PuisiSastra

Puisi-Puisi Nafilah Sulfa

Ilustrasi CNN Indonesia

NU TETAPLAH ABADI

Oleh: Nafilah Sulfa

 

Diufuk timur nan jauh

Kobaran  panji Islam bertebaran

Kau bagaikan Ibu, yang mempersatukan dunia

Dikala suramnya kehidupan fana

NU

Namanmu  akan tetap abadi dalam sanubari

menghias subur di tanah surgawi

penyatu ukhuwah Islami

untuk kedamaian Bumi pertiwi

NU

tetaplah jaya sepanjang masa

tetesan keringat ulama  membasahi Negeri

menyapu kekerasan…

menyapu pertengkaran…

NU

tetaplah abadi

kau pemersatu ukhuwah insani

dulu, sekarang, kini dan nanti

selalu dalam genggaman hati dan ragawi

 

 

 

KEIKHLASAN GURU

Oleh: Nafilah Sulfa

desir angin pagi

menembus  kulit dan hati

setetes embun membasahi

terik matahari menyinari bumi

kau berangkat membawa senyuman  tersembunyi

Guru..

sungguh besar jasa  perjuanganmu

tak peduli panas, hujan, haus dirimu tetap mengabdi tuk negeri

hamparan sawah dan ladang kau lewati

semak berduri  tak peduli

Guru…

tanpa dirimu ku tak berarti apa-apa

jasa  perjuanganmu bagaikan hamparan lautan

Guru ..

namamu tersimpan dalam sanubari

jasamu akan tetap berkibar di nusantara ini

pengorbananan akan tetap abadi

keihlasanmu akan di balas oleh sang ilahi

 

 

 

BUMI PESANTREN

Oleh: Nafilah Sulfa

tanah surgawi mengelilingi nusantara

desir ombak mengikis batu karang

Tiang masih kokoh berdiri

menandakan kau mampu memikul beban ilhaii

Bumi pesantren

Lantunan nama ilahi selalu kau sebut setiap waktu

doa-doa munajat pencari ilmu selalu bergema

kitab-kitab mereka di sandang didada

kopyah hitam putih berjalan kearah sinar cahaya

Bumi pesantren.

Pengikis hitamnya dunia fana

Penegak ukhuwah ulama nusantara

Pemberantas rasa tak acuh  insan penuh dosa

Bumi pesantren…

Setiap hari tanahmu basah..

Basah dengan tetesan air mata yang tulus pada ilahi

Hati yang menangis ingat ragawi yang tak abadi

Tapiii…

Aku bersyukur bisa memasuki pagar tanahmu

Karena ribuan mutiara telat menantiku disana

Pesantren,,, tetaplah abadi meski dunia sudah tak peduli

 

RINTIHAN NISFIL LAYALI

keheningan malam  sunyi

Pohon merunduk  tersapa pagi

terbangun mengajak raga ini

menjemput cahaya ilahi suci

sepertiga malam

Di atas sajadah ku tuangkan rasa dalam dada

melihat raga sudah tua renta

dengan rintihan kalbu yang begitu perih

Tangan menengada, hati merintih

Benak melayang, mengenang masa dimana kutidur sendirian dibumi

Tanpa seberkas cahaya yang menyinari kelak kesendirianku di sana

Hanya lentera amal penerangku

Rabbi…

Hati ini merintih dalam sepertiga malam-mu

Mengingat indahya dunia yang semakin fana

Dalam sepertiga malammu rab

Ku harap sang ilahi menemuiku di syurga nanti

 

 

SANG MUTIARA BERJALAN

Ketika embun pagi meneteskan air putihnya

Sang mutiara berjalan menampakkan senyuman

Membisikkan kata-kata lembut ditelinga kecilku

Selamat pagi, semoga keberkahan menyertaimu

Ibu..engkau adalah mutiara berjalan bagiku

Ketika daku, tak kunjung menemukan titik terang kehidupan

Kau hadir pemberi lentera

Menyinari kelamnya dunia hitam dalam bayangan

Ibu…

Kini waktu telah memutarkan rodanya

Cinta kasih yang kau tuangkan di masa kecilku

Kini daku akan balik menuangkannya

Ternyata, tumpukan emas ternyata tak mampu mengalahkan kasih sayangmu

Ibu, daku sadar tak ada yang bisa menggantikan ketulusan hatimu

Dan kini se tetes embun pagi itu tetap menetes

Bersama semilir angin yang berhembus

Senyum pagi itu akan daku ingat kini dan nanti

Selama dirimu masih bersamaku

 

BIODATA PENULIS

Nafilah Sulfa, Santri: Ziyadatut Taqwa-Larangan Tokol Pamekasan-Madura

Mahasiswi IAIN Madura

Tinggalkan Balasan