. Dan pencarian itu memerlukan kedekatan.
Mungkin karena itulah hubungan kiai dan santri menjadi pusat seluruh kehidupan pesantren. Hubungan itu bukan sekadar relasi guru dan murid. Ia lebih mirip ikatan yang rumit: ada penghormatan, ada keteladanan, ada jarak, tetapi juga ada kehangatan.
Di sekolah modern, murid bisa saja melupakan nama gurunya beberapa tahun setelah lulus. Di pesantren, nama kiai sering tinggal lebih lama daripada nama mata pelajaran.
Barangkali karena yang diwariskan bukan hanya pengetahuan. Tetapi cara hidup.
Di pondok, seorang santri tidak belajar agama selama dua jam lalu pulang. Ia hidup di dalam pelajaran itu sendiri. Sejak bangun sebelum subuh, mengaji, membersihkan halaman, antre mandi, hingga tidur kembali. Aktivitas berlangsung berulang-ulang. Hari demi hari.
Kehidupan menjadi kurikulum. Dan kurikulum di pesantren kadang bekerja diam-diam.
Sebab tidak semua pelajaran ditulis di papan. Sederhana, misalnya.
Kata itu mudah diucapkan tetapi sulit dijalani. Pesantren mengajarkannya dengan cara yang hampir tanpa teori. Seorang santri tidur di kamar sempit bersama belasan orang lain. Ia belajar berbagi tempat, berbagi makanan, berbagi waktu, bahkan berbagi kesunyian.
Modernitas sering mengajarkan sebaliknya: ruang pribadi, kepemilikan pribadi, keberhasilan pribadi.
Pesantren memperkenalkan kata lain: kebersamaan. Mungkin terdengar sepele. Tetapi di dunia yang makin individualistik, hidup bersama adalah pelajaran yang mahal.
Lalu datanglah zaman digital. Telepon pintar masuk ke kamar-kamar pondok. Internet datang membawa seluruh dunia ke genggaman tangan. Informasi bergerak begitu cepat. Orang dapat mengetahui perang di negara jauh, gosip artis, hingga tafsir agama hanya dengan satu sentuhan jari.
Pengetahuan kini tersedia di mana-mana. Tetapi pesantren tampaknya mengajukan pertanyaan yang berbeda: apakah semua informasi adalah ilmu?
Pertanyaan itu penting. Sebab zaman digital melahirkan ilusi baru: merasa tahu karena mudah mencari.
Kita hidup dalam banjir data. Tetapi banjir tidak selalu berarti air yang bisa diminum.
Pesantren sejak lama mengenal disiplin yang lain: kesabaran membaca. Kesabaran mendengar. Kesabaran mengulang.
Kitab kuning menjadi contohnya. Kitab itu sering tampak asing bagi mata modern: kertas kusam, tulisan rapat tanpa harakat. Tidak praktis. Tidak cepat.
Tetapi justru di situlah latihan dimulai. Santri membaca perlahan. Menerjemahkan kata demi kata. Menghafal struktur bahasa. Mengikuti penjelasan guru.
Ada dua cara yang bertahan berabad-abad: sorogan dan bandongan. Sorogan menghadapkan santri secara langsung kepada ustaz atau kyai. Santri membaca, guru menyimak. Kadang dibetulkan. Kadang dihentikan.
Bandongan berbeda. Guru membaca kitab di depan banyak santri, sementara para santri mencatat makna di sela-sela teks.
Kelihatannya sederhana. Tetapi ada sesuatu yang tidak tampak.
Dalam sorogan, seorang santri belajar keberanian menghadapi kesalahan. Dalam bandongan, seorang santri belajar kesabaran mendengar. Di zaman ketika semua orang ingin bicara, mendengar mungkin menjadi pelajaran yang paling langka.
Tetapi pesantren tidak berhenti pada kitab. Ia juga hidup melalui tradisi. Ada mujahadah. Ada istighotsah. Ada shalawatan.
Dari luar, semua itu mungkin tampak sekadar ritual berulang. Orang berkumpul, membaca doa, melantunkan pujian. Namun tradisi keagamaan di pesantren bukan semata-mata soal ritual. Ia menciptakan ruang batin.
Di dunia yang bergerak cepat, manusia sering kehilangan kesempatan untuk berhenti. Mujahadah mengajarkan berhenti. Shalawatan mengajarkan mengingat. Mengingat, di zaman sekarang, menjadi pekerjaan yang sulit.
Karena teknologi modern sebenarnya bekerja dengan cara yang aneh: ia membuat kita mengetahui banyak hal, tetapi melupakan banyak hal juga. Kita mengingat kata sandi lebih sering daripada doa. Kita menghafal notifikasi lebih baik daripada nama tetangga. Pesantren tampaknya mencoba mempertahankan sesuatu yang pelan-pelan hilang: kedalaman.
Tentu saja pesantren bukan dunia tanpa masalah. Ia menghadapi tantangan yang sama seperti lembaga lain. Modernisasi memaksa perubahan. Kurikulum harus diperbarui. Teknologi perlu dimanfaatkan. Santri harus mampu menghadapi dunia yang semakin rumit.
Tetapi menariknya, pesantren tidak benar-benar menolak zaman. Ia hanya menolak tergesa-gesa. Pesantren tahu bahwa perubahan tidak selalu berarti meninggalkan akar. Karena pohon yang tumbuh tinggi justru membutuhkan akar yang lebih kuat.
Mungkin itu sebabnya pesantren masih bertahan hingga hari ini. Bukan karena ia kebal terhadap perubahan, melainkan karena ia mampu menjaga identitas sambil bergerak. Identitas itu sederhana: hubungan dekat antara guru dan murid, hidup yang bersahaja, persaudaraan, serta keyakinan bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari pekerjaan. Ilmu adalah jalan menjadi manusia.
Di tengah dunia yang makin canggih, mungkin itulah yang paling dibutuhkan. Sebab teknologi bisa mempercepat perjalanan, tetapi tidak selalu mengajarkan arah.
Pesantren, sejak awal, tampaknya tidak pernah sibuk mempercepat langkah. Ia sibuk memastikan orang tidak tersesat.



