ArtikelOpini

Pendidikan, Lain Dulu Lain Sekarang

Bagikan:

Oleh Abdul Khalim

Saat ujian semester ada obrolan guru dikantor mengenai siswa zaman sekarang. “Pak anak sekarang kok nggak ada yang belajar ya, padahal zaman kita dulu belajar menjelang ujian itu sesuatu yang harus diperhatikan, bahkan sampai rela mematikan TV selama masih ada ujian”.

Obrolan ini pada dasarnya adalah pengalaman pribadi masing masing guru di mana setiap kali akan ujian nasional mereka tidak boleh diganggu demi memperoleh nilai yang bagus. Nilai yang bagus pada saat itu adalah sesuatu yang sulit didapat dan merupakan cerminan prestasi secara keseluruhan, baik perilaku maupun pengetahuan. Anak-anak saat itu jika memperoleh nilai yang bagus pasti secara social dan prilaku merupakan anak yang baik. Mereka akan merasa sangat sedih jika di dalam rapotnya terdapat nilai merah meskipun hanya satu.

Lain dulu lain sekarang, anak-anak era milenial ketika menjelang ujian atau bahkan pada saat ujian mereka terlihat enggan untuk belajar. Mereka lebih asyik bermain dengan gedgetnya. Memang betul bahwa materi pembelajaran bisa diakses di gadget yang mereka miliki, akan tetapi apakah mereka benar-benar memanfaatkan teknologi gadget untuk menunjang pembelajaranya atau malah lebih sering bermain game online atau asyik bermedia sosial.

Saat hasil ujian dikoreksi, hasilnya jauh dari harapan bahkan terkadang lucu-lucu jawaban yang mereka tulis. Yang menggemaskan terkadang mereka menulis jawabannya keluar dari konteks pelajaran yang diujikan. Misalkan soal matematika yang ditanya tentang X dan Y, mereka menjawab “ biarkan X dan Y hidup tenang di luaran sana pak gak usah ditanyain”. Jawaban seperti ini mungkin disebabkan karena siswa sudah pasrah atas ketidakmampuan menjawab pertanyaan atau hanya sekadar iseng kepada gurunya.

Itulah realita siswa milenial begitu sepele terhadap pelajaran sekolah dan gurunya. Fakta yang demikian tentu tidak bisa lepas dari dampak teknologi informasi yang menyatukan pergaulan seseorang dari yang paling sopan sampai yang paling bringasan, dari yang terpelajar sampai yang urakan, dari yang beradab sampai yang biadab semua dapat terkoneksi dalam satu media yaitu media sosial.

Lain Dulu Lain Sekarang

Dulu guru mengajar sedikit dituntun oleh dokumen administrasi pembelajaran karena rencana pembelajaranya sudah tertanam dalam kepribadian guru tersebut yang tanpa didokumentasikanpun guru telah mampu mengajar dengan baik. Perhatian guru terfokus pada anak didik.

Guru akan selalu memperhatikan perkembangan belajar siswa, keunikan, kedisiplinan, potensi dan hal ikhwal terkait dengan potensi siswa. Berbeda dengan guru sekarang. Sejak adanya program sertifikasi guru, guru banyak dibebani oleh seabrek administrasi pembelajaran, mulai dari RPP, tuntutan berkas sertifikasi dan administrasi pengisian rapot yang begitu rigid.

Program sertifikasi ini tidak menjadikan guru semakin meningkat kualitas pengajaranya sebagaimana harapan program sertifikasi guru, akan tetapi yang terjadi malah semakin menurun kualitas mengajarnya. Bukan persoalan kemampuan pengetahuan para guru yang menurun akan tetapi konsentrasi dan focus guru pada siswa yang menurun. Di sinilah problem pendidikan saat ini. Guru bukan lagi sebagai person yang memberikan inspirasi dan sumber motifasi belajar siswa akan tetapi guru menjadi person yang memproduksi dan menjalankan administrasi pembelajaran.

Kurangnya konsentrasi guru terhadap siswa tentu membawa dampak kurang baik terhadap proses belajar siswa. Misalkan saat seharusnya guru fokus mengajar dikelas dengan perhatian penuh terhadap belajar siswa, guru harus sembari memikirkan administrasi pembelajaran dan administrasi-administrasi yang lain misalkan tuntutan berkas sertifikasi. Mungkin secara administrasi guru tersebut baik dan disiplin akan tetapi ikatan emosi guru dengan siswa menjadi berkurang. Ikatan emosi guru dengan murid merupakan ruh dalam pendidikan.

Oleh karena itu dalam terminologi Islam guru adalah abu ruh. Ikatan emosi itulah kunci keberhasilan pengajaran. Guru tempo dulu lebih memiliki ikatan emosi yang baik, sehingga siswa menghargai dan ta’dzim terhadap gurunya. Apa yang diajarkan guru akan selalu diperhatikan dan di indahkan. Siswa tidak akan berani terhadap guru apalagi meledeknya meskipun hanya melalui tulisan dalam lembaran kertas jawaban. Karena siswa sadar betul bahwa guru harus dihormati jika ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat dan barokah. Begitulah lain dulu lain sekarang.

Lain dulu lain sekarang, selain problem guru dan siswa adalah problem orang tua murid. Sejak adanya bantuan BOS bagi siswa menyebabkan pendidikan bukan sesuatu yang istimewa. Keberadaan BOS ditanggapi oleh orang tua murid pada umumnya merupakan hal yang meringankan beban hidup mereka. Artinya beban hidup menyekolahkan anak menjadi berkurang. Akibatnya sekolah buakanlah sesuatu yang istimewah.

Dampaknya banyak orang tua yang tidak peduli dengan perkembangan anak disekolah bahkan diluar sekolah. Karena diangggap tidak istimewa dan biasa-biasa saja maka perkembangan belajar anak dibiarkan begitu saja tanpa ada evaluasi dari orang tua. Berbeda saat dulu sebelum ada BOS, siswa masih dibebani SPP yang harus dibayar.

Setidaknya orang tua masih mempertanyakan anaknya perihal sekolahnya karena merasa sudah membayar SPP sehingga orang tua masih menganggap istimewa sekolah anaknya. Di sinilah keseriusan orang tua dalam menyekolahkan tergantikan oleh sekolah gratis sehingga menjadi tidak serius dan sepele.

Lain dulu lain sekarang, peserta didik, guru dan orang tua.

-Penulis adalah Pengurus LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah

Bagikan:

Tinggalkan Balasan