ArtikelOpini

Urgensi Leksikon Ulama Indonesia

Oleh Asmadji As Muchtar

Sejauh ini, belum ada leksikon Ulama Indonesia yang memuat lengkap semua biodata Ulama beserta karya dan kiprahnya, dari semua ormas yang ada dan yang tidak bergabung ke dalam ormas mana pun. Karena itu wajar saja jika sebagian masyarakat bertanya-tanya: Ulama dari ormas mana saja yang menggelar Ijtimak Ulama I, II, III, IV (dan yang mungkin akan digelar berikutnya)?

Ijtimak Ulama yang digelar berulang kali tersebut bernuansa politis. Karena itu, selain ada efek politiknya juga ada efek sosialnya. Tentu sangat naïf jika tidak ada upaya memberitahu masyarakat agar mengenal semua Ulama yang mengikuti Ijtimak. Juga terkesan naif penjelasan Yusuf Martak bahwa Ijtimak Ulama IV diikuti seluruh Ulama Ahlusunah Waljamaah, karena faktanya banyak Ulama Ahlusunah Waljamaah yang tidak mengikutinya.

Harus diakui, ada banyak Ulama Ahlusunah Waljamaah di NU, Muhamamdiyah dan di ormas-ormas lainnya yang tidak pernah mengikuti Ijtimak Ulama tersebut. Tentu juga ada banyak Ulama di luar semua ormas Islam di Indonesia, yang menetap di Indonesia atau di luar negeri. Itu fakta, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan telah bergabung dalam sejumlah ormas yang ada maupun tidak bergabung di ormas mana pun.

Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini relevan diapresiasi oleh Ulama yang menggelar Ijtimak agar dikenal masyarakat. Mungkin jika sudah banyak masyarakat mengenalnya akan berpotensi mematuhinya, sehingga target Ijtimak bisa terpenuhi, kalau memang ada yang ditargetkan.

Layak juga diakui, nama-nama Ulama yang menggelar Ijtimak sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat, tapi mengingat luasnya wilayah dan heterogenitas masyarakat Indonesia, upaya lebih menjelaskan biodata lengkap mereka tetap diperlukan.

Diperbarui
Dalam khazanah literatur keislaman, memang sudah ada beberapa biodata Ulama Indonesia, tapi semua merupakan susunan lama dan sudah lama pula tidak diperbarui. Padahal, Ulama yang sudah tua-tua banyak yang telah wafat dan Ulama yang muda-muda hampir tiap tahun bermunculan. Atau tiap tahun muncul nama-nama baru yang dikenal sebagai Ulama meskipun umurnya tidak muda lagi.

Karena itu, jika leksikon Ulama Indonesia terlengkap bisa disusun, hendaknya selalu terbuka peluang untuk diperbarui atau direvisi secara rutin, misalnya tiap lima tahun sekali. Dalam hal ini, edisi digital mungkin paling ideal, karena mudah diakses dan disebarluaskan dalam jaringan-jaringan media sosial maupun situs-situs komunal.

Dalam memperbarui leksikon Ulama, sebaiknya melibatkan banyak pihak yang kompeten, dan semua data diambil dari tangan pertama, untuk mencegah terjadinya salah input data. Di sinilah pentingnya kesepakatan bersama semua ormas dan Ulama independen untuk sama-sama memberikan data terbaru yang diperlukan.

Sebagaimana kamus yang baik adalah yang memuat semua kosa kata, demikian juga leksikon Ulama yang baik harus memuat semua biodata Ulama beserta karta dan kiprahnya. Satu saja ada biodata Ulama yang tidak masuk dalam leksikon Ulama maka akan mengurangi nilai otentitasnya yang berkaitan dengan kepercayaan publik.

Periodesasi
Leksikon Ulama Indonesia terlengkap dan selalu up to date sebaiknya juga membagi periodesasi kehidupan Ulama yang dicantumkannya. Misalnya, setiap periode memuat biodata Ulama yang hidup dari dekade sekian hingga dekade sekian. Dengan cara demikian akan memudahkan masyarakat untuk lebih mengenal perkembangan keUlamaan di Indonesia.

Bahkan, dalam menyusun periodesasi keUlamaan bisa dibeberkan silsilah setiap Ulama seperti latar belakang keluarga, pendidikan dan guru-gurunya, sehingga bisa menjadi pelajaran penting bagi generasi muda yang berminat menjadi Ulama.

Sistem penyusunan periodesasi mungkin akan membuat leksikon Ulama menjadi sangat panjang atau tebal. Karena itu, leksikon Ulama sebaiknya berjilid-jilid atau berseri-seri. Setiap jidil atau seri bisa memuat satu atau dua periode riwayat Ulama untuk mempermudah masyarakat dalam membacanya dan mengingatnya.

Dari sistem menyusunan periodesasi, akan termungkinkan menyajikan narasi sejarah Ulama yang berkaitan dengan sejarah bangsa, sehingga masyarakat yang membacanya akan bisa lebih jelas mendapatkan gambaran figur Ulama masa lalu hingga masa kini. Hal ini penting untuk menjadi referensi pembuat kebijakan pemerintah, seperti pemberian gelar pahlawan dan lain sebagainya, terutama kepada Ulama masa lalu yang ikut serta berjuang memerdekakan bangsa dan negara dari penjajahan.

Tanpa Diskriminasi
Leksikon Ulama sebaiknya disusun tanpa diskriminasi. Artinya, semua biodata Ulama harus dicantumkan, meskipun dari latar belakang yang tidak disukai oleh penyusun. Bahkan, kalau misalnya ada Ulama yang terlibat terorisme dan kemudian dihukum mati, tetap dicantumkan biodatanya agar masyarakat juga bisa memahaminya.

Semangat tanpa diskriminasi mungkin berlawanan dengan program sertifikasi Ulama yang ada. Dalam hal ini, leksikon Ulama jangan sampai diabaikan oleh pemerintah jika hendak mewujudkan program sertifikasi Ulama. Sebab, jika sertifikasi Ulama ternyata diskriminatif maka kebijakan tersebut akan dinilai masyarakat sebagai kekeliruan yang harus diralat. Pada titik ini, pemerintah harus mengakui telah bersikap diskriminatif.

Karena itu, untuk mencegah kekeliruan dalam memberikan sertifikasi kepada Ulama, kalau program itu betul-betul hendak dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, pemerintah seharusnya lebih dulu menyusun leksikon Ulama lengkap sebagai acuan. Artinya, pemerintah bersama masyarakat akan memiliki acuan yang jelas mana Ulama yang layak menerima sertifikasi dan mana yang tidak.

Satu hal yang bisa dijadikan pedoman untuk mencegah diskriminasi dalam input data leksikon Ulama adalah parameter keulamaan. Dalam hal ini, parameter keulamaan harus disepakati bersama oleh semua pihak, terutama kalangan Ulama itu sendiri.

Mungkin akan terjadi perbedaan tajam dalam merumuskan parameter keulamaan, tapi hal itu jangan sampai menjadi kendala dalam menyusun leksikon Ulama. Sebab, perbedaaan dalam merumuskan parameter keUlamaan justru akan memperkaya penjelasan bernilai ilmiah bagi leksikon Ulama.

Paling tidak, jika perbedaan dalam merumuskan parameter keulamaan dijelaskan dengan detail akan terlihat jelas banyak pandangan yang bersandar pada aliran-aliran mazhab keulamaan yang akan mencerahkan masyarakat. Artinya, masyarakat akan makin mengenal dengan baik setiap Ulama, itulah urgensi substansi nilai leksikon Ulama Indonesia yang perlu segera diwujudkan oleh kolaborasi MUI, ormas-ormas Islam dan Kementerian Agama serta media, karena lazimnya media juga punya banyak data akurat tentang tokoh-tokoh yang layak dikategorikan sebagai ulama.

-Penulis adalah Dekan FIK Universitas Sains Al-Qur’an, Wonosobo, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan