Bukan Ijazah yang Bisa Menerbangkan Pesawat

Oleh Ahmad Hamid

 

Beberapa minggu terakhir banyak kabar  yang bergentayangan di jagad media.  Begitu “Wow” luar biasa kabar tersebut. Hampir semua lapisan tahu dan menjadi cemilan di warung-warung kopi. Dari munculnya  keraton sejagad dengan Toto Santoso sebagai pimpinan keraton dan Fanni Aminadia sebagai sang permaisuri yang sekarang sedang berurusan dengan polisi, karena ternyata keratonnya hanya fiktif belaka, dan ada lanjutan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian atapu cerita, itu adalah kebetulan semata dan ada unsur kesengajaan eh jadi kaya sinetron saja ya. Begitu aneh  tapi nyata, bikin geleng-gelang kepala.

 

Kemudian muncul Sunda Empire dengan pimpinan Ki Ageng Ranggasasana, yang tidak tanggung-tanggung mengklaim membawahi 150 negara di dunia benar-benar kemunculan yang ditunggu-tunggu untuk para pemburu berita.

 

Namun ada satu kabar yang tidak kalah “Wow” dibanding kabar dua tadi. Kabar yang dikatakan sangat mengembirakan terutama di dunia kedirgantaraan. Bagaimana seseorang tidak lulus SD berkat kerja kerasnya dan semangat pantang menyerah mampu menyulap barang rongsokan menjadi pesawat yang benar-benar disebut sebagai pesawat.

 

Chaerul namanya umur 35 tahun beralamat di Lagnga, kelurahan Pallammeang, kecamatan Mattiro Sompe, Pinrang, Sulawesi Selatan. Berkat kesuksesan Chaerul, dia bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting Nasional seperti Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko dan juga  Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Yuyu Sutisna. Kedua orang tersebut adalah orang-orang penting yang jika ingin bertemu harus melalui beberapa aturan yang ketat namun Chaerul malah diundang oleh mereka.

 

Itulah beberapa prestasi yang sudah diraih oleh Chaerul. Penulis tidak ingin membahas lebih dalam tentang prestasi Chaerul ini. Yang akan penulis bahas adalah tentang perkataan orang ” Chaerul kae..ora sekolah tapi bisa gawe montor mabur, la koe sekolah puluhan tahun kudune bisa gawe sing luwih saka Chaerul” kelakar salah seorang teman di warung kopi. Pukulan berat buat para sarjana yang belum bekerja atau belum punya karya. Ibarat permainan sepak bola skor 1-0 dan teman saya unggul terlebih dahulu.

 

Ijazah penting tapi ilmu lebih penting, orang punya ijazah bisa sukses tapi orang sukses belum tentu punya ijazah. Orang punya ijazah belum tentu punya ilmu dan orang punya ilmu belum tentu punya ijazah. Kalau digandeng-gandeng tidak ada putusnya. Intinya bercermin dari Chaerul, ijazah penting tapi ilmu jauh lebih penting. Chaerul tidak punya Ijazah tetapi dia punya kemauan, kerja keras serta semangat pantang menyerah.

 

“Le koe sekolah sing tekun ben oleh ijazah, sesok bisa kerja sing kepenak”, “le koe kok ora sekolah sesok meh dadi apa, keluargamu meh pakani apa”?. Mungkin kata-kata itu yang sering kita dengar ketika ada orang tua yang marah dengan anaknya yang bandel karena tidak mau sekolah.

 

Dari sini jelas anak-anak di sekolahkan dengan niat agar mendapat ijazah dan bisa bekerja, embel-embel dapat ilmu tidak ada. Orang tua khawatir jika tidak ada ijazah maka tidak akan bisa hidup atau tidak bisa hidup enak. Berkaitan dengan ijazah Rocky Garung seorang politikus terkenal mengatakan ijazah itu adalah tanda lulus sekolah bukan tanda lulus berpikir. Jadi orang berijazah bukan jaminan bisa berpikir dan orang yang tidak punya Ijazah belum tentu tidak bisa berpikir.

Kalau ijazah sebagai tolak ukur kesuksesan, bagaimana dengan Susi Pudjiastuti yang hanya lulusan SMP. Dulu orang tuanya sempat khawatir dengan Susi yang tidak melanjutkan sekolah. Namun Ibu Susi bisa menepis kehawatiran orang tuanya dengan menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan serta mempunyai perusahaan yang bernama Susi Air.  Tidak tanggung perusahaan yang dirintis oleh ibu Susi ini mengoperasikan 50 pesawat dari berbagai jenis. Bahkan mempekerjakan karyawan yang berasal dari berbagai negara tidak hanya dari Indonesia. Ibu Susi pernah berkelakar “Saya tidak punya ijazah tapi saya bisa memperkerjakan banyak orang yang berijazah”. Selain ibu Susi juga ada M.H Ainun Najib, Bob Sadino dan banyak tokoh lain yang bisa”hidup” tanpa ijazah.

 

Belum lagi tokoh-tokoh internasional  Bill Gates dengan Windowsnya dan Mark Zuckerberg dengan Facebooknya mereka sama-sama mahasiswa yang dikatakan “gagal” di Havard University. Tetapi Mereka sekarang menempati orang-orang terkaya di dunia.

 

Apakah ada yang salah dengan pendidika? Sehingga yang tidak berijazah malah muncul duluan. Mungkin saja.! Contoh pendidikan di Indonesia setiap pergantian pejabat pasti berganti pula peraturannya. Sebagai bawahan si tidak apa-apa asal perubahan itu membawa kearah kebaikan. Dan perubahan itu benar-benar matang dalam perencanaan. Masih setengah matang sudah diimplementasikan dan akhirnya mental di tengah-tengah jalan. atau memang pendidiknya yang belum siap menerima perubahan. Entahlah!

 

Kemudian muncul pertanyaan apakah sekolah yang identik dengan dapat ijazah tidak penting? menurut hemat penulis sekolah dengan niat mencari ilmu harus. Tetapi perlu digaris bawahi kalau mencari ijazah itu ada batasnya tetapi kalu mencari ilmu tidak akan ada habisnya. Karena ilmu ada dimana-mana. Ya intinya dibetulkan dulu niatnya. Ijazah hanya bonus setelah kita mencari ilmu di dunia pendidikan dan sebagai bahan ihtiar kita dalam mencari pekerjaan. Tapi jangan menganggap ijazah adalah segalalanya, mugkin semua lamaran pekerjaan membutuhkan ijazah tetapi tidak semua pekerjaan dilakulkan dengan orang- orang yang berijazah saja.

 

Yang jelas munculnya Chaerul tadi bisa menjadi cambuk untuk pelajar, mahasiswa, guru, akademisi dan pemuda indonesia agar lebih bekerja keras lagi untuk menghasilkan karya. Dukunglah teman-teman kita dalam mengasah bakat dan minatnya dalam hal apapun. agar indonesia menjadi negara yang berbuah tidak hanya berkembang.

 

Mohon maaf, yang tidak punya ijazah saja bisa apalagi kita yang sudah dianugerahi punya ilmu dan sekaligus ijazah, pasti juga bisa. seandainya Chaerul bisa mengenyam dunia pendidikan sesuai dengan bakatnya mungkin dia akan lebih mudah dalam mengapai cita-citanya tidak sampai dimarahi istri dan dianggap “gila” oleh tetangga-tetangganya.

 

Tidak boleh ada kambing hitam diantara kita. Intinya ibarat pendidikan kita adalah nasi yang sudah terlajur menjadi bubur dengan segudang permasalahan dan titel carut marutnya. mengembalikan lagi kenasi jelas sudah tidak bisa apalagi menjadikan bubur tadi menjadi beras adalah hil yang mustahal. Tugas kita bukan meratapi bubur tetapi ubahlah bubur tadi menjadi bubur kacang ijo atau bubur ayam agar menjadi manfaat yang mempunyai nilai jual tinggi. Dengan demikian anggapan pendidikan “gagal” tidak ada lagi yang ada adalah proses menuju “keberhasilan”.

 

-Penulis adalah Relawan Literasi Ma’arif, Guru SD AL Madina Wonosobo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *